| Sabtu, 30 Desember 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANADunia Tak Boleh Mendiamkan Derita Somalia- Somalia, salah satu dari beberapa negara miskin di Tanduk Afrika, bergolak lagi. Pasukan pemerintah yang telah tersingkir dari Mogadishu mulai bergerak maju ke ibu kota Somalia itu bersama pasukan kavaleri Ethiopia, setelah jet-jet tempur Ethiopia menggempur basis pasukan pemberontak di Bandara Mogadishu, sehari sebelumnya. Campur tangan Ethiopia itu dilakukan demi menyelamatkan pemerintahan sekuler Somalia yang terpaksa meninggalkan ibu kota, karena terdesak oleh pasukan pemberontak muslim garis keras. Upaya membantu didorong oleh fakta, pemberontak memberi dukungan Eritrea untuk memisahkan diri dari wilayah kedaulatannya. - Sejak dulu, wilayah Tanduk Afrika yang meliputi Ethiopia, Somalia, dan Sudan muncul ke permukaan sebagai berita utama media internasional karena dua alasan: perang dan kelaparan. Ethiopia dan Somalia pernah saling gempur, sementara ketiga negara tersebut berulangkali terjerumus dalam perang saudara yang kejam. Perang selalu saja meminta korban jiwa rakyat tak berdosa. Juga menyebabkan pemerintahan dan rakyatnya tidak bisa memikirkan pembangunan ekonomi, sehingga buntut-buntutnya orang tidak bisa makan dan akhirnya mati mengenaskan secara massal. Jutaan orang telantar dan mati secara perlahan di Sudan, akibat krisis Darfur belakangan ini. - Syeh Sharif Ahmed, pemimpin pemberontak Dewan Mahkamah Islam Somalia (DMIS), tampaknya sengaja menarik mundur pasukannya ke Mogadishu untuk menyiapkan perang jangka waktu lama terhadap pemerintah dan pasukan Ethiopia. Dia menganggap Ethiopia tetap merupakan musuh lama (kedua negara pernah bermusuhan dan berperang). Perkembangan terakhir itu bisa saja "membakar" Afrika, jika pasukan pemberontak dibantu laskar asing yang siap berjihad dan melancarkan aksi-aksi bom bunuh diri. Pasalnya, sentimen agama dengan mudah dapat dikobarkan, mengingat Ethiopia saat ini dikuasai suatu pemerintahan berbasis Kristen. - Sinyal bahaya bakal terjadinya perang berbasis agama telah dinyalakan oleh DMIS. Dewan yang sekarang menguasai Mogadishu itu telah menyebut perang melawan "pasukan agresor Kristen Ethiopia" sebagai perang suci terhadap para "crusader" (orang yang ikut Perang Salib). Menyimak sejarah hubungan yang tidak pernah akur di antara kedua negara tersebut, gosokan Dewan itu dapat saja membangkitkan sentimen kalangan muslim garis keras Somalia. Maka dunia tentu tidak boleh tinggal diam, sebab perang yang disulut oleh keyakinan berbeda biasanya sangat brutal. Kita tidak ingin konflik semacam itu terjadi di mana saja di muka bumi ini. - Taktik DMIS kelihatannya adalah mencoba menarik sebanyak mungkin pasukan Ethiopia masuk ke wilayah Somalia, kemudian menghancurkannya di Mogadishu, basis kaum garis keras muslim. Di sana jugalah pasukan negara adikuasa AS dipermalukan oleh gerilyawan pimpinan Farah Aideed pada awal 1990-an. Helikopter Black Hawk yang membawa pasukan Amerika jatuh, dan belasan GI menemui ajal. Yang mengenaskan, mayat dua pilot heli tersebut diseret di sepanjang jalan dengan jip oleh para gerilyawan. Tak lama kemudian, semua GI ditarik pulang ke Amerika. Ethiopia semestinya berhati-hati dan belajar dari sejarah kekalahan pasukan AS itu. - Masyarakat internasional tidak boleh tinggal diam. Apa pun alasan peperangan itu, yang harus dipikirkan adalah nasib jutaan rakyat Somalia yang belasan tahun kekurangan makan dan hidup di bawah kelayakan manusia pada umumnya. Rakyat salah satu negeri paling miskin dan paling bergolak di muka bumi itu kini menghadapi penderitaan baru dari pecahnya perang antara DMIS dan pasukan pemerintah. Data Program Pangan Dunia (WFP) menunjukkan, hampir sejuta dari 10 juta rakyat Somalia menggantungkan diri sepenuhnya dari bantuan darurat internasional, gara-gara bertahun-tahun dilanda kekeringan parah, disusul dengan banjir hebat. |