| Sabtu, 30 Desember 2006 | WACANA |
Surat PembacaNegara KekuasaanKonstitusional yang semula dijunjung tinggi dengan tekad melaksanakan Pancasila dan UUD'45 secara murni dan konsekuen telah berubah menjadi mitos. Konstitusi tidak dilihat secara rasional dengan aturan dasar yang bercorak normatif tapi sebagai dokumen sakral yang disucikan sehingga jarang disentuh. Makin sering diucapkan orang, makin melupakan kandungannya. Pancasila dan UUD'45 telah berubah fungsi sebagai mitos yang sakral pengabsah kekuasaan. Bukan lagi tuntutan moral yang membimbing perjalanan politik menuju ke arah tertentu. Bukan pula sebagai aturan dasar yang membatasi kekuasaan. Lord Acton menyatakan, kekuasan cenderung korup. Kekuasaan yang terlalu besar membuka peluang penyalahgunaan secara lebih besar. Karena itu perlu kontrol kuat dari rakyat untuk "memaksa" penyelenggara negara tetap berada pada jalur hukum. Tapi kenyataan, organisasi negara berkembang demikian kuat, sedang kekuatan masyarakat tidak cukup mengimbangi. Dalam masyarakat, kelas atas sosial ekonomi diuntungkan atas realitas politik yang cenderung ke arah negara kekuasaan. Kelas ini terbentuk dari berbagai aliansi hubungan politik dan ekonomi. Dalam proses pertumbuhan ekonomi, para konglomerat makin kuat, disusul kelas bawah (buruh, pedagang kecil, petani dan nelayan). Kelas bawah ini sukar mendesakkan perubahan secara demokratis dan menuntut penegakan hukum yang menjamin keadilan. Sementara kelas menengah ekonomi makin lemah dan cenderung tenggelam dalam bisnis para konglomerat. Tumpuan kelas menengah yang berjuang menuntut tegaknya negara hukum beralih kepada para profesional di bidang hukum, aktivitas LSM dan mahasiswa. Faktor kepatuhan terhadap hukum adalah sikap para penyelenggara negara dan sikap rakyat. Legislatif merupakan pihak pertama yang wajib memberi keteladanan menaati hukum. Dalam masyarakat yang cenderung paternalistik, orientasi rakyat lebih bersifat ke atas. Jika di atas baik maka di bawah pun ikut baik. Tapi penyelenggaraan negara lebih mengarah pada kekuasaan daripada hukum. Rule of law diganti rule of man dan rechtstaat diganti oleh machtstaat. Kedaulatan rakyat terabaikan lewat berbagai rekayasa dalam bentuk perumusan norma hukum sehingga posisi rakyat menjadi lemah bila berhadapan dengan kekuasaan negara. Jika negara cenderung mengarah kekuasaan, maka rakyat harus memperkuat posisinya. Dengan demikian timbul ide tentang pemberdayaan masyarakat (empowering society) atau memperkuat masyarakat sipil (civil society) yang mandiri dan menghindar dari kungkungan kekuasaan yang cenderung menindas. Ahmad Rifai Karanggedong Rt 5/Rw 3, Ngadirejo *** Asosiasi Jarak Pagar dan Pemberdayaan Program nasional pemberdayaan masyarakat 2007 beranggaran Rp 51 triliun dapat menstimulan pengembangan infrastruktur dan bioenergi untuk mengurangi angka pengangguran yang dikaitkan dengan program desa mandiri energi. Tanaman jarak pagar lebih realistis dibandingkelapa sawit. Selain karena pemeliharaan relatif mudah juga teknologinya sederhana, biaya murah, panen cepat dan kesempatan peluang usaha. Morfologi tanaman jarak pagar juga cocok untuk konservasi lahan, sehingga padu dengan program penghijauan yang digalakkan pemerintah daerah di awal musim hujan ini. Pemerintah berencana menanam jarak pagar seluas 5 juta ha dengan proyeksi anggaran bioenergi Rp 200 triliun hingga tahun 2010. Rinciannya, penanaman jarak pagar Rp 60 triliun, industri Rp 90 triliun dan infrastruktur Rp 90 triliun. Juga akan membangun pengolahan biodisel 48 pabrik di setiap daerah yang sudah ada tanaman jaraknya. Selain itu beberapa perusahaan swasta dan investor asing dari Amerika, China, Jepang, Malaysia dan Singapura sudah beramai-ramai masuk ke bisnis terpadu biofuel. Sekarang saat tepat membangun agroindustri biodisel yang berbahan baku biji jarak pagar untuk menghentikan alokasi subsidi bahan bakar minyak. Pemerintah baru saja meresmikan SPBU berbahan bahan bakar nabati 5% di beberapa tempat dalam rangka sosialisasi energi hijau yang ramah lingkungan. Sementara angka kemiskinan mencapai 17,75% penduduk atau 39 juta orang. Dukungan pemberitaan melalui media massa dan media elektronik sungguh luar biasa, sehingga sampai muncul organisasi Masyarakat Energi Terbarukan Indonsesia (METI) dan Asosiasi Jarak Pagar Jawa Tengah. Asosiasi mendukung program pemberdayaan masyarakat dan sosialisasi tanaman jarak pagar. Agus Sugiyanto Jl Bukit Kelapa Sawit II/AI-16, Semarang *** Soal Mataram Sakti Sehubungan dimuatnya keluhan saya yang akan kredit motor di dealer Mataram Sakti Weleri dengan PT Bussan Auto Finance 17 Desember 2006, mendapat respon cepat dan positif. Persoalannya telah diselesaikan dengan baik. Saya ucapkan terima kasih kepada Mataram Sakti dan PT BAF karena keluhan saya sudah direspon dengan cepat. Okie Oktavianto Puguh Rt 1/Rw 2 Boja, Kendal *** Menghindari Kesurupan Melihat tayangan teve banyak siswa SMA kesurupan di sekolahnya dan untuk menyembuhkan, dipanggil ustad/ulama /paranormal. Siswa sembuh tetapi kemudian kesurupan lagi. Saya punya pengalaman tentang itu dan semoga bisa menjadi jalan keluarnya. Firman Allah menyatakan, di antara bumi dan langit adalah tempat-Ku dan Kuisi dengan umatKu yang kelihatan dan tidak kelihatan. Yang kelihatan seperti manusia, hewan, pohon dan sebagainya dan yang tidak kelihatan adalah jin dan sebagainya. Kita harus percaya ada makhluk yang tidak kelihatan tetapi tidak boleh takut dan percaya padanya. Juga tidak perlu berhubungan dengan mereka (setan dan jin) karena alamnya berbeda. Agar selamat dan mereka tidak mengganggu, maka kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt. Allah berfirman barang siapa yang mendengar salamku akan tunduk. Harap diajarkan kepada para siswa saat melangkah masuk halaman sekolah, kantin, toilet dan lainnya harus mengucapkan salam. Agar selamat, maka ucapkan Bismillahirrahmanirrahim dan selesai rnengerjakan sesuatu, ucapkan Alhamdulillah. Cara ini diajarkan kepada para siswa agar sebelum jam pelajaran dimulai, para guru dan siswa berdoa dulu. Bacalah: Ya Allah Ya Rabbi, kami mohon perlindungan-Mu agar selamat. Kami mohon tuntunan-Mu agar mendapat jalan lurus, jalannya orang-orang yang Kau beri nikmat. Semoga kami dapat menambah ilmu yang bermanfaat. Semoga tercapai cita-cita kami menjadi manusia yang soleh-solehah, iman, Islam dan bertaqwa kepada-Mu. Hormat kepada orang tua, guru, saudara dan keluarga dan sesamanya. Hj Islamiyah Jl Mlaten Trenggulun 95, Semarang *** Sembuhan Sinusitis Beberapa minggu lalu saya menderita penyakit menyebalkan sekaligus meresahkan sebab seumur hidup baru kali ini mengalami. Gejalanya, pada hidung keluar bau busuk yang akan hilang sekitar lima menit. Dalam sehari bisa datang lima kali secara tiba-tiba dan perginya pun begitu saja. Saya periksakan ke dokter umum, katanya menderita sinusitis akut yang dapat menyerang otak. Lalu diberi obat untuk tiga hari, namun setelah lewat tiga hari bau busuk masih juga datang. Keesokan harinya saya berobat ke dokter THT dan mendapatkan beberapa obat. Setelah dua hari minum bau busuk juga masih muncul. Di tengah kepanikan, tiba-tiba saya berniat memanggang hidung saya di bawah terik matahari yang cerah, yaitu sekitar pukul 09.00. Caranya, dengan mengarahkan wajah tepat ke arah matahari, sehingga sinar masuk ke dalam lubang hidung. Tentunya mata harus tertutup agar tidak silau. Bila terasa pegal, istirahat sebentar kemudian lakukan lagi hingga sekitar 10 menit. Setelah melakukan hal tersebut maka bau busuk tak pernah datang lagi. Saya tidak berani menjamin, semua penderita sinusitis akan sembuh dengan cara seperti yang saya lakukan. Tetapi sebagai upaya penyembuhan, tidak ada salahnya mencoba. Pesan saya, jika menderita pilek yang tidak sembuh-sembuh segera berobat ke dokter sebab kalau tidak, bau busuk bisa muncul di hidung. Iksanudin Jl Kenanga I/6, Tegal *** Budaya "Lenggeran" Lenggeran merupakan seni tari khas Wonosobo dengan gemah gemulainya penarinya. Lenggeran merupakan budaya yang perlu dilestarikan dan dijaga mengingat kini banyak orang yang sudah tidak terlalu menyukai kesenian tradisional tersebut. Bahkan ada yang tidak mengenalnya sama sekali apalagi melestarikan. Perlu diacungi jempol penduduk daerah Giyanti Kecamatan Selomerto, Wonosobo yang masih kental dengan budaya lenggernya. Bahkan banyak turis mancanegara ikut berlatih dan melihat kesenian lengger yang sarat dengan gamelan tradisional ini. Bagaimana dengan kita orang Indonesia sendiri?. Masihkah dapat mempertahankan budaya warisan leluhur. Padahal budaya seperti itulah yang bisa memberi keanekaragaman dan keindahan Indonesia. Bagaimana pun, pemerintah harus melestarikan bukan menjadi negara yang suka meniru budaya barat. Khotiah Sedayu Rt 3/Rw 2 Sapuran, Wonosobo |