logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 26 Januari 2007 WACANA
Line

Bencana dalam Tinjauan Teologi

  • Oleh H Ibnu Djarir

Tuhan menciptakan hukum alam (sunnatullah), serta mengetahui segala sesuatu yang terjadi dan akan terjadi di alam ini, sampai yang sekecil-kecilnya. Segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi.

BAGI penduduk Indonesia yang hidup di tiga zaman, kiranya bisa membandingkan bahwa baru dalam beberapa tahun terakhir inilah bangsa kita "dihujani" dengan berbagai macam musibah, seperti tsunami, gempa bumi, tanah longsor, lahar gunung berapi, kekeringan, banjir bandang, lumpur panas, dan kecelakaan (kapal laut, pesawat terbang, KA, dan kendaraan darat).

Banyak orang geleng-geleng kepala: Kenapa bangsa kita berturut-turut mengalami musibah bencana alam yang silih berganti ? Orang-orang beragama yang terbiasa berpikir tentang pahala, dosa, dan siksa, akan berpikir dan bertanya-tanya apa dosa dan kesalahannya sehingga harus mengalami penderitaan yang berat dan berturut-turut ?

Segera para pemuka agama memberikan penjelasan, nasihat, atau tausiah kepada umatnya melalui pengajian-pengajian, ceramah-ceramah agama, dan khotbah-khotbah, yang tujuannya untuk menghibur mereka yang menjadi korban musibah agar tetap sabar, tabah, dan penuh harapan akan pertolongan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.

Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang religius, pada umumnya bisa menerima penjelasan-penjelasan yang bersumber dari dalil-dalil agama (teologi), meski dalam hatinya mungkin terselip rasa kebimbangan.

Dalam batin, mereka mempertanyakan di mana posisi Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Adil, berhadapan dengan bencana-bencana tersebut ? Sebagian yang lain, yang tipis rasa keagamaannya, mungkin saja berpikir, mengapa Tuhan membiarkan saja manusia mengalami penderitaan yang demikian berat ? Benarkah Tuhan Maha Kuasa ? Mungkin juga ada yang berpikir, apakah Tuhan benar-benar ada ?

Bagi orang-orang yang beriman, bencana alam itu tidak membuat mereka makin menjauh dari Tuhan, tapi justru membuat makin mendekat kepada Tuhan, memohon pertolongan-Nya, dan melakukan introspeksi atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan bertanya kepada diri sendiri, apakah telah berbuat sesuatu yang melanggar perintah-Nya?

Terbukti, orang-orang yang dilanda musibah tersebut pada umumnya tetap mengamalkan ibadah, meski di tempat-tempat darurat dan dalam kondisi kekurangan bahan makanan.

Tinjauan Teologis

Secara garis besar, pandangan manusia tentang keberadaan alam semesta ini dapat dibagi dalam dua golongan. Pertama, mereka yang menganut paham naturalisme, yang berpendapat bahwa yang ada di dunia ini hanyalah alam semesta. Di luar alam tidak ada apa pun. Tidak ada Tuhan, malaikat, surga, neraka, dan sebagainya. Alam terjadi dengan sendirinya secara kebetulan. Alam berjalan menurut hukum alam. Bencana alam adalah peristiwa alam, yang terjadi karena sebab dan akibat alami, yang dapat dianalisis secara ilmiah. Bencana alam tidak ada hubungannya dengan moral manusia.

Kedua, mereka yang menganut paham supernaturalisme, yang berpendapat bahwa di luar alam ada Tuhan, yang menciptakan alam dan yang mengintervensi terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Paham itu juga mengakui adanya mukjizat, yaitu suatu kejadian yang diciptakan oleh Tuhan, yang menyimpang dari hukum alam. Terjadinya bencana alam tidak lepas dari maksud-maksud tertentu dari Tuhan. Agama (teologi), termasuk dalam pola pikir supernaturalisme. Dalam teologi terdapat beberapa konsep pandangan (kepercayaan) tentang Tuhan.

Di antaranya deisme, ialah pandangan (kepercayaan) bahwa Tuhan adalah Pencipta alam semesta. Tetapi setelah alam tercipta, Tuhan meninggalkannya dan alam berjalan sendiri menurut hukum alam yang diciptakan-Nya. Dengan demikian, terjadinya bencana alam tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan.

Lalu monoteisme, ialah pandangan (kepercayaan) bahwa Tuhan adalah Esa dan Pencipta alam semesta. Tuhan menciptakan hukum alam dan melakukan intervensi terhadap perjalanan alam semesta. Dengan demikian, dalam proses terjadinya bencana alam ada intervensi dari Tuhan yang mempunyai maksud-maksud tertentu.

