| Senin, 05 Februari 2007 | SEMARANG |
Warga Minta Normalisasi Kali Bringin
SEMARANG- Warga Mangkangwetan, Kecamatan Tugu, meminta normalisasi Kali Bringin segera direalisasikan. Hal itu untuk mengatasi banjir bandang yang selalu terjadi di daerah tersebut tiap kali musim hujan. Normalisasi, kata Wakil Ketua RT 2 RW 5 M Kasdullah Parmo, sebenarnya sudah lama direncanakan. Namun karena terbentur pembebasan lahan, hingga kini tak kunjung direalisasikan. ''Saya tidak tahu, sampai di mana proses normalisasi Kali Bringin. Sampai sekarang kok ndak ada kabar.'' Lebih lanjut Kasdullah memaparkan, lebar Kali Bringin di daerah muara lebih sempit dari daerah hulu. Akibatnya, saat hujan deras, tanggul tak mampu menahan tekanan air, hingga meluap ke permukiman dan areal pertambakan. ''Kami berharap normalisasi segera direalisasikan,'' katanya. Lahan yang akan dibebaskan, lanjut dia, berada di sebelah timur sungai. Lahan itu masih berupa areal persawahan. Sebagian milik warga Mangkangwetan, yang lain milik warga dari luar kelurahan itu. Terkait dengan normalisasi sungai tersebut, Wakil Wali Kota Mahfudz Ali juga menyampaikan pandangan senada. Menurut dia, luas penampang Kali Bringin memang sudah tidak mampu menampung air pada saat curah hujan di kawasan hulu tinggi. Kalau tidak dinormalisasi, sewaktu-waktu tanggul darurat yang dibuat warga bisa jebol lagi. ''Mengingat hal itu, apa yang disampaikan Pak Wali beberapa waktu lalu sangat relevan, yakni normalisasi harus segera dilakukan,'' kata Mahfudz, Minggu (4/2). Dia menjelaskan, hingga saat ini belum ada titik temu mengenai harga tanah yang ditawarkan Pemkot dengan keinginan warga. Namun, melihat perkembangan banjir di Mangkangwetan dan sekitarnya, menurut Mahfudz, upaya yang mengarah pada normalisasi harus segera dilakukan. ''Saya sudah menerima laporan dari Pak Lurah, sedang diupayakan untuk sampai pada titik temu. Kalau itu sudah tercapai, saya kira pekerjaan normalisasi bisa dimulai,'' katanya. Banjir Jakarta Mahfudz yang juga Ketua Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) Kota Semarang mengatakan, banjir besar yang melanda Kota Jakarta seminggu belakangan harus menjadi pelajaran. Dia meminta, semua komponen yang terkait dengan penanganan bencana bersiap diri sebelum peristiwa serupa terjadi di Semarang. ''Persiapan harus dilakukan di berbagai lini, mulai dari mekanisme distribusi logistik, tempat pengungsian, hingga kesigapan petugas. Saya melihat, ketiga hal itu menjadi problem pada penanganan banjir di Jakarta,'' katanya. Pada saat yang sama, Mahfudz mengimbau warga yang tinggal di bantaran sungai untuk selalu waspada. Begitu juga lurah dan camat yang di wilayahnya terdapat permukiman di bantaran sungai. ''Sebab, banjir bisa datang sewaktu-waktu. Lagipula, banjir tidak pilih-pilih, kalau sudah datang, siapa pun yang di dekatnya pasti akan tersapu.'' (H9-43) |