| Sabtu, 30 Desember 2006 | OLAHRAGA |
2006, Beruntung Ada Taufik HidayatHARAPAN yang sirna. Kalimat itu mungkin sangat tepat untuk menggambarkan realitas pencapaian prestasi pebulutangkis Indonesia selama 2006. PBSI sebelumnya sangat berkeinginan agar Taufik Hidayat dan Nova Widiyanto/ Lilyana Natsir mempertahankan gelar juara dunianya. Nyatanya hal itu tidak terwujud di Madrid, 18-24 September lalu. Mereka bahkan kalah pada babak awal. Prestasi di Annaheim pada 2005 tidak terulang di Madrid. Mendung kelabu terus mewarnai prestasi bulu tangkis Indonesia. Untunglah Taufik Hidayat menjadi obat sejuk di penghujung tahun ini. Menantu Agum Gumelar itu meraih medali emas tunggal putra Asian Games 2006 Doha. Tak tanggung-tanggung, lawannya di babak akhir adalah seteru utamanya asal China, Lin Dan. Jejak Taufik tidak diikuti oleh Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto yang hanya meraih medali perak. Banyak kegagalan di tahun 2006. Di balik kegagalan itu ada secercah senyum. Senyum itu tentu datang dari Taufik. Beruntung pula Indonesia masih bisa menjadi kiblat bulu tangkis dunia setelah China. Data statistik menunjukkan kalau peringkat Indonesia di urutan kedua setelah China. Indonesia menyabet 19 gelar juara. Sedangkan Cina mengoleksi 54 gelar dari para pemainnya. Kegagalan prestasi bulu tangkis Indonesia kian nyata saat All England. Tidak satu pun gelar terhormat dibawa pasukan Merah Putih. Padahal biasanya turnamen ini merupakan langganan unjuk prestasi pasukan Cipayung. Pengaderan Minim Kisah sedih tidak hanya dari sisi prestasi. Pengkaderan untuk mematangkan kualitas pemain muda pada level internasional juga minim. Tommy Sguiarto dan kawan-kawan terkesan diparkir di Cipayung. ''Kami gagal matang kalau terus menerus disimpan. Mestinya kami seperti pemain China, Malaysia dan Korsel. Mereka sering ikut turnamen luar negeri,'' kata seorang pemain muda di Cipayung. Kegagalan tidak hanya pada sektor perseorangan. Tim Merah Putih juga gagal di sektor beregu. Sebutlah Piala Thomas dan Uber. Tim Thomas kita kalah 0-3 oleh China di semifinal pada perhelatan di Tokyo. Menyedihkan lagi prestasi para Srikandi Indonesia. Mereka tidak lolos ke putaran final di Sendai dan Tokyo pada 28 April sampai 7 Mei lalu. Fransisca Ratnasari dan kawan-kawan gagal lolos kualifikasi di Jaipur pada Februari lalu. Publik bulu tangkis Indonesia sedikit terhibur dengan prestasi pasangan Nova/Lily. Mereka mengukir empat gelar sepanjang tahun ini. Gelar itu dari kejuaraan Asia, Singapura, China Taipe dan Korea Terbuka. Flandy Limpele/Vita Marissa membersitkan harapan. Keduanya mampu menjadi juara di Jepang Terbuka setelah mengalahkan Nova/Lily. ''Tentu ada pasangan alternatif bagi kami. Ini menyenangkan. Jadi tumpuannya tidak hanya pada Nova/ Lily saja,'' jelas pelatih ganda campuran Richard Mainaky mengomentari sukses Flandy/Vita. Tentu kita pantas berterimakasih pada Taufik Hidayat. Jawara tunggal putra Indonesia mengantarkan kontingen Merah Putih Asian Games 2006 menduduki urutan 22 klasemen akhir. Hal itu lewat medali emasnya. Itu juga merupakan emas keduanya pada even setingkat Asian Games. Taufik Hidayat termotivasi oleh raihan emasnya di Doha. Setidaknya suami Amy Gumelar ini optimistis menatap Olimpiade Beijing 2008. Prestasi Taufik akan sempurna bila di Beijing bisa meraih emas. Berarti dalam enam tahun dia meraih dua emas Asian Games dan dua emas Olimpiade. Ketua Umum PB PBSI Sutiyoso nampaknya tidak berkecil hati atas pencapaian prestasi Laskar Cipayung. Gubernur DKI Jaya ini masih merasa bangga dengan apa yang telah dihasilkan oleh Taufik Hidayat dan kawan-kawan. ''Wajar ada pasang surut. Kita memang sering tidak berhasil. Bagaimanapun prestasi kita tidak terlalu memalukan. Tahun depan harus lebih bagus lagi,'' ujar Sutiyoso. Sirnanya berbagai harapan di tahun 2006 tentu tidak boleh terulang di tahun 2007. (Budi Yuwono, Darjo Soyat-28) |