logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Januari 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Sinetron Peradilan

Setiap kali terjadi kasus yang melibatkan orang penting (public figure), episode pertama adalah rumah sakit. Dengan tiba-tiba aktor hebat ini mengaku terserang penyakit, apa pun jenisnya. Episode selanjutnya bisa ditebak, si pengacara mulai gerilya mengatur siasat agar jagoannya luput dari jerat hukum.

Dia akan mencari kelemahan dari dakwaan yang diarahkan kepada kliennya. Di sinilah jurus yang kadang tak masuk akal bisa keluar. Dalam episode ini kadang jaksa dan hakim pun masuk perangkap. Lubang setitik pun akan menjadi jalan lempang bagi pesakitan berduit. Inilah dagelan yang memuakkan.

Kebenaran kadang dipenjarakan dan kebatilan justru bebas melenggang. Yang Iebih menyedihkan para aktornya adalah orang yang mestinya menegakkan hukum itu sendiri. Luar biasa. Tapi bagaimana bila hukum berhadapan dengan orang kecil tak berduit ? Dia begitu gagah berani dan tajam bahkan berkesan kejam.

Orang lemah macam ini hanya menjadi beban sehingga mesti secepatnya dieksekusi. Inilah kenyataan pahit dari rakyat yang selalu menjerit. Mereka menumpahkan sumpah serapah pada kenyataan hidup, bahwa keadilan hanya milik segolongan orang. Hukum tak berpihak pada keadilan.

Andai pujangga besar Ronggowarsito masih hidup, pasti akan manggut-manggut, karena yang digambarkan sebagai zaman edan telah tiba. Tapi beliau juga telah memberi penawarnya dengan eling Ian waspada. Karena pada hakikatnya orang yang demikian itu telah lupa pada tujuan hidup.

Gemerlap dunia telah memalingkan nuraninya. Pada akhirnya kebeningan nuranilah yang akan mampu menghentikan semuanya. Selamat datang zaman edan, selamat melumat waktu.

Kasimin

Jl Ngesrep Brt III Rt 2/Rw 9, Semarang

***

Gonjang-ganjing

Pupuk Bersubsidi

Kebijakan impor beras diyakini menyakiti petani. Di sisi lain, kenaikan harga beras yang mencapai 45% juga tidak mampu menolong petani karena mereka tidak hanya menjadi produsen tetapi juga sebagai konsumen.. Petani di Jawa 74,90% hanya mengolah lahan kurang dari 0,5 hektare bahkan sebagian hanya buruh tani.

Selain fragmentasi lahan, produktivitas menjadi persoalan utama yang terabaikan. Tetapi isu kenaikan produktivitas pertanian berkesan belum membangkitkan perhatian para penentu kebijakan pertanian. Kepemimpinan nasional sudah berlangsung 2 tahun, tetapi janji merestrukturisasi bidang pertanian belum tampak nyata.

Malah dia selalu berpihak pada para pengusaha di bidang agribisnis dan agroindustri. Wakil rakyat berkesan hanya mementingkan diri sendiri dengan berjamaah menaikkan penghasilan, wisata berbungkus studi banding, malas masuk kerja, selingkuh, umbar janji maupun pernyataan dan sebagai robot bayaran.

Mana keberpihakan ke para petani?. Mohon wakil rakyat yang masih punya hati nurani, bisa menciptakan UU pertanian secara komprehensif dan berkeadilan, sehingga para petani bisa menikmati kesejahteraannya. Ingat, angka kemiskinan sangat fantastis mencapai 17,75% penduduk atau 39,05 juta orang,

Mengawali tahun 2007, sektor pertanian masih menjadi gantungan hidup 60% penduduk, masih berkutat dengan beragam persoalan. Di antaranya keterbatasan pasokan pupuk, tarik ulur kenaikan harga pupuk, kenaikan harga beras dan kebijakan impor beras yang berkelanjutan.

Kelangkaan pupuk sudah lama terasa di daerah Brebes, Tegal, Demak, dan Grobogan, akibat terjadinya permainan harga. Bahkan menurut harian ini bulan Januari 2007 harga pupuk melonjak karena musim tanam yang mundur. Saya sebagai anak petani merasa prihatin.

Ada asosiasi yang menjual pupuk majemuk tabur. Pupuk yang teruji selama 10 tahun, berstandar SNI, irit dan harga terjangkau mengandung unsur hara makro dan mikro serta cocok untuk segala tanaman. Pemupukan lahan seluas I hektare tanaman padi butuh 25 kg pupuk.

