logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 05 Februari 2007 SEMARANG
Line

Persaingan Ketat, Sekolah Perlu Dipasarkan

SEMARANG- Pemasaran atau marketing masih terasa asing, bahkan terdengar tabu bagi dunia pendidikan. Konotasi pemasaran yang kental dengan dunia bisnis, jauh berbeda dengan dunia pendidikan yang penuh idealisme. Namun aktivitas pemasaran secara tidak sadar telah dilakukan dunia pendidikan, seperti mengumumkan penerimaan siswa baru melalui media cetak atau dengan mencetak brosur.

"Dengan persaingan antarsekolah yang semakin ketat, pemasaran sekolah mutlak dilakukan agar sumber daya yang ada baik finansial maupun manusia dapat ditata seefisien mungkin. Caranya dengan merencanakan strategi yang akurat dan tajam," ungkap Direktur PT Ulam Tiba Halim, Harjanto Halim dalam seminar pendidikan dengan tema "Pemasaran Sekolah" hasil kerja sama BKRM dan program MM Manajemen Sekolah Unika Soegijapranata, di gedung Ignatius Unika, Sabtu (3/2).

Hadir pula sebagai pembicara dalam seminar itu adalah staf Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) Thomas Indrajaya dan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Manajemen FE Unika Program MM-MSi, Benedictus Karno Budiprasetyo.

Harjanto menjelaskan, pemasaran sekolah harus dilakukan melalui empat tahap, yaitu segmentasi pasar, target pasar, positioning (kegiatan pasar lebih efektif dan efisien), dan differensiasi (STPD).

Menurut dia, tiga langkah pertama pemasaran sekolah, yaitu STP bisa saja sama-sama dilakukan banyak sekolah. Untuk membedakan diri dibandingkan sekolah lainnya, sekolah harus melakukan differensiasi.

"Differensiasi bisa dipersepsi dan dibutuhkan calon murid beserta orang tuanya. Persepsi itu harus melekat di benak mereka, seperti tingginya tingkat kedisplinan, laboratorium yang hebat, serta para pengajarnya banyak yang mengenyam ilmu dari luar negeri," ungkap pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Pendidikan Nasional Karang Turi itu.

Getok Tular

Setelah differensiasi terbentuk, kata Harjanto, langkah berikutnya adalah melakukan marketing mix yang dikenal dengan 4P yaitu product (produk), price (harga), promotion (promosi), dan place (tempat).

"Untuk menarik minat konsumen, bisa saja sebuah sekolah memberikan contoh proses belajar mengajar kepada calon murid sekitar 1-2 hari. Dengan demikian, mereka telah memiliki bayangan bagaimana kualitas dan fasilitas yang ada di sekolah tersebut," tuturnya.

Masih ada cara pemasaran sekolah yang lebih efektif, yaitu words of mouth (getok tular). "Langkah ini lebih efektif dan dipercaya konsumen. Caranya melalui alumnus dan keluarganya yang merasa puas selama mengenyam pendidikan di sekolah tersebut," ujarnya.

Getok tular dapat dilakukan dengan dua cara, internal (koran kampus dan kalender testimonial) dan eksternal (artikel dosen di media cetak dan internet).(H10-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA