logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Desember 2006 OLAHRAGA
Line

Arema Siap Tanggung Konsekuensi

  • Pemasangan Logo X-Mild

MALANG-Arema tetap akan memasang logo X-Mild di kostum pemainnya, bila tidak ada investor pengganti. ''Itu tetap dilakukan, meski ada konsekuensi pengurangan poin dan denda uang," kata Ketua Harian Satriya Budi Wibawa kepada wartawan, kemarin.

Dalam ketentuan yang tercantum di manual liga, pelanggaran pemasangan logo di kostum akan dikenai denda Rp 100 juta setiap kali pertandingan dan Rp 50 juta bila ada pemasangan billboard di stadion.

Tentang kemungkinan bakal mundur dari kompetisi, disebutnya belum pasti. Tetapi, kalau PSSI maupun BLI memaksakan Arema mundur dari kompetisi, maka hal itu akan dilaksanakan.

Dalam pertemuannya dengan korwil-korwil Aremania di sekretariat Arema kemarin, baik Satriya maupun Humas M Taufan mengklarifikasi kedatangan Direktur BLI Andi Darusalam di Malang.

Saat itu personel manajemen tidak ada. Namun, Andi menjelaskan manajemen klub berjuluk Singo Edan itu tidak mau menemuinya.

"Kita saja tidak tahu kalau dia mau datang ke Arema, padahal jauh sebelumnya sudah diminta konfirmasinya kapan ke Malang. Dia menjawab masih belum ada rencana,'' kata Taufan.

Kaget

Taufan mengaku kaget setelah mendengar kabar Andi telah berada di Malang, bahkan berbicara dengan beberapa personel Aremania di sekretariat klub.

''Kalau dikatakan manajemen tidak mau bertemu, itu aneh. Saya ikut tim ke Bali dalam rangka uji coba, Pak Satriya ke Jakarta urusan perusahaan dan Pak Daryoto masih di luar negeri,'' ujarnya.

''Kalau waktu itu saya diminta ke Malang, jelas saya pun akan berangkat secepatnya dari Bali. Tapi, tidak ada pemberitahuan apa-apa karena memang semuanya tidak tahu."

Dia juga mengutip pernyataan salah satu personel Aremania yang ikut pertemuan dengan Andi. Saat itu muncul pertanyaan, seandainya Arema disponsori oleh Semen Gresik dan suatu saat kompetisi didukung oleh pabrik semen lain apakah logo sponsor Arema juga harus dilarang karena sama-sama pabrik semen. Ternyata pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari Andi.

"Kami juga heran dengan sikap PSSI dan BLI karena setiap kali dalam pertemuan mereka selalu menyebut akan menjadikan sepak bola Indonesia menjadi profesional dan industri. Nyatanya ketika Arema sudah bisa berjalan dengan sepenuhnya dana dari sponsor dan kami sudah menjalankan klub ini secara profesional, justru mereka yang melarang kami dapat sponsor," ujar Satrija.(jo-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA