logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 27 Januari 2007 SEMARANG
Line

Lindu Aji Jadi Tumpuan Cabang Wushu

SEIRING maraknya pertandingan olahraga beladiri dalam bentuk fighting, yang pernah ditayangkan langsung oleh televisi RCTI dan TPI di awal tahun 2001, saat itu pula Sasana Lindu Aji Semarang mulai berkiprah.

Tak pelak, makin populernya arena perkelahian bebas tanpa alat pelindung itu, di Kota Semarang bermunculan sasana-sasana baru. Hal itu karena peserta fighting seperti ditayangkan TV swasta tersebut, bisa diikuti oleh petarung-petarung dari berbagai disiplin ilmu bela diri. Termasuk dari atlet karate, judo, tinju, gulat, dan pencak silat.

Setidaknya, kala itu ada tujuh sasana yang berdiri. Selain Lindu Aji, terdapat nama Sasana Lincah, Inti Tectona, Gelora Massa, Masa AM, Satria Mas, maupun Sasana Mahesa Jenar. Tetapi ketika acara pertandingan full body contact di dua televisi swasta itu terhenti sekitar 2004, kini yang masih eksis tinggal Sasana Lindu Aji yang dirintis oleh Ichwan Ubadillah.

Terbukti, begitu tayangan di TV usai, sasana tersebut yang dibina trio pelatih, Iwan A Cahyadi, Gunawan Wijaya, dan Heri Guntar ini langsung membuat kalender fighting nasional yang belum pernah terhenti selama enam tahun. Pada tahun ini akan dilangsungkan di Kudus, dengan label 'Piala Tamzil' pada 7 Maret mendatang.

Disamping masih aktif membina fighting, pada tahun itu pula, sasana tersebut hari Selasa (23/1) melangsungkan HUT Ke-6 di RM Majesty, mulai mengalihkan perhatiannya ke cabang olahraga wushu nomor sanshou. Sebab, pertandingan sanshou tidak jauh berbeda dengan fighting sehingga cara membinanya tinggal melakukan pematangan saja.

"Pertandingan nomor sanshou, tidak jauh beda dengan fighting. Keduanya sama-sama perkelahian bebas. Hanya bedanya, sanshou masih menggunakan alat pelindung dan tidak boleh menendang lawan dengan lutut," jelas pelatih Iwan Cahyadi.

Andalan Wushu

Jika dilihat kelengkapan latihan, yang didukung pelatih-pelatih yang memiliki disiplin bela diri berlainan, sangat memungkinkan sasana di Kampung Karanggeneng Selatan II Semarang ini bisa berkembang baik. Peralatan latihan cukup lengkap di sasana seluas 250 meter persegi itu.

Iwan sebagai pelatih kepala merupakan mantan karate kyokushin, sehingga tidak asing lagi dengan pertandingan full body contact.

Begitu pula dengan Gunawan Wijaya. Selain karateka Kyokushin, dia juga pernah menekuni bela diri judo, terbukti lolos dari babak kualifikasi PON XIV. Sementara Heri Guntar, merupakan mantan petinju nasional yang meraih medali perak kelas 57 kg pada SEA Games 1987 di Jakarta.

Sekarang, hasil polesan trio pelatih ini sudah terbukti di Kejuaraan Wushu Semarang Open di Kota Semarang Agustus lalu. Bahkan di Kejurnas Wushu di Surabaya 20-23 Desember lalu. Jateng berhasil mempertahankan gelar juara umum, di nomor sanshou.

Terakhir di Surabaya lalu, dari lima medali emas yang direbut Jateng, empat medali diantaranya disumbangkan oleh petarung - petarung Lindu Aji. Begitu hebatnya, sampai terjadi all final Jateng, yaitu petarung M Slamet harus ketemu Tarjuman di kelas 60 kg pada partai puncak.

Tak salah lagi, kalau sasana yang sudah terbukti kualitasnya ini, selalu dipercaya oleh Pengurus Provinsi (Pengprov) Wushu Indonesia (WI) Jateng untuk membina atlet-atlet terbaik, yang dipersiapkan ke PON XVII Kaltim pada 2008. "Sekarang, nomor sanshou menjadi andalan Jateng sehingga pembinaannya kami serahkan ke Sasana Lindu Aji," jelas Sekum Pengpov WI Jateng, Drs Sudarsono. (Mundaru Karya-56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA