logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 26 Januari 2007 BANYUMAS
Line

Isu Pemusnahan Unggas Resahkan Peternak

CILACAP- Pemusnahan unggas di berbagai daerah yang diikuti isu akan ada pemusnahan secara nasional oleh Menteri Kesehatan, membuat peternak dan pedagang unggas di Kabupaten Cilacap resah. Mereka pun mengadukan hal itu ke DPRD.

Wakil Ketua DPRD Cilacap Hj Sri Indiatun Sukardi mengatakan, akhir-akhir ini pihaknya menerima banyak pengaduan dari peternak unggas. Mereka mengaku resah atas isu pemusnahan unggas secara nasional.

"Banyak peternak yang menanyakan kebenaran isu tersebut. Sebab, sebagian besar peternak resah dan keberatan terhadap pencanangan program pemusnahan unggas nasional," jelasnya. "Alasannya, mereka akan kehilangan sumber penghidupan. Sementara kasus flu burung itu sampai kini belum pernah terjadi di Cilacap," tambahnya.

Menurut dia, bila kebijakan pemusnahan unggas benar-benar diwujudkan, akan timbul persoalan sosial yang cukup pelik. Masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil beternak unggas bakal kehilangan sumber mata pencaharian. Bahkan, mungkin saja daging akan langka.

"Kalau sampai daging ayam langka, berarti Indonesia akan menjadi negara pengimpor daging ayam," ujarnya.

Untuk menangani kasus flu burung, sebaiknya pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan melakukan tindakan preventif yang tidak merugikan masyarakat.

Kebersihan Kandang

Tindakan tersebut dapat berupa penyuluhan tentang arti penting menjaga kebersihan kandang unggas, pemberian vaksinasi, penyemprotan disinfektan, mengawasi dan memperketat lalu lintas unggas antardaerah.

"Peternak kita perlu membuat kandang unggas yang jauh dari rumah dan mengembalikan pakan unggas kita ke pakan alami. Jangan mengandalkan pakan buatan," kata Hj Sri Indiatun Soekardi.

Pedagang ayam di Pasar Gede Cilacap, M Mulyana, mengaku resah semenjak merebak isu pencanangan pemusnahan unggas nasional. Dia berharap pemerintah tidak melakukannya.

"Kalau sampai dicanangkan pemusnahan unggas secara nasional, saya dan istri akan kehilangan mata pencaharian sehari-hari sebagai pedagang ayam. Padahal, pekerjaan ini sudah kami tekuni selama bertahun-tahun," katanya.

Menurut dia, merebaknya isu flu burung saja sudah membuat omzet pesanan dagangannya turun sampai 20 persen lebih. Pada hari biasa terjual antara 60 sampai 70 ekor per hari. Tapi setelah isu flu burung merebak lagi, sehari hanya bisa menjual antara 40 sampai 50 ekor.

"Penurunan itu membuat keuntungan yang kami peroleh menjadi sedikit. Apabila ada pemusnahan unggas secara nasional, berarti saya harus membuka usaha dari nol lagi. Hal itu tentu sangat memberatkan saya, terutama dari sisi permodalan dan pemasaran," kata Mustangin.(ag-66)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA