| Senin, 15 Januari 2007 | BUDAYA |
Sindir Lingkungan lewat KartunJAKARTA-Ada yang unik, menarik, lucu sekaligus menyayat hati dalam The 10th Asian Cartoon Exibition yang digelar di The Japan Foundation, Jakarta,13-29 Januari. Tujuh puluh tujuh karya teranyar dari sepuluh kartunis terdepan dari sepuluh negara di Asia hadir mengusung tema ''Asian Enviromental Issues''. Menyuguhkan berbagai karya yang menyoroti berbagai peristiwa perusakan lingkungan hidup yang terjadi di muka bumi, ke-10 kartunis itu seakan ''menampar'' kita. Betapa telah sedemikian memprihatinkan kerusakan kondisi lingkungan hidup. Em Sothya (Kamboja), Li Qing (China), Mohd Irfaan Khan (India), Jitet Kustana (Indonesia), Yoshiaki Yokota (Jepang), Kong Bo Hyuk (Korea Selatan), Zuan (Malaysia), Elizabeth T Chionglo (Filipina), Thi-wa-wat Pattaragulwanit (Thailand), dan Nhop (Vietnam) menyajikan berbagai peristiwa itu tak ubahnya seperti parade penghancuran bumi. Dengan bahasa gambar yang penuh dengan satir, ironi, dan pandangan paradoks yang dikemas dalam bahasa gambar yang lucu sekaligus menggemaskan, pesan itu sepintas terlihat datar. Tapi tunggu dulu, lihatlah karya wakil Indonesia Jitet Koestana yang mendiskripsikan betapa tokoh pewayangan Gatotkaca pun terbatuk-batuk di atas langit karena parahnya polusi Jakarta yang diwakilkan dengan pencitraan Monas. Kekeringan Demikian halnya dengan gambaran kekeringan yang setiap tahun seolah menjadi kepastian di Indonesia. Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya membiarkan seorang ibu memberikan minum kepada bayinya dengan air matanya sendiri. Kisah-kisah menyedihkan yang terjadi di sepuluh negara di Asia yang dituturkan lewat bahasa kartun oleh sepuluh kartunis itu sepintas menyajikan lelucon pada penikmatnya. Tapi, jika menyelami makna yang terkandung di balik karya itu, sebagaimana dikatakan kartunis senior Indonesia Dwi Koendoro, tersirat berribu makna. ''Selain kartun harus menarik, menghibur, dan merangsang, dia harus mengemban pesan yang semudah mungkin dapat ditangkap penikmatnya tanpa meninggalkan estetika'' ujar kartunis yang sohor dengan karya Panji Koming itu. Sehingga tidak berlebihan jika Direktur The Japan Foundation, Kazuo Ando, antusias menggelar agenda unik itu. Menurut dia, lewat kartun biasanya pesan dapat lebih rileks sampai ke penikmatnya. Meski tidak sedikit karya kartun yang gagal dan tidak mengena bahkan membingungkan. Namun dalam kasus pameran kartun yang menurut rencana akan diboyong ke Yogyakarta itu, pesan tentang kerusakan lingkungan hidup dapat dengan mudah diapresiasi penikmatnya. Lewat pendekatan tematik, artistik, estika, dan originalitas yang dibungkus dalam kadar humor yang tinggi, ke-77 karya kartun itu membawa kita ke sebuah labirin tema yang tak berujung. (Benny Benke-45) |