Berikutnya dualisme, ialah pandangan (kepercayaan) bahwa ada dua tuhan yang mengendalikan alam. Seperti dalam agama Zoroaster, ada Ahura Mazdah (Dewa Kebaikan) dan Angra Mainyu (Dewa Kejahatan ), yang keduanya selalu bersaing. Jika pada suatu saat Angra Mainyu menang, di muka bumi bertebaran kejahatan atau situasi yang buruk, seperti peperangan, kelaparan, wabah penyakit, dan bencana alam. Maka para pemeluk agama Zoroaster harus memperbanyak kebaktian dan sesaji untuk memperkuat Ahura Mazdah.

Kemudian Politeisme, ialah paham (kepercayaan) bahwa terdapat banyak dewa yang menguasai alam semesta, dan tiap-tiap dewa mempunyai lapangan tugas atau wilayah kekuasaannya masing-masing. Jika pada suatu saat terjadi tsunami, para pemeluk agama tersebut harus memperbanyak kebaktian dan mempersembahkan sesaji kepada Dewa Laut.

Pandangan Islam

Menurut pandangan Islam, alam semesta ini tidak terjadi dengan sendirinya, tapi diciptakan oleh Allah swt. Kalau alam terjadi dengan sendirinya, niscaya kacau balau dan tidak ada keteraturan di dalamnya. Tuhan menciptakan hukum alam (sunnatullah), serta mengetahui segala sesuatu yang terjadi dan akan terjadi di alam ini, sampai yang sekecil-kecilnya. Segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi.

Bencana alam yang terjadi adalah akibat ulah tangan-tangan manusia; baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang secara langsung, misalnya karena orang-orang menggunduli hutan, terjadilah banjir bandang. Dalam Alquran Surat Ar-Rum Ayat 41 disebutkan: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar".

Yang tidak secara langsung antara lain berbuat kejahatan dan kemaksiatan, seperti perzinaan (prostitusi), percabulan, perjudian, minum minuman keras, pencurian (korupsi), penyalahgunaan napza, dan kezaliman. Bila perbuatan itu sudah merajalela akan mengundang datangnya bencana. Dalam hadis yang diberitakan oleh Ummu Salmah, Nabi Muhammad saw bersabda: "Jika kemaksiatan yang dilakukan oleh umatku semakin jelas ( terbuka ), maka Allah swt akan menimpakan azab kepada mereka semua".

Ummu Salmah bertanya: "Apakah termasuk kepada mereka yang saleh ?" Nabi menjawab: "Ya, tentu". Jadi, jika bencana alam menimpa suatu daerah, semua penduduk di daerah itu terkena musibah, tidak membedakan antara yang saleh dan yang jahat. Mengapa orang-orang yang taat kepada Tuhan juga terkena musibah ? Karena di pundak orang-orang yang saleh itu terdapat kewajiban melaksanakan amar makruf nahi munkar agar penduduk di daerahnya menjauhi kejahatan dan kemaksiatan.

Bencana alam itu salah satu bentuk musibah. Musibah adalah suatu peristiwa atau keadaan yang menimpa seseorang atau sekelompok orang; ada yang bersifat menyenangkan, ada pula yang bersifat menyusahkan. Yang menyenangkan, misalnya seorang yang semula menjadi sopir bus kemudian menjadi pengusaha angkutan yang memiliki banyak bus. Dengan musibah yang berupa peningkatan kekayaan itu, orang akan diuji apakah makin dekat dengan Tuhan atau makin jauh ? Itu merupakan cobaan dari Tuhan. Sebaliknya, ada orang yang semula pengusaha kaya raya, kemudian bangkrut sehingga menjadi orang miskin. Dengan musibah yang berupa kemiskinan itu, apakah dia makin dekat dengan Tuhan ataukah makin jauh ?

Menurut pandangan Islam, musibah itu bisa merupakan cobaan, peringatan, bisa pula berupa azab.

Karena itu, manusia hendaknya bisa mawas diri dan merenung, adakah kaitan antara musibah tersebut dengan perilaku mereka, untuk kemudian mereka memperbaiki perilakunya. Allah swt berfirman dalam Alquran Surat AI-Baqarah Ayat 155: "Dan sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan sesuatu cobaan seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan ( bahan makanan ). Namun gembirakanlah orang-orang yang bersabar".

Dengan demikian, jika manusia mendapat musibah hendaknya mereka bersabar, dalam arti tabah, tegar, tahan uji, tidak putus asa, serta terus berikhtiar mengatasinya dengan penuh harapan atas pertolongan Allah swt.(68)

--- Drs H Ibnu Djarir, Ketua MUI Provinsi Jawa Tengah


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA