logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 Februari 2007 NASIONAL
Line

budaya Wayang Wanda Dalang Karya Ki Enthus

Melihat Dalang dalam Dunia yang Pipih


SM/Wisnu Kisawa TUNJUKKAN WAYANG:Ki Enthus Susmono menunjukkan wayang karya terbarunya wanda dalang di rumahnya Bengle, Adiwerna, Tegal.(30)

Ki Dalang Enthus Susmono menciptakan kreasi baru dalam dunia pewayangan. Bukan wayang kulit seperti yang ia geluti selama ini. Inilah laporannya.

SEPINTAS, boneka wayang berupa tokoh Bima itu tak beda jauh dengan Bima pada umumnya. Namun jika dicermati, ternyata tidaklah sama. Gestur tubuhnya ada yang berubah. Tangannya lebih pendek tidak sebatas mata kaki, lalu bentuk wajah juga lebih proporsional serupa wajah manusia tampak dari samping.

Itulah Bima dalam versi karya terbaru dalang asal Tegal, Ki Enthus Susmono. Namun karya seni dari hasil tatah sungging itu tak semata mengungkapkan tentang tokoh Bima saja. Pada sisi yang lain, guratan tatahan kulit kerbau yang diberi warna dan membentuk karakteristik tokoh tersebut juga menggambarkan tentang diri Ki Enthus sendiri.

Bima yang sekaligus juga gambaran dari Ki Enthus sendiri? Lalu, wayang apa itu? Wayang wanda dalang, demikian karya itu kemudian dinamakan. Hasil kreatifitas terbaru dari dalang yang selama dikenal cukup 'bengal' dalam menggelar kelir tersebut. Namun sekaligus juga memiliki daya estetika tinggi seperti saat menjadi juara dalam lomba dalang se Indonesia beberapa waktu lalu.

Tentu saja jenis wayang yang kini tengah digarap, dan dalam waktu ke depan akan dipamerkan, itu bukan hanya tokoh Bima saja. Karena di luar itu juga masih banyak tokoh lain yang juga menggambarkan tentang wajah dan tubuh banyak dalang yang lain pula.

''Ada 60 tokoh dari 60 dalang yang akan saya jadikan pijakan untuk membuat wayang wanda dalang. Lima belas di antaranya, kini sudah jadi. Sedang yang lain kini masih dalam proses pembuatan,'' ujar dia saat ditemui di rumahnya, Desa Bengle, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal baru-baru ini.

Menariknya, dalam menentukan penokohan, Ki Enthus berharap agar dalang tidak memandang dari sisi hitam putih tentang baik buruknya karakter tokoh. Pasalnya menyangkut hal tersebut, juga cukup banyak versi dimana tokoh yang jahat tiba-tiba menjadi baik di wilayah yang berbeda. Dia berharap para dalang bisa menerjemahkan dengan cerdas atas karyanya tersebut.

''Dan lagi, saya tegaskan ini bukan bermaksud apa-apa. Karena ini murni karya dalam wilayah seni yang tanpa tendensi apa pun. Saya hanya mencocokkan anatomi atau pun gestur tubuh dalang lalu disesuaikan dengan bentuk tokoh wayang tertentu,'' tandas Ki Enthus.

Proses Lumayan

Meski mengaku hingga sekarang masih belum ada kendala yang berarti, namun mulai dari ide hingga proses pengkaryaannya juga tidaklah mudah untuk dilakukan. Pasalnya menurut penuturan di Enthus juga membutuhkan tahapan-tahapan yang akan berbeda jika dibandingkan dengan membuat wayang seperti pada umumnya.

''Paling tidak, saya harus melakukan dokumentasi tubuh dan wajah para dalang sebelum dibuat gambar sketsa. Dari sketsa baru kemudian masuk ke tahapan tatah sungging,'' jelasnya.

Saat tengah melakukan dokumentasi (pemotretan) terhadap para dalang itulah, Ki Enthus kemudian sekaligus juga memanfaatkannya untuk memohon izin. Apakah sekiranya bersedia jika dijadikan sebagai tokoh tertentu yang sesuai dengan gestur tubuh dan wajah sang dalangnya.

''Ternyata hampir semua dalang tidak menolak ketika saya menyodorkan nama tokohnya,'' tandas Ki Enthus lagi.

Selain itu dalam hal tatah sungging juga harus menggunakan pendekatan yang berbeda pula. Pasalnya baik detil tatahan atau pun pulasan-nya harus menyesuaikan dengan bentuk wayang yang baru. Sehingga dalam proses pembuatannya juga akan menjadi berbeda, terlepas dari sedikit atau banyak perbedaan itu.

Kini di rumah dalang tersebut, tak kurang 60 dalang yang berasal dari berbagai daerah (bahkan ada yang tinggal di Jakarta) telah didokumentasikan dalam bentuk foto diri. Kecuali 15 tokoh wayang yang sudah jadi, sebagian besar bahkan juga sudah dialihrupakan dalam bentuk gambar sketsa.

''Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa selesai. Sehingga bisa segera saya pamerkan,'' ujarnya seraya mengatakan bahwa pameran pasti akan dilakukan.

Lantas bagaimana dengan tanggapan para dalang? Ki Purba Asmara yang juga dikenal sebagai salah satu dalang muda yang mumpuni di Kota Solo tak mau berkomentar banyak. Namun demikian, dia mempersilahkan sepanjang pendekatannya tetap dalam batas murni sebagai karya. Bukan disertai dengan maksud yang lain.

''Tapi memang benar, jika dalam hal membuat sesuatu yang menarik dan sensasi dia memang jagonya,'' ujar Ki Purba Asmara.

Sementara dalang sentana dalem di Keraton Surakarta, Ki GPH Benowo, secara umum dirinya tidak keberatan ditokohkan dalam karya rupa anak wayang sebagai tokoh yang antagonis sekalipun. Karena, kalaupun keberatan dan menolak, tentu dirinya tidak bisa berbuat banyak.

Dia menganalogikan, kalau Ki Enthus menokohkan Presiden SBY sebagai salah satu tokoh anak wayang, tentu tidak bermasalah juga. Termasuk tokoh-tokoh terkenal lain di negeri ini. Hanya saja, persoalannya akan digunakan atau untuk tujuan apa penciptaan wayang wanda dalang itu?

''Saya masih bertanya-tanya soal itu. Sebaiknya memang Enthus harus audiensi kepada masing-masing dalang, agar pada padhange dan tidak ada ganjelan. Dan saya tetap berpikir positif, gagasan itu untuk tujuan yang positif pula.''

Demikianlah, cukup beragam memang tanggapan para dalang. Namun terlepas dari itu, proses karya tersebut juga tetap akan dipertahankan sekaligus akan direalisasikan hingga tuntas oleh Ki Enthus Susmono. Sehingga ketika dipamerkan, masyarakat bisa melihat para dalang dalam dunia yang pipih yakni dalam gambaran wayang. (Wisnu Kisawa, Won Poerwono-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA