| Sabtu, 30 Desember 2006 | SEMARANG |
Delapan Kolam Retensi Akan Dibangun
GROBOGAN - Pemerintah akan membangun delapan kolam retensi di Grobogan. Selain untuk mengurangi potensi banjir di wilayah itu, kolam-kolam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tandon-tandon air bagi warga. Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Bidang Pembangunan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pengairan Kabupaten Grobogan, Ir Agus Sulaksono SP, Jumat (29/12). Dia mengatakan, empat kolam retensi di antaranya akan dibangun oleh Dinas PSDA Jateng, dan empat lainnya oleh Pemkab Grobogan. Pihaknya saat ini sedang melakukan survei dan pengkajian kolam-kolam retensi yang akan dibangun oleh Pemkab. Dari hasil survei sementara, lokasinya kemungkinan akan berada di Sengon, Crewek, Sindurejo, dan Karangrayung. ''Lokasi tersebut nantinya bisa saja berubah, tergantung hasil survei,'' kata dia. Lebih lanjut dia mengatakan, empat kolam retensi yang akan dibangun Pemprov berada di desa Jambon, Botoh, Tanggungharjo, dan Nambuhan. Luasan kolam retensi yang akan dibangun Pemkab dan Pemrov juga berbeda. Kolam retensi Pemprov bisa mencapai lebih dari 1 hektare/kolam. Sementara yang dibangun Pemkab, rata-rata hanya sekitar separonya. ''Hal itu disesuaikan dengan kemampuan anggaran kami,'' kata dia. Sedimentasi Menurut dia, persoalan drainase di Grobogan terkait dengan tingginya sedimentasi. Dia memperkirakan, Sungai Lusi sedimentasinya bisa mencapai 25 cm per tahun. Sementara Sungai Jragung dan Tuntang, masing-masing diperkirakan mencapai 50 cm per tahun. ''Sungai-sungai itu memang pernah dikeruk, namun hanya dalam waktu setahun pendangkalan kembali terjadi,'' kata dia. Salah satu penyebab pendangkalan dan banjir di Grobogan, menurut dia, adalah penjarahan hutan. Dia menyebut contoh penjarahan tersebut adalah di pegunungan Kapur Utara, yang membentang dari Kudus sampai perbatasan Blora. Salah satu akibat penebangan liar tersebut, erosi dari kawasan itu juga makin besar. Kikisan tanah tersebut kemudian masuk ke anak Sungai Lusi, dan menyebabkan pendangkalan serius. Hal inilah yang antara lain menyebabkan banjir. ''Karena itulah selain reboisasi lahan, sungai-sungai itu pun harus dikeruk,'' kata dia. Dinas Pengairan, menurutnya juga telah memiliki program untuk membangun pintu-pintu air di anak Sungai Lusi. Ketika debit air sungai itu meningkat di waktu hujan lebat, pintu-pintu air di anak sungai akan ditutup. Air akan dialirkan di kolam-kolam retensi, yang pembangunannya diusulkan pada 2008. ''Setelah permukaan Sungai Lusi surut, pintu-pintu itu pun akan dibuka dan air dari anak-anak sungai tersebut bisa langsung mengalir ke induknya,'' kata dia. (G6-62) |