| Senin, 05 Februari 2007 | SEMARANG |
Momok Banjir BandangAZAN zuhur berkumandang dari corong mikrofon musala Darul Mubarok, Mangkangwetan, Minggu (4/2) siang. Demi mendengar itu, puluhan warga yang tengah bergotong-royong memperbaiki tanggul Kali Bringin yang jebol menghentikan kegiatannya. Mereka lalu menyerbu dapur umum di sebelah musala untuk mengambil jatah makan siang. Namun, tidak demikian dengan Sukaeri (50). Warga Gang Pethek, RT 2 RW 5 itu hanya duduk di tanah dengan tatapan menerawang. Lelaki berkulit legam itu tak bisa tenang. Sesekali dia melirikkan mata ke arah rumahnya yang roboh akibat banjir bandang menyusul jebolnya Kali Bringin, Jumat (2/2) malam. Ya, rumah berbahan papan dan bambu yang selama ini menjadi tempat tinggal keluarganya itu porak poranda. Dindingnya miring, dan genteng pecah semua. Sebagian perabotan rusak tertimbun lumpur dan sampah yang memenuhi bagian dalam rumah. ''Sementara, saya sekeluarga ngungsi di Pondok Pesantren Darul Mubarok. Untuk makan, kami dan warga bergantung pada bantuan,'' kata Sukaeri dengan raut duka. Dia lantas berkisah, banjir yang melantakkan rumahnya itu terjadi selepas Isya. Air deras bercampur sampah dan lumpur menghantam bersamaan dengan jebolnya tanggul di belakang rumah. ''Hujan turun sejak sore, baik di sini maupun di daerah selatan. Menjelang magrib tanda-tanda tanggul jebol sudah terlihat. Saya dibantu beberapa warga mencoba memperkuatnya dengan karung berisi tanah. Tapi sia-sia, dan akhirnya jebol juga.'' Selain rumah Sukaeri, enam rumah warga yang lain di Gang Pethek juga rusak akibat banjir bandang, yakni milik Munadzirin, Sudarso, Sholeh, Abdul Jamil, Slamet, dan Sudiono. Namun kerusakannya relatif lebih ringan. Momok Banjir bandang akibat tanggul jebol menjadi semacam momok bagi warga Mangkangwetan. Tiap kali musim hujan, musibah itu hampir bisa dipastikan datang. Kondisi Kali Bringin yang sempit tak mampu menampung luapan air hujan. Tanggul ringkih buatan warga kerap tak mampu menahannya. Musim hujan kali ini, tanggul jebol sudah terjadi dua kali. Sebelumnya terjadi pada 26 Desember lalu. ''Warga di sini tidak bisa berbuat apa-apa. Satu titik diperbaiki, saat banjir lagi, gantian titik lain yang jebol. Warga mampunya hanya membuat tanggul tradisional dari karung plastik diisi tanah,'' kata Wakil Ketua RT 2 RW 5 Mangkangwetan, M Kasdullah Parmo. Dia menambahkan, warga hanya berharap normalisasi Kali Bringin segera diralisasikan. Sebab, hal itu merupakan kunci untuk mengatasi banjir di Mangkangwetan. Bertahun-tahun normalisasi hanya diwacanakan. Sementara warga tak henti-henti hidup dalam kecemasan. (Rukardi-43) |