| Jumat, 26 Januari 2007 | KEDU & DIY |
Pertanian Bernilai Komersial DigalakkanMAGELANG-Tidak memiliki lahan yang luas, bukan jaminan tidak bisa mengembangkan bibit tanaman produktif maupun tanaman hias. Mengembangkan komoditas bibit pertanian yang memiliki nilai komersial tinggi, sekarang sedang digalakkan Dinas Pertanian Kota Magelang, melalui laboratorium kultur jaringan. ''Fungsi laboratorium ini adalah memproses atau mempercepat komoditas pertanian yang nilai komersialnya tinggi seperti bibit pisang kepok kuning, pisang raja, panili, kentang dan lainnya. Untuk tanaman hias yang dikembangkan antara lain adenium, aglonema dan antarium. Sepertinya untuk Pemkot se-Indonesia, baru Kota Magelang yang memilikinya,'' kata Kepala Dinas Pertanian, Bambang Sartono. Alasan membangun laboratorium dengan biaya Rp 300 juta dari dana alokasi khusus, setelah mengetahui kebutuhan bibit seperti pisang di berbagai daerah sangat kurang. ''Bibit yang kami produksi nanti untuk memenuhi kebutuhan daerah yang masih kekurangan. Demikian bibit-bibit lainnya,'' kata sarjana Fakultas Peternakan Undip Tahun 1985 itu. Untuk pembibitan pisang menggunakan bahan bogol pisang buangan (yang tidak terpakai). Melalui laboratorium kultur jaringan dari bonggol tadi bisa dibuat bibit dalam jumlah banyak. Ini berbeda dengan cara alami, satu tunas pohon pisang untuk satu pohon. Demikian halnya untuk bibit panili, kentang dan tanaman lainnya. Di dalam laboratorium yang steril dengan suhu tertentu, proses pembibitan pisang minimal enam bulan. Setelah itu dilakukan aklimatisasi dari dalam ke luar ruangan (green house) agar bisa menyesuaikan dengan suhu di alam bebas dan keadaan lingkungannya. Tahun 2007 sebagai tahap awal, tambah mantan Sekretaris Bappeda Kota Magelang itu, selain pisang akan dikembangkan panili dan tanaman hias. ''Kami bekerja sama dengan berbagai pihak khususnya Fakultas Pertanian UGM serta sentra bibit. Seperti kentang granola I dan granola II kerja sama dengan pembibitan kentang Jateng di Kledung,'' ujarnya. Areal green house saat ini masih kosong, karena proses pembuatan bibit di laboratorium kultur jaringan baru akan dimulai. Mengisi kekosongan itu, kata Kepala UPTD Hortikultura Dinas Pertanian, Dandhung Widiyoko, areal itu digunakan untuk mengembangkan tanaman melon. ''Saat ini umur tanaman baru 12 hari. Panen dilakukan pada umur tiga bulan. Satu pohon menghasilkan dua buah dengan berat masing-masing 1 1/2 kg. Program ini kerja sama dengan Know You Seed Singapura,'' tuturnya. Menurutnya, ini merupakan uji coba, karena Kota Magelang dijatah oleh pihak ketiga untuk mengirim buah melon 5 ton setiap minggunya. (P60-42) |