| Rabu, 24 Januari 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAKonflik di Poso Belum Juga Teratasi- Konflik di Poso Sulawesi Tengah belum juga mereda. Pertumpahan darah masih terjadi. Senin lalu polisi dan sekelompok warga bersenjata terlibat dalam baku tembak yang menewaskan 11 orang termasuk seorang aparat kepolisian. Peristiwa itu terjadi ketika berlangsung penggerebekan di Kecamatan Poso Kota. Aparat melakukan penangkapan para tersangka kerusuhan Poso dan Palu yang masuk daftar buron dan dalam aksi itulah terjadi baku tembak. Berarti semakin banyak warga yang memiliki senjata dan hal itu menunjukkan pula indikasi tentang situasi daerah yang belum aman. Konflik bisa terjadi antarwarga namun juga antara warga dengan aparat keamanan. - Bagi kita yang melihat dari kejauhan, selalu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di sana dan mengapa aparat keamanan belum juga mampu mengatasi keadaan. Jangan-jangan kita menganggap sepele persoalannya dan menganggap pula semua sudah selesai dengan dicapainya Perjanjian Malino I. Kenyataannya bara api di Poso belum juga padam. Bom masih sering meledak dan kekerasan fisik yang dipicu konflik horisontal pun terus terjadi dalam eskalasi yang cukup tinggi. Lalu di mana aparat keamanan kita? Benarkah situasinya sudah demikian rumit dan sulit terdeteksi sehingga kita menjadi kurang mampu mengendalikan situasi. - Yang jelas konflik cenderung dilandasi oleh suatu akar persoalan yang cukup kuat dan dipicu oleh berbagai faktor termasuk primordialisme. Mungkin saja persoalan kemiskinan dan ketertinggalan ekonomi menjadi pemicu dasar yang lain namun yang jelas ketika konflik horisontal terjadi maka pengatasannya tidak mudah. Ditambah lagi dengan kemungkinan masuknya unsur-unsur lain seperti kepentingan politik. Dalam setiap konflik di daerah, seperti juga di Ambon, selalu ada kecurigaan adanya aktor intelelektual yang masuk dari luar dengan berbagai kepentingan. Namun kalau pun itu benar tak akan mudah begitu saja menyulut konflik apabila tidak ada akar penyebab di wilayah itu sendiri. - Kita boleh - boleh saja terus melakukan kajian dan analisis dari berbagai aspek menyangkut konflik di Poso atau Papua. Syukurlah Aceh dan Ambon sudah bisa diatasi setelah sebelumnya juga dibelenggu konflik berkepanjangan. Sekarang relatif tinggal Poso dan Papua. Dalam kondisi demikian sebenarnya kita bertanya-tanya apakah pemerintah pusat dengan segala perangkat dan kapasitas yang dimiliki sudah benar-benar serius memecahkan konflik di sana. Jangan-jangan hanya sekadar mengirim ''pemadam kebakaran'' namun tak mengatasi persoalan sebenarnya di tingkat masyarakat. Pendekatan keamanan belum menjadi jaminan dan Aceh telah memberi pelajaran tentang hal itu. - Meskipun demikian penegakan hukum dalam arti tidak boleh membiarkan segala tindak kekerasan terjadi tetap harus dilakukan dan untuk itu kita menyerahkan sepenuhnya kepada aparat keamanan. Jangan pernah mengambil risiko sekecil apapun sebab hanya karena terjadi konflik di suatu daerah, citra Indonesia di mata internasional bisa terganggu dan dampaknya bisa merembet ke mana-mana. Maka sebelum segala sesuatunya meluas lebih baik dilakukan tindakan tegas dan bila perlu dengan mengerahkan kemampuan aparat lebih besar. Tentu sambil itu dilakukan tetap diupayakan penyelesaian konflik yang lebih substansial atau yang sesuai kebutuhan riil di lapangan. - Pemerintah memang tak akan pernah habis menghadapi masalah. Setelah berhasil menemukan format penyelesaian yang baik di Aceh dan Ambon kendati sudah sangat terlambat dan memakan sangat banyak korban jiwa maupun material, kini giliran Poso. Bagaimana pun pemerintah tetap akan diuji. Pada hemat kita langkah-langkah yang selama ini sudah ditempuh bukan tidak berarti apa-apa. Kita tak perlu memulai dari nol lagi. Tinggal bagaimana menemukan akar persoalan lain yang belum tersentuh dan dari sanalah kemudian berbagai pendekatan bisa dilakukan. Dan pendekatan keamanan tetap mutlak dalam rangka mengatasi keadaan terlebih dahulu. |