| Rabu, 24 Januari 2007 | SEMARANG |
Pembangunan Jalan Tembus Pasar WaruPuluhan Rumah Terancam DibongkarGAYAMSARI- Puluhan rumah di Kampung Sawahbesar Timur RT 8 RW 2 Kelurahan Kaligawe, Kecamatan Gayamsari, terancam dibongkar menyusul rencana pembangunan jalan tembus Pasar Waru. Sebagian rumah tersebut terletak di sisi barat daya rel KA Semarang-Surabaya, dan sebagian lainnya di barat jalan tol Jatingaleh-Kaligawe. Camat Gayamsari, Fajar Purwoto menjelaskan, Pemkot sudah membentuk tim untuk menyosialisasikan rencana pembangunan jalan tembus Pasar Waru. Sosialisasi itu dilakukan terhadap warga penghuni pemukiman, yang diperkirakan terkena proyek tersebut. ''Hasil inventarisasi sementara yang kami lakukan, jumlahnya sekitar 50 rumah,'' kata Fajar, Selasa (23/1). Dijelaskannya, sebagian lahan yang akan digunakan untuk pembangunan jalan tembus itu sekarang ditempati warga. Lahan tersebut sebelumnya merupakan lahan eks bengkok, yang dimiliki Pemkot. ''Tim yang dibentuk itu, antara lain disiapkan untuk proses pembebasan tanah untuk pembangunan jalan tembus.'' Seperti pernah diberitakan, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang telah menyiapkan rencana pembangunan jalan tembus dari Jl Kaligawe-Pasar Waru-Jl Kaligawe. Untuk pembangunan jalan sepanjang 2,6 kilometer itu, DPU mengajukan dana Rp 13 miliar dalam APBD 2007. Bagi warga yang terkena pembangunan itu, lanjut Fajar, Pemkot akan mengupayakan relokasi. Alternatif yang disiapkan, mereka akan diusulkan masuk ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Kaligawe. ''Kalau memungkinkan, diupayakan masuk pada tahap I, yang saat ini sudah selesai. Jika tidak, diusulkan lagi pada pembangunan rusun tahap II,'' ujar dia, yang juga anggota tim sosialisasi tersebut. Hingga Selasa (23/1), warga yang tinggal di kampung itu mengaku belum menerima sosialisasi terkait pembangunan jalan tembus Pasar Waru. Kendati demikian, kabar itu telah diketahui mereka sejak lama. Komari (bukan nama sebenarnya), seorang warga mengaku, menyadari posisinya yang lemah. Namun jika nantinya pembongkaran rumah jadi dilaksanakan, dia meminta Pemkot memberikan perhatian. ''Kami membangun rumah di sini dengan biaya tidak sedikit. Dulu daerah ini masih berupa rawa-rawa. Sedikit demi sedikit diuruk dengan biaya sendiri. Belum lagi bangunan rumahnya. Jadi, mohon Pemkot memperhatikan nasib kami. Bisa berupa penyediaan lahan relokasi atau pemberian tali asih yang setimpal,'' kata dia. (H9,H6-56) |