Agus Sugiyanto

Jl. Bukit Kelapa Sawit II/AI-16, Semarang

***

Bankers BUMN

Wapres Jusuf Kalla mengkritik para dirut bank plat merah yang senang memarkir dana ke SBI agar lebih aman tetapi tetap mendapat bunga. Saya pikir para dirut tadi pintar-pintar bodoh atau bodoh-bodoh pintar.

Mereka tidak berani ambil risiko ekspansi kredit ke pengusaha kecil sebab kalah dengan BKK/BPR/bank tithil/bank plecit.

BKK/BPR dan lainnya itu selalu ekspansi kredit ke pasar, kampung dan ke home industry yang berakibat perekonomian tingkat bawah bisa menggeliat. Tapi para dirut bank plat merah hanya ongkah-ongkang saja, malah dapat tunjangan.

Ada baiknya BI menghapus SBI seperti imbauan Kadin karena toh bunga kreditnya menjadi tanggungan BI. Ada baiknya juga pemerintah selaku pemegang saham utama di bank BUMN tersebut menegur keras dirut yang loyo.

H Erlangga Chandra (EI)

Bendan Rt 8/Rw 2, Banyudono.

***

Gender Ide Absurd

Akhir-akhir ini isu gender begitu kuat menyeruak ke dalam kehidupan masyarakat. Konon para aktivisnya ingin mengangkat derajat wanita agar sejajar dengan pria. Mereka mengklaim, ajaran agama yang membuat wanita jadi nomor dua. Sebenarnya gender adalah ide yang absurd.

Wanita dan pria memang sama yaitu hamba Allah. Namun secara fitrah wanita dan pria diciptakan berbeda dengan hak dan kewajibannya. Karena ide gender inilah para wanita yang berkewajiban sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dituntut untuk berkarier, keluar rumah. Akibatnya bisa terjadi pendidikan anak terabaikan, rumah tangga berantakan.

Lost generation adalah salah satu akibat ide ini. Sesungguhnya Islam datang untuk memuliakan wanita. Meletakkan kedudukan ibu tiga tingkat dari bapak. Apa yang seperti ini dikatakan menomorduakan wanita?

Karmi

Botorejo Rt 1/Rw 1 Wonosalam, Demak

***

Tagihan Telepon

Apa yang dislogankan Telkom dengan "Commited 2 U" ternyata hanya kosong belaka. Hal ini terjadi pada saya, pelanggan Flexi pascabayar 024-70779801. Awal November 2006 melapor tagihan saya tidak wajar, ke Plaza Telkom Jl Pahlawan Semarang disertai bukti print out serta permintaaan pemblokiran sementara.

Costumer service janji akan menanggapi 2 minggu kemudian melalui surat. Namun sampai saat ini (2 bulan) tidak ada tanggapan atau penyelesaian. Justru tagihan Desember semakin bertambah, padahal per 9 November 2006 telepon telah diblokir. Dari print out terlihat banyak nomor tujuan yang tidak dikenal dengan rentang waktu pembicaraan yang berdekatan.

Saya menduga nomor ini telah digandakan. Untuk itu pembaca agar berhati-hati memilih operator telepon. Nama besar bukan jaminan.

Budhi Wahyudi ST

Jl Jatiluhur 18 Rt 1/Rw Ngesrep, Semarang

***

Zona Selamat

di Depan SD 1 Tugurejo

Program pemerintah dengan membuat Zona Selamat Sekolah patut mendapatkan acungan jempol. Di depan SD I Tugurejo, Tugu Semarang contohnya, mengingat lokasinya di pinggir jalan nasional dengan tingkat kepadatan kendaraan sangat tinggi. Kendati jalannya lurus, di depan sekolah sering terjadi kecelakaan.

Bahkan kecelakaan itu telah merenggut nyawa beberapa anak sekolah. Dari pengamatan, terjadinya kecelakaan disebabkan pengendara kurang hati-hati serta cenderung ugal-ugalan. Kini terasa nyaman jika menyeberangkan anak untuk sekolah. Terlebih kini ada petugas dari Polsek Tugu Bapak Sudarsono yang rajin setiap pagi menjaga.

Sungguh program mulia demi keselamatan anak. Untuk menyempurnakan, saya usul diberi tulisan jelas sebagai bentuk sosialisasi.

Tulisan dibuat yang mencolok, permanen seperti baliho kecil. Dibuat dua buah, satu dari arah timur di dekat RSU Tugu dan satu dari barat di depan RM Tugu Asri.

Hal ini karena masih ada pengendara yang belum paham bahwa di depan SD tersebut terdapat Zona Selamat Sekolah. Mereka masih cenderung ngebut baik dari arah barat maupun timur. Mohon pohon yang menghalangi lampu di selatan maupun utara juga dipangkas agar tidak menghalangi penglihatan para pengendara.

S Handokb

Tugurejo A.9 Rt 5/Rw I Tugu, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA