logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Januari 2007 SEMARANG
Line

Kalungan Sampur untuk Penulis Wisata

IRAMA Gambang Semarang yang mengiringi tarian "Denok Deblong" sama sekali tak asing bagi Li Cun Xiu dan kawan-kawan. Maklum saja, musik khas Kota Lunpia itu memang amat dipengaruhi warna musik dari China, tempat Li berasal.

Maka, tepat pilihan untuk menghadirkan "saudara kandung" gambang kromong Betawi itu di rumah dinas Wali Kota Jl Roro Jonggrang 1, Manyaran, belum lama ini. Pementasan itu menjadi sajian yang mengesankan bagi 16 travel writer dan tour operator asal China dan Singapura, yang menghadiri jamuan makan malam tersebut.

"//Empat penari kian kemari/ jalan berlenggang/ aduh/ sungguh jenaka tari mereka/ gambang semarang...//"

Lihatlah, ketika lagu "Empat Penari" mengalun rampak, Li, travel writer asal Guangzhou itu terlihat menggerak-gerakkan kepala dan tubuhnya. Dan, saat para penari Sanggar Greget mengalungkan sampur warna merah muda, dengan senang hati dia pun bersigegas berdiri dan lantas menari.

Tak cuma Li, paduan gambang dan gamelan yang rampak itu juga menarik tiga peserta tour fam lainnya untuk "melantai". Gulam Rasul, tour operator dari Muhibbah Travel and Tours, Singapura, misalnya terlihat tak kalah semangat ketika dia mendapat giliran "ketiban sampur". Darah India yang mengalir pada pria tinggi besar itu, memberikan tubuh yang lentur untuk melakukan gerakan yang jatuh tepat sesuai irama.

Sajian untuk mereka semakin lengkap, ketika Sanggar Greget pimpinan Yoyok B Priyambodo itu menghadirkan tari "Wanara-Yaksa". Tarian yang sigrak itu mengisahkan laga Anoman dan raksasa Alengkadiraja.

Sebelumnya, para travel writer dan tour operator itu juga diajak berwisata kuliner, mencicip makanan dan minuman khas Semarang. Untuk welcome drink disajikan bir pletok dan beras kencur, yang ditemani kue moci dan lunpia.

Lantas, tahu pong, beef steak ala Toko Oen Jl Pemuda, nasi blowor, dan bakmi jawa. Sebagai penutup, disajikan es puter dan wedang tahu.

Kampanye Positif

Wakil Wali Kota Mahfudz Ali yang menyambut kehadiran mereka, memaparkan rencana penyelenggaraan Semarang Pesona Asia, Agustus-September mendatang.

Kegiatan itu diharapkan bisa menjadi upaya memperkenalkan, dan pada gilirannya "menjual" Semarang ke tingkat Asia.

"Para penulis dan praktisi wisata merupakan unsur penting untuk mendukung Semarang Pesona Asia. Apa yang mereka tulis dan sampaikan merupakan kampanye positif yang akan memantik ketertarikan para wisatawan dari luar negeri untuk masuk ke Semarang," kata Mahfudz.

Kehadiran 16 travel writer dan tour operator ke Semarang itu atas undangan maskapai Garuda Indonesia. Mereka diharapkan bisa mempromosikan wisata di Semarang, dan Jateng pada umumnya.

Untuk itu, mereka diajak juga city tour di Semarang, dengan mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah, Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Vihara Mahavira Marina, Pagoda Avalokitesvara Watugong, Lawangsewu, dan Kota Lama.

Selain itu, mereka juga mengunjungi Ketep Pass, Candi Borobudur, Losari Coffee Plantation Magelang, Museum Kereta Api Ambarawa, Masjid Demak, Menara Kudus, dan Museum Kretek. (Achiar M Permana-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA