| Rabu, 24 Januari 2007 | SEMARANG |
Keluarga Korban KM Senopati NusantaraSempurna Sudah Penderitaan Amin-ImahKorban tenggelamnya KM Senopati Nusantara yang belakangan ditemukan sudah tidak bernyawa menambah penderitaan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkannya. Seperti apa kepedihan yang mereka rasakan? Berikut kisahnya SEJAK mendengar kabar bahwa orang tuanya, Sarno (47) ikut menjadi korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Senopati Nusantara di dekat kepulauan Mandalika Jepara, Amin Budianingsih (22) selalu merasa cemas. Mulutnya seakan tak pernah berhenti berdoa, agar ayahnya bisa selamat dari pertaruhan maut di tengah ganasnya ombak laut. Kendati sudah setengah bulan belum ada kabar dari tim SAR yang terus melakukan pencarian korban, dia terus meneguhkan hatinya, meyakinkan diri kalau orang tuanya masih hidup dan bakal pulang dengan selamat. Namun harapan itu, tiba-tiba bagai mimpi. Setelah mendengar informasi dari televisi bahwa ayahnya ditemukan sudah tidak bernyawa di Pulau Kalu Kalukuang Sulawesi Selatan. Mendengar berita itu dia bagai disambar petir. Badannya mendadak gemetar, keluar keringat dingin dan tak ingat lagi karena ia jatuh pingsan. Kepergian Sarno untuk selama-lamanya itu seakan menyempurnakan penderitaan kedua anaknya, Amin Budiyaningsih dan Imah Muamalin (18). Selama dua tahun terakhir, mereka mengalami kepedihan ditinggal ibu kandungnya, Ngatirah, yang wafat karena sakit. Perasaan itu yang membuat keduanya berulang-ulang pingsan, saat jenazah ayahnya tiba di rumah duka. Mereka seakan belum percaya, jika peristiwa itu menimpa keluarganya. Ningsih menuturkan, sepeninggalan ibunya, ayahnyalah yang menjadi tumpuan hidup. Semua persoalan yang dihadapi, selalu diadukan kepada pria yang bekerja sebagai kernet truk fuso tersebut. Sebelum pulang dengan naik KM Senopati Nusantara, Sarno memberitahukan akan mengajaknya jalan-jalan menikmati keramaian perayaan besaran. ''Ajakan itu masih terngiang,'' ujarnya. Bagi dia, Almarhum adalah sosok bapak yang penuh kasih. Ia mengaku tidak pernah mendengar kata-kata bernada emosi. Semasa hidup, ayahnya adalah suami yang setia bagi ibunya. ''Meski lama ditinggal ibu, bapak tidak pernah berpikir untuk menikah lagi,'' uangkapnya.Kedamaian dan kesejukan keluarganya terasa sirna, setelah mendapat kabar, ayahnya termasuk salah satu korban tenggelamnya KM Senopati Nusantara. Perasaan terpukul atas kepergiannya juga dirasakan Adik Ipar korban, Sudarto (44). Baginya, almarhum adalah kakak yang dapat memerankan diri sebagai orang yang dituakan. ''Selama ini saya selalu berkonsultasi dengan dia untuk berbagai persoalan, utamanya soal keluarga,'' ujarnya. (Hasan Hamid-16) |