| Sabtu, 30 Desember 2006 | SEMARANG |
Pekerja Panti Pijat Unjuk Gigi di Tegalpanas
APA jadinya jika seseorang yang biasanya menemani para tamu menyanyi di ruang tertutup dan remang-remang, berdendang di atas panggung di hadapan ratusan orang? Grogi, itu yang dialami anak-anak asuh rumah karaoke dan panti mandi uap. Mereka ikut memeriahkan lomba karaoke yang digelar di rest area Tegalpanas, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Kamis (28/12). Acara yang diselenggarakan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jateng itu, untuk memperingati Hari AIDS Se-Dunia 2006. Meski grogi, sejumlah peserta tampak percaya diri. Kesalahan kecil dalam nada dan kekeliruan masuknya lagu, menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat di sekitar lokalisasi Tegalpanas yang biasa disingkat GP itu. Koor huuu... dari penonton juga terdengar spontan tatkala peserta lupa lirik lagu yang dinyanyikannya. Kemeriahan acara yang disponsori n(o)vib Oxfam Netherlands ini bertambah, sebab di sela-sela lomba sejumlah panitia turut hanyut berjoget di depan panggung. Program Manager HIV PKBI Jateng Johan M Riza mengatakan, acara itu digelar kali pertama di kabupaten ini. ''Diselenggarakan di GP karena agar pemerintah daerah juga turut memperhatikan keberadaan anak-anak asuh panti pijat dan rumah karaoke. Pemda juga harus memenuhi hak-hak mereka seperti pelayanan kesehatan,'' tuturnya. Membangun Mental Tujuan lain diadakannya acara bertema ''Bersama Kita Hentikan Penyebaran IMS, HIV, dan AIDS'' ini, adalah untuk mendorong bakat dan membangun mental para penjaja cinta tersebut. ''Dengan mengikuti acara ini kami berharap mereka memiliki wacana baru. Mungkin mereka berpikir ada hal lain yang bisa dilakukan,'' terang Riza. Tiga puluh peserta yang ikut lomba berasal dari karaoke dan panti pijat Tegalrejo, Sukasari (Sembir) Salatiga, Bandungan, dan Kopeng. Mereka menyanyikan lagu wajib seperti ''Kupu-kupu Malam'' dan ''Kabut Biru''. Lagu pilihan bebas sesuai dengan keinginan peserta. Yeni, salah satu peserta tiba-tiba lupa lirik lagu ''Lingsir Wengi'' yang menjadi pilihannya. Kontan hal itu menuai tawa penonton. Dewi yang berdendang lagu ''SMS'' juga kurang pas nadanya karena terlalu tinggi, juga menjadi bahan ger-geran yang hadir. Di sela-sela lomba, panitia juga menyelipkan kuis yang sarat pendidikan seksual. Misalnya, panitia melontarkan pertanyaan, ''Apa kepanjangan IMS?'' Seorang perempuan yang menjawab infeksi menular seksual mendapat suvenir cantik dari PKBI. Selain PKBI, acara ini juga didukung Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang. Panitia menyediakan piala untuk tiga juara terbaik. Juara I direbut Sheila asal Sembir Salatiga, Juara II dan III Yani dan Titin keduanya dari Tegalrejo. (Rony Yuwono-37) |