| Sabtu, 30 Desember 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANAIdul Adha: Spirit Memberi, Spirit Berbagi- Contoh-contoh aktual pentingnya kesediaan berkorban dan sikap ikhlas terpapar luas di hadapan kita, berbarengan dengan datangnya Idul Adha 1427 Hijriah. Dua hal itu menjadi aspek paling menonjol, dan dari tahun ke tahun membawa pemaknaan yang sama walaupun bobot dan konteks permasalahannya bisa berubah. Kesediaan berkorban dan sikap ikhlas, bukankah relevan dengan beratnya beban hidup yang kini dihadapi bangsa Indonesia? Adanya beban karena realitas keseharian memang seperti itu, sekaligus beban karena kejadian demi kejadian bencana alam di sejumlah daerah yang pasti mempurukkan kehidupan sebagian saudara-saudara kita. - Di Nanggroe Aceh Darussalam, enam kabupaten terkepung banjir, dan puluhan orang tewas. Peristiwa itu mengingatkan kembali pada tragedi tsunami dua tahun silam yang menghancurkan semua. Harapan yang mulai membuncah dalam proses rehabilitasi kawasan, kepemilikan, maupun mental kini menyurut lagi ke belakang. Kita tidak mencoba menganalisis penyebab seperti dalam editorial di ruangan ini kemarin, melainkan melihat fakta baru yang terpapar, yakni banyak saudara sebangsa menghadapi kesulitan hidup yang tidak mungkin mereka pecahkan sendiri. Rakyat Aceh membutuhkan kesediaan untuk memberi pengorbanan bagi mereka. - Kondisi seperti itu tidak hanya terhampar di Aceh. Dalam bobot yang tentu berbeda-beda, banyak bencana alam terjadi di sejumlah daerah. Dengan kualifikasi apa pun, mereka yang kehilangan hak-hak hidup secara mendasar tentu membutuhkan uluran tangan lain untuk membantu proses bangkit. Artinya, harus ada keberpihakan dengan memberi pengorbanan, dalam bentuk apa pun. Semangat solidaritas inilah yang mesti kita bangun sebagai ungkapan internalisasi dari peristiwa kurban dalam momentum Idul Adha. Yakni kemauan untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi orang lain, dan semangat untuk mengikhlaskannya bagi kemaslahatan sesama. - Rp 3,5 triliun disiapkan untuk penanganan bencana alam yang diperkirakan masih akan terjadi di Tanah Air. Penegasan Menteri Negara PPN/ Kepala Bappenas Paskah Suzetta itu menggambarkan dibutuhkannya fokus, konsentrasi, dan perhatian yang sangat besar dalam penanganan bencana alam. Jumlah besar tersebut barang tentu di luar solidaritas sosial yang dimobilisasi oleh lembaga-lemgaga nonpemerintah sebagai prakarsa masyarakat. Kebutuhan akan perhatian yang besar dan menyedot nilai triliunan menjadi bagian dari tanggung jawab sosial pemerintah untuk mengurangi kesengsaraan para korban, dan memulihkannya pascabencana. - Sudahkah spirit keikhlasan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam inti hikmah Idul Adha terserap sebagai renungan kehidupan kita? Makin berpikir tentang kemaslahatan sosial, makin banyak yang harus didorong dengan sikap simpati, empati, dan rasa sepenanggungan. Kalau salah satu tujuan penyembelihan hewan kurban adalah agar dagingnya dapat didistribusikan secara merata dengan semangat berbagi, maka tujuan tersebut bermuatan menanam keikhlasan. Terdapat relevansi dengan tuntutan kondisi bangsa saat ini. Dalam konteks para korban bencana, wujud pendistribusian yang tepat adalah pemenuhan hak-hak dasar mereka, kemudian ikhtiar pengentasannya. - Semangat berbagi kita gaungkan sebagai sikap utama dalam kondisi seperti sekarang. Memobilisasi "perasaan" rakyat merupakan salah satu ungkapan kepedulian sosial, karena kita membutuhkan langkah-langkah cepat, cekatan, dan terdistribusi ke tujuan, dengan menekan sekecil mungkin kemungkinan para korban harus menunggu dan mengalami kesulitan yang lebih parah. Idul Adha atau Hari Raya Haji menggaungkan spirit memberi, mengorbankan, ikhlas, dan memupus potensi-potensi ketakaburan manusia. Andai bangsa ini diliputi elemen-elemen semangat tersebut, dapat dibayangkan betapa besar andilnya dalam mengurangi kesenjangan. |