logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Desember 2006 OLAHRAGA
Line

Catatan Sepak Bola Nasional 2006

Gairah Hanya dalam Dana dan Wacana

KONTROVERSI belum menjauh dari hingar-bingar persepakbolaan nasional. Tahun 2006, kejutan-kejutan yang memprihatinkan begitu dominan. Mulai dari tingkat klub, kiprah tim nasional, sampai dinamika keorganisasian di tubuh PSSI.

Uang luar biasa besar yang berputar dalam sepak bola Indonesia -dalam ukuran dunia olahraga negeri ini- diiringi berbagai ironi. Jor-jorjoran pemakaian dana APBD di tingkat anggota Liga Indonesia, gagal memberi kontribusi positif bagi timnas dalam mengejar prestasi internasional. Tim nasional sendiri sebenarnya juga digelontor dana berlimpah, agar kinerjanya membaik.

Malah PSSI U-23 dikirim khusus ke Belanda. Para pemainnya diminta meninggalkan klub, lalu diikat kontrak khusus berikut gaji bulanan yang besarnya sekitar Rp 20 juta. Di tengah jalan, muncul kabar Indonesia harus mengikuti babak prakualifikasi Asian Games. Keputusan itu keluar, mengingat banyak negara yang mengirimkan tim sepak bolanya.

Supaya babak utama cukup diikuti 16 kesebelasan, sejumlah tim harus mengikuti prapenyisihan. Negara-negara yang dinilai jarang mengirimkan kesebelasan ke Asian Games harus melalui tahap tersebut.

Ternyata Indonesia menanggung malu. Mengawali prakualifikasi di Doha, mereka diempaskan Irak 0-6. Menghadapi Suriah dalam pertandingan kedua, Bobby Satria cs kalah 1-4, plus keluarnya kartu merah dari wasit seperti saat bertemu Irak.

Ketika timnas U-23 harus pulang awal dari Qatar, para seniornya juga menanggung malu. Berlaga dalam turnamen BV International di Vietnam, anak-anak asuhan Peter Withe merupakan satu-satunya tim senior. Kamerun, Finladia, dan tuan rumah mengirimkan kesebelasan U-23 yang dipersiapkan mengikuti Pra-Olimpiade.

Tak satu poin pun didapat Ponaryo Astaman cs. Karena kalah terus, mereka menjadi juru kunci. Inkonsistensi muncul, mengingat sekitar tiga bulan sebelumnya mereka menjadi runner-up Merdeka Games di Malaysia.

Dua hasil buruk dalam waktu yang bersamaan itu kabarnya mengakibatkan Menpora Adhyaksa Dault sangat kecewa, sehingga tidak bersedia membuka Raparnas PSSI di Batu. Isu itu dibantah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Menpora disebutnya tak bisa hadir karena dipanggil Presiden.

Tetapi, Menpora harus diakui sebagai pihak yang sangat kritis menanggapi dinamika sepak bola nasional. Sejak awal, dia meragukan keberhasilan PSSI U-23 di Doha. Bahkan wacana agar tim sepak bola tidak diberangkatkan dikemukakannya.

Kenyataannya, meskipun didukung sekitar 2.500 warga Indonesia di Qatar, timnas U-23 tampil mengecewakan. Namun, bagaimanapun juga keberangkatan ke Asian Games memang harus dilakukan.

Dinamika

Tidak bijak bila Menpora teguh pada keputusannya, mengingat PSSI mendapat teguran dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) karena sejak Asian Games Beijing 1990 tak lagi mengirimkan tim. Apalagi, Indonesia telah dipercaya AFC menjadi salah satu tuan rumah Piala Asia 2007.

Melihat apat yang terjadi pada dinamika PSSI, tak salah juga kalau Adhyaksa mengeluarkan ancaman. Dia kembali harus angkat bicara menyangkut ide naturalisasi, setelah sebelumnya mengecam keras terjadinya kerusuhan suporter yang seakan tak pernah berhenti dalam pentas sepak bola nasional.

Rupanya pengurus PSSI tak lagi menemukan terapi internal untuk membangkitkan prestasi timnas. Mereka lalu berupaya mendatangkan pemain asing, untuk kemudian diusulkan mendapat kewarganegaraan Indonesia. Cara itu tidak disetujui Menpora, sekalipun PSSI berargumen pada pasal-pasal dalam UU mengenai kewarganegaraan, yang memang memberi peluang bagi dipilihnya alternatif itu.

Wacana untuk membangkitkan prestasi sepak bola Indonesia memang terus bergulir. Gairah dalam berwacana memang terlihat. Namun, itu terasa kontraproduktif, karena selalu memunculkan kontroversi.

Padahal di tingkat keorganisasian sendiri PSSI sering memunculkan kekecewaan akibat keputusan Komisi Disiplin yang selalu ''dimentahkan'' Komisi Banding. Kontroversi kembali muncul dalam penanganan kompetisi dengan meniadakan degradasi pada Divisi I maupun Divisi Utama, dengan alasan ''memudahkan'' seleksi bagi digelarnya Super Liga mulai 2008.

Inkonsistensi kebijakan memang belum bisa dilepaskan PSSI. Akankah prestasi bisa datang dalam pengelolaan yang demikian? (Ananto Pradono-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA