logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Desember 2006 WACANA
Line

Perekonomian Tetap Bertumpu pada Konsumsi

  • Oleh Nugroho SBM

PEREKONOMIAN Indonesia selama 2006 mencapai beberapa prestasi, meskipun dengan catatan. Pertama, tingkat inflasi yang relatif rendah, yaitu diperkirakan hanya mencapai lima sampai enam persen. Angka itu jauh lebih rendah dari angka inflasi yang ditentukan dalam asumsi makro APBN 2006 sebesar delapan persen.

Meski itu prestasi positif, tetapi perlu dilihat secara kritis apakah inflasi yang rendah tersebut sebagai keberhasilan kebijakan moneter atau karena faktor di luar kebijakan?

Faktor di luar kebijakan moneter itu adalah belum pulihnya daya beli masyarakat sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 126 persen pada Oktober 2005. Hal itu dapat dilihat pada pertumbuhan pengeluaran konsumsi masyarakat 2006 yang hanya 2,99 persen.

Jadi jangan senang dahulu kalau inflasi rendah, karena bisa jadi itu merupakan pertanda buruk, yaitu lemahnya daya beli sehingga permintaan tidak ada dan pengusaha tidak berani menaikkan harga barang.

Faktor Eksternal

Prestasi kedua adalah dalam hal pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi 2006 mencapai kisaran 5,5 persen. Meski angka itu lebih rendah dari target yang dicantumkan di APBN 2006 sebesar 6,1 persen, di tengah berbagai kesulitan yang ada angka pertumbuhan sebesar itu cukup lumayan.

Prestasi ketiga yang dicapai adalah di bidang pengendalian nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selama 2006 kurs rupiah terhadap dolar AS stabil pada kisaran Rp 9.000 per dolar AS.

Dengan pertimbangan inflasi yang cukup rendah dan kurs yang stabil itulah, baru-baru ini Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga SBI (BI Rate) dari 10,25 persen menjadi 9,75 persen atau turun sebesar 50 basis poin.

Penurunan suku bunga yang sudah banyak diharapkan banyak pihak itu diharapkan merupakan insentif cukup besar bagi dunia usaha atau sektor riil (kegiatan produksi dan distribusi) untuk bergerak setelah sekian lama macet.

Pesimisme

Tetapi apakah harapan itu akan tercapai 2007 nanti?

Saya pesimis penurunan bunga SBI tersebut akan mendorong investasi (sektor riil). Salah-salah malah pengeluaran konsumsilah yang akan bertambah. Pesimisme itu dilandasi oleh beberapa fakta. Pertama, proporsi investasi terhadap pendapatan nasional Indonesia hanyalah 18,4 persen, sedangkan proporsi pengeluaran konsumsi sebesar 65,2 persen.

Kedua, dilihat dari kepekaan atau elastisitas pengeluaran konsumsi dan investasi terha-dap suku bunga, maka elastisitas pengeluaran konsumsi terhadap suku bunga lebih peka atau elastis dibanding elastisitas investasi terhadap suku bunga.

Secara teoretik, angka elastisitas suku bunga terhadap konsumsi maupun terhadap investasi minus. Artinya, kalau suku bunga turun, pengeluaran konsumsi maupun investasi akan naik. Itu terjadi karena, pertama, orang akan tidak tertarik menyimpan uangnya di bank, dan lebih tertarik membelanjakannya untuk konsumsi. Kedua, dengan penurunan itu, bunga kredit konsumsi akan lebih murah sehingga orang akan tertarik melakukan konsumsi dengan dibiayai kredit.

Penelitian LPE IBII (diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2004) menunjukkan, elastisitas pengeluaran konsumsi terhadap suku bunga adalah minus 1,7534. Artinya, kalau suku bunga turun satu persen, pengeluaran konsumsi naik 1,7534 persen. Sementara itu angka elastisitas investasi terhadap suku bunga hanya minus 0,66. Artinya, jika suku bunga turun satu persen, investasi hanya akan naik 0,66 persen. Itu berarti, penurunan BI rate oleh BI memang akan lebih besar pengaruhnya kepada konsumsi daripada kepada investasi.

Lalu mengapa kita harus mengkhawatirkan fenomena itu?

Sebenarnya fenomena perekonomian yang didorong oleh konsumsi bukan merupakan sesuatu yang jelek, melainkan lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan yang didorong oleh investasi. Kegiatan investasi lebih baik sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, karena mempunyai efek berganda (multiplier effect), misalnya lewat penciptaan kesempatan kerja, baik langsung maupun tidak.

Namun untuk menutup "kelemahan" elastisitas investasi terhadap suku bunga itu, dapat ditempuh kebijakan untuk menarik investasi lewat penciptaan faktor-faktor nonsuku bunga, misalnya dengan meneruskan program pelayanan satu atap di bidang pelayanan investasi.

Program lain misalnya dengan memberantas pungutan liar yang di era otonomi daerah ini makin menjadi-jadi.(68)

--- Nugroho SBM SE MSP, staf pengajar FE Undip Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA