logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 04 Januari 2007 NASIONAL
Line

Melacak Jatuhnya Pesawat lewat Pesan ELBA

PENCARIAN pesawat AdamAir KI 574 yang hilang sejak 1 Januari lalu, sampai kemarin belum menemui titik terang. Selain terhalang cuaca buruk, lokasi jatuhnya pesawat juga belum bisa ditentukan.

Meskipun dari sinyal Emergency Locator Beacon Aircraft (ELBA) yang dipancarkan pesawat nahas itu sudah bisa ditentukan koordinat jatuhnya pesawat.

Yaitu pada sekitar 03 derajat Lintang Selatan dan 119 derajat Bujur Timur. Namun untuk menemukan koordinat tersebut di lapangan (di bumi) yang begitu luas, memang bukan pekerjaan yang mudah. Sehingga untuk menemukan bangkai pesawatnya saja bisa makan waktu berhari-hari.

Dalam kecelakaan pesawat Skyvan Pan Malaysian Air Transport (30 Januari 1993) di hutan belantara Aceh,

Tim SAR menghentikan pencarian pada hari ke 13. Padahal, ketika kecelakaan terjadi, pancaran sinyal ELBA Skyvan tersebut juga ditangkap menara kontrol Singapura.

Keluarga korban kemudian memperpanjang pencarian dengan swadaya selama lima bulan, toh pesawat tak juga ditemukan.

Mereka tidak hanya berbekal informasi sinyal ELBA, tetapi juga menggunakan ''orang pintar'' dari AS dan Lombok.

Dalam dunia penerbangan instrumen ELBA sudah dikenal sejak 30 tahun terakhir ini. Istilah ELBA ini digunakan dalam Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Tetapi sejumlah kalangan dan literatur menyebut dengan istilah Emergency Locator Transmitters (ELT).

Dalam buku ''Penerbangan Sipil'' (Gramedia, 1993), ELT didefinisikan sebagai pemancar radio yang ditempatkan di pesawat dan beroperasi pada frekuensi 121,5 MHz dan 243,0 MHz dengan sumber listrik khusus.

Ditangkap Singapura

ELT dirancang untuk dapat bekerja secara otomatis setelah musibah terjadi. Istilah ELBA bahkan tidak ditemukan dalam buku ini. Sedangkan dalam Pilot Web, Michael Atkinson (2003), menulis ELT sebagai a new generation of aircraft- bassed and personal emergency locator transmitters is being phased in. They communicate with a network of satellites and mission control centres.

Sinyal ELBA/ELT yang dipancarkan pesawat yang mengalami musibah bisa ditangkap oleh satelit atau air traffic control (menara pengawas). Dalam musibah pesawat AdamAir, sinyal tersebut ditangkap oleh ATC Singapura.

Satelit SAR seperti yang dimiliki Basarnas, sebenarnya juga mampu menangkap sinyal ELBA/ELT untuk mendeteksi terjadinya musibah. Satelit yang dimiliki terdiri atas Cospas (Cosmichescaya Sistyema Poiska Avariyiynih Sudov) dari Rusia dan Sarsat (Search and Rescue Sattelite Aided) dari Amerika.

Satelit ini berfungsi untuk mendeteksi sinyal darurat yang dipancarkan oleh ELBA/ELT pada pesawat, kapal atau perorangan yang mengalami musibah. Sinyal tersebut kemudian dipancarkan ke bumi dan diterima oleh local user terminal (LUT). LUT merupakan stasiun bumi kecil yang menghasilkan output berupa posisi/ lokasi musibah dalam bentuk koordinal lintang/ bujur.

Bila terjadi musibah baik di darat maupun di laut, beacon (pemancar) secara otomatis akan memancarkan sinyal pada frekuensi 121.5 MHz untuk pelayaran dan 243 MHz untuk penerbangan atau 406 MHz untuk pelayaran maupun penerbangan.

Pancaran sinyal ini akan dideteksi oleh satelit Cospas-Sarsat yang melintas di atasnya. Untuk dapat bekerja dengan baik, beacon tersebut harus dalam kondisi layak pakai, sehingga sinyalk yang dipancarkan akan diterima dengan baik oleh satelit dan dipancarkan kembali ke LUT.

Sistem satelit Cospas-Sarsat merupakan konstalasi tujuh satelit berorbit polar, sehingga mampu mendeteksi semua permukaan bumi. Oleh satelit, sinyal akan di-relay ke stasiun bumi dan memprosesnya untuk menentukan lokasi dan identitas beacon.

Karenanya, secara teoritik keberadaan pesawat AdamAir seharusnya bisa terlacak lewat kecanggihan piranti teknologi baik yang berada di dalam pesawat (ELBA/ELT), di angkasa (satelit) dan di bumi (LUT). Apalagi lokasi kecelakaan berada di antara dua LUT, yaitu di Jakarta dan Ambon.(Didi Wahyu-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA