| Senin, 05 Februari 2007 | SEMARANG |
Bangsawan Thailand Terpesona KebayaKEENGGANAN orang untuk memakai kebaya agaknya mulai terkikis. Busana yang sempat dianggap sebagai old style itu, kini makin digemari. Tak hanya orang Indonesia yang meliriknya, tapi juga wanita-wanita dari negara lain. Bahkan kaum bangsawan di Thailand pun terpesona dibuatnya. Kekaguman para bangsawan Negeri Gajah Putih itu terjadi ketika Artika Sari Dewi, mengenakan kebaya pada sesi busana nasional dalam ajang pemilihan Miss Universe 2005. Saking terpesonanya, mereka meminta Artika untuk kembali tampil dengan balutan kebaya rancangan Anne Avantie. "Bahkan salah seorang kerabat kerajaan mengutarakan secara pribadi ketertarikannya akan kebaya,'' ungkapnya dalam talk show bersama Anne Avantie dengan topik ''Membawa Busana Tradisional ke Kancah Internasional'', Sabtu (3/2) di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah. Artika pun mengaku, dirinya merasa lebih nyaman mengenakan kebaya ketimbang gaun-gaun malam yang seksi. Label ketinggalan zaman yang sering diberikan orang tak membuatnya beralih ke busana lainnya. "Sebab, dengan memakai kebaya, saya merasa lebih Indonesia dan juga seksi,'' kata 15 besar finalis Miss Universe itu. Dalam talk show yang dipandu redaktur Edisi Minggu Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo itu, Anne menuturkan pengalamannya sebagai desainer yang mengkhususkan diri pada kebaya. Sebagai desainer kebaya, tak cukup hanya berorientasi pada uang, karena untuk menghasilkan kebaya yang apik, dibutuhkan kecintaan yang mendalam pada busana itu. "Melakukan sesuatu dengan rasa cinta akan menghasilkan karya yang lebih baik daripada sekadar untuk mendapatkan uang. Selain itu juga harus tahu kelebihan dan sadar akan kekurangannya,'' kata wanita berwajah cantik itu. Menurut Anne, kebaya merupakan busana nasional di Indonesia yang paling banyak mengalami perubahan. Tengok saja, kebaya yang dikenakan ibu Fatmawati pada masa itu. Atau kebaya era Dewi Soekarno ketika menerima lamaran presiden pertama RI itu. Belum lagi kebaya rancangan Edward Hutabarat ataupun Ramli. "Perubahan yang terjadi demikian besar. Tetapi yang terpenting dari semuanya adalah apresiasi yang diberikan pada kebaya itu sendiri,'' ujarnya. Peragaan Busana Sementara itu Minggu (4/2) dalam acara Tiara Traditional Weding Expo 2007 tersebut juga diadakan fashion show busana pengantin dari sanggar rias Zahra dan rumah busana muslim Al Fath. Kali ini ada delapan busana koleksi Al Fath yang ditampilkan. "Busana-busana itu terdiri atas dua jenis warna, yaitu shoft dan cerah,'' kata Manager Pusat Perbelanjaan Hasanah Muslim Al Fath, Zulaikhah Mercyarumdani SE. Tema busana pengantin muslim tradisional menjadi pilihan. Kesan tradisional terlihat dari corak batik warna sogan yang dipilih sebagai bawahan. Sebagai atasan, ditambahkan hiasan bulu yang memberi kesan lebih cantik baik pada si pemakai maupun busana itu sendiri. (Roosalina-) |