| Rabu, 24 Januari 2007 | SEMARANG |
Pertaruhkan Image WargaBEBERAPA tahun terakhir ini, Kampung Tambaklorok ''sepi''. Tidak lagi terdengar peristiwa kekerasan antarwarga yang mengakibatkan ketegangan sosial. Ini tentu menjadi hal positif bagi image warga yang dikenal memiliki ''sumbu pendek'' itu. Mencuatnya keluhan para nelayan atas kekhawatiran munculnya praktik premanisme, kini menjadi pertimbangan bagi semua pihak. Seolah, warga kampung itu menjadi pihak tersangka dan yang disalahkan. Tetapi, keluhan itu tampaknya memang tidak berlebihan. Sebab sejak 1992, ketika TPI Tambaklorok masih jaya - dua orang nelayan asal Surabaya meregang nyawa di kampung tersebut. Hal itu diduga karena penganiayaan yang dilakukan oleh sejumlah preman yang berasal dari kampung nelayan itu. ''Para preman itu suka meminta ikan secara paksa. Kalau tidak diberi, mereka main pukul bahkan main keroyok. Bahkan ada seorang nelayan asal Surabaya yang meninggal gara-gara dipukuli. Mereka itu juga orang-orang kampung Tambaklorok,'' kata Ny Imelda (bukan nama sebenarnya), Selasa (23/1). Peristiwa itu, kata Imelda, menjadi preseden buruk bagi semua warga kampungnya. Hanya karena perbuatan beberapa gelintir orang, maka nasib seluruh warga menjadi korban. TPI mati dan tidak ada lagi nelayan asal kota lain yang bersedia masuk untuk mendaratkan hasil tangkapan. ''Dulu, TPI ini sangat maju. Bahkan para bakul berjualan sampai ke rel Jl Cilosari, dari pagi sampai pukul 14.00. Tetapi setelah ada nelayan yang tewas dianiaya preman, sejak itu tidak ada lagi yang mau singgah di sini,'' katanya. Sepinya TPI berlangsung sangat lama, bertahun-tahun. Sementara nelayan lokal hanya mampu menangkap ikan dengan perahu kecil dan tidak mempunyai alat tangkap yang memadai. Seiring pertumbuhnya jumlah penduduk, terjadi kelebihan penangkap ikan di perairan Tambaklorok. Jumlah nelayan jauh lebih banyak dibanding sumber daya alam yang ada. Akibatnya, hasil tangkapan menjadi berkurang. Sejak saat itulah, berangsur-angsur tingkat kesejahteraan nelayan merosot. Kesempatan Rencana penggunaan PPI Tambaklorok awal Februari 2007, merupakan kesempatan bagi warga sekitar menjadi warga dan nelayan yang baik. Bila sampai terjadi praktik premanisme sebagaimana masa silam, maka nasib seluruh warga akan dipertaruhkan. Mustarom (35), seorang pemuda yang telah malang melintang di dunia tenaga bongkar muat (TKBM) ikan di sana mengakui buramnya kehidupan di lingkungan TPI pada masa-masa silam. Hal itu membuat para nelayan menjadi ketakutan singgah di kampungnya. Dinas Perikanan telah mengumpulkan para tenaga bongkar muat untuk didata ulang. Untuk mengantisipasi munculnya premanisme, warga perlu mendapat pekerjaan. Mereka yang bukan nelayan, bisa diakomodasi sebagai tenaga kasar bongkar muat ikan. ''Aturannya tidak boleh meminta secara paksa, tetapi atas kerelaan dari para nelayan,'' Mustarom. (Karyadi-18) |