| Senin, 15 Januari 2007 | SALA |
Penataan PKL Layak Jadi Percontohan NasionalKEBERHASILAN penataan pedagang kaki lima (PKL) di Solo menimbulkan kesan tersendiri pada anggota DPR RI Taufik Kiemas. Tidak berdarah-darah dan tanpa pemaksaan sebagaimana kerap terjadi di daerah lain. Patut dipuji langkah Pemkot Surakarta dalam menata PKL. Bahkan suami Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri itu menyatakan penataan PKL di Solo layak menjadi percontohan nasional. ''Sepanjang pengamatan saya hanya ada dua penataan PKL yang bagus di Indonesia, yakni di Solo dan Palembang. Namun setelah melihat kondisi di sini, termasuk di Pasar Notoharjo, Solo pantas disebut yang terbaik,'' tuturnya saat mengunjungi shelter PKL di Manahan, kemarin. Di lokasi sebelah barat Stadion Manahan itu didampingi Wakil Wali Kota yang juga Ketua DPC PDI-P Surakarta FX Hadi Rudyatmo dan Kepala Kantor Pengelola PKL Bambang Santosa SH. Seusai menghadiri resepsi pernikahan putra Bupati Karanganyar Rina Iriani, Kiemas menyempatkan diri mampir ke Solo. Sebelum ke Manahan ia mengunjungi tiga tempat, yakni Pasar Notoharjo Semanggi, Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), dan Pasar Nusukan. Dialog Di dua pasar yang dikunjungi sebelumnya dia berdialog dengan para pedagang untuk mengetahui keluhan dan menyerap aspirasi mereka. Di Manahan Taufik disambati PKL. Mereka yang tergabung dalam Paguyuban PKL Gotong Royong itu mengeluhkan tidak ada kanopi di shelter sehingga tempias saat hujan turun. ''Kami jadi repot kalau berjualan saat hujan. Air hujan masuk kios. Kami minta Bapak memperhatikan nasib kami,'' kata Togar Sihombing, Ketua Paguyuban PKL Gotong Royong. Kiemas berjanji akan membantu. Para pedagang diminta membuat proposal agar jelas apa yang mereka butuhkan. (Anie R Rosyidah-27) |