| Jumat, 26 Januari 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAHidup di Bawah Ancaman Penyakit- Ada dua jenis penyakit yang sekarang sedang mengancam kehidupan masyarakat Indonesia. Demam berdarah dengue (DBD) dan flu burung. Korban pun telah berjatuhan.Tidak kecil jumlahnya. Berbagai upaya telah dan tengah dilakukan. Di Jakarta bahkan diberlakukan aturan unggas tidak boleh berada di pemukiman penduduk. Di samping berbagai langkah telah dilakukan seperti misalnya penyemprotan desinfektan untuk pembunuh virus, pemusnahan unggas yang diduga telah terjangkit penyangkut, vaksinasi terhadap sejumlah besar unggas di peternakan, dan sebagainya. Meski pun berbagai langkah telah ditempuh, korban masih tetap berjatuhan. Inilah yang membuat pemerintah kewalahan. - DBD juga telah menyebarkan ancaman yang sangat serius. Sejumlah korban di berbagai daerah berjatuhan. Ada kabar, gejala DBD semakin kurang dikenali karena agak berbeda dengan gejala-gejala periode sebelumnya. Masyarakat juga telah diimbau untuk melakukan berbagai langkah terutama menyangkut upaya memutus jaringan penyebaran dengan hidup lebih bersih dengan mengurangi populasi nyamuk. Tetapi, siapa bisa mengurangi populasi nyamuk ? Pagi, siang dan malam hari setiap rumah tangga telah mencoba untuk membunuhnya dengan berbagai cara, tetapi toh seolah populasi tidak berkurang. Dan, setiap musim penghujan tiba, DBD menjadi ancaman yang paling serius. - Dengan keadaan semacam itu, kehidupan masyarakat sebenarnya berada di bawah ancaman dan bayang-bayang penyakit aneka ragam. Bukan hanya DBD dan flu burung. Makanan dan minuman yang tidak higienis berpotensi mengundang dan merusak organ tubuh. Dari udara yang tidak bersih diserap aneka ragam virus, dari air yang tidak bersih terhinggap aneka ragam penyebab penyakit kulit. Setiap tubuh manusia Indonesia kini telah berada dalam ancaman serius berbagai penyakit yang datang dari banyak penjuru. Sementara itu, setiap kali melangkah bepergian ternyata juga di bawah ancaman kecelakaan, baik di udara, laut maupun darat. Sebuah keadaan yang benar-benar mengenaskan. - Kehidupan yang berada dalam bayang-bayang penyakit dan kecelakaan tentu saja jauh dari indah. Satu keluarga tiba-tiba harus berhenti kehidupannya ketika seluruh anggotanya meninggal karena flu burung. Sementara itu, seorang ibu sangat bersedih ketika beberapa anaknya berada di rumah sakit karena semua terkena DBD. Dan, ketika terlambat ditangani, maut telah mengancamnya. Kita saksikan ini dengan sedih, dan apakah keadaan ini bisa berhenti dalam sekejap ? Meski pun berbagai cara telah ditempuh, tetapi tampaknya penyakit tak juga segera lenyap. Setiap berganti musim, aneka ragam penyakit datang mengancam. Dan, korban pun berjatuhan. - Kemiskinan berdekatan dengan kesehatan, Semakin tinggi taraf hidup masyarakat, semakin tinggi derajat kehidupan dan kesehatannya. Sekaligus harapan hidup menjadi lebih panjang. Mereka yang kebetulan miskin mengkonsumsi jenis-jenis makanan yang terbatas baik secara kualitas maupun kuantitas. Keadaan ini tentu saja tidak bisa memperkukuh tubuh fisik, dan sekaligus mempengaruhi tubuh-tubuh yang lain seperti tubuh mental, vital, maupun tubuh intelektual. Akibatnya, sangat rentan terhadap berbagai gangguan penyakit baik penyakit tubuh maupun penyakit masyarakat. Maka, kemiskinan yang terlalu seperti yang terjadi saat ini sangat rawan bagi keberlanjutan sebuah kehidupan. - Keadaan ini harus diubah dengan tindakan-tindakan merevolusi tata cara dan gaya hidup masyarakat menuju kehidupan yang lebih bersih dan lebih sehat. Lebih bersih terhadap lingkungan dekat, terutama lingkungan rumah dan sekitarnya. Seluruh akses yang diperkirakan bisa mempengaruhi berkembangbiaknya nyamuk harus dibersihkan. Tetapi bersih saja tidak cukup karena harus pula diimbangi dengan kehidupan yang lebih sehat. Dalam arti, sehat dalam makanan maupun perilaku. Masyarakat yang dimotivasi dan difasilitasi pemerintah harus merevolusi dirinya sendiri untuk bisa memilih hidup lebih sehat dan bersih agar kehidupan senantiasa bisa dijaga keberadaannya. |