logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Desember 2006 SEMARANG
Line

Rame Kondhe

Semarang Abaikan Delapan Elemen Perancangan Kota

  • Oleh: Andie A Wicaksono

ADA sesuatu yang menarik bila mengamati perkembangan Kota Semarang akhir-akhir ini. Kota ini telah berubah menjadi kota yang tidak jelas arsitekturnya. Meski mempunyai banyak pakar arsitektur kota, semuanya seolah mati suri, mengalami tidur panjang dan terbuai dalam kesibukan masing-masing.

Sangat disayangkan karena Semarang sebagai ibu kota provinsi telah kehilangan jati dirinya sebagai sebuah kota yang berkarakter. Jatidiri atau identitas sebuah kota terlihat dari karakter elemen-elemen yang terdapat di dalamnya.

Hamid Shirvani, pakar arsitektur kota telah mencetuskan teori tentang ''delapan elemen perancangan kota'' yakni land use, building form & massing, circulation & parking, open space, pedestrian ways, activity support, signage, dan preservation. Namun ironisnya, justru problematika yang dihadapi kota ini terjadi pada kedelapan elemen tersebut.

Pada aspek land use (tata guna lahan) misalnya, banyak pembangunan fisik di Semarang yang menyalahi peraturan tata guna lahan. Contohnya tata guna lahan di sejumlah wilayah yang diperuntukkan sebagai lahan hijau dan resapan air, kini berubah fungsi menjadi real estat.

Kemudian masalah building form & massing (bentuk dan massa bangunan), bangunan semakin tinggi, padat dan tidak manusiawi. Semakin banyak privatisasi bangunan komersial, mal dan hotel-hotel dan menomorduakan area publik.

Dampak berikutnya menyangkut circulation & parking (sirkulasi dan parkir). Arus lalu lintas di Semarang semakin padat, kemacetan terjadi di sana sini, dan areal parkir tidak tertata.

Sebagian besar jalan protokol dipenuhi kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, yang menyebabkan polusi asap. Kemacetan pada jam-jam sibuk, terutama saat jam berangkat kerja, jam pulang sekolah serta jam pulang kantor. Bukan hanya itu, banyak jalan rusak dan berlubang.

Lalu, bagaimana dengan fasilitas open space (ruang terbuka publik). Kota ini telah kehilangan banyak ruang publik. Banyak ruang terbuka yang berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan, tempat menggelar dangan PKL serta area komersial lainnya. Taman-taman yang hijau dan rindang saat ini semakin sulit untuk ditemukan.

Tanpa Kenyamanan

Sementara itu, kota ini juga tidak memberi kenyamanan bagi pejalan kaki. Nyaris tak tersisa lagi pedestrian ways (area pejalan kaki). Area untuk pejalan kaki telah berubah fungsi menjadi tempat berjualan. Penghijauan dan pohon-pohon yang dapat memberikan kesan teduh bagi pejalan kaki juga sangat kurang.

Dimensi dan ukuran area pedestrian yang tidak sesuai standar juga mengurangi kenyamanan warga kota saat berjalan. Banyak elemen pedestrian seperti bak tanaman, halte bus, boks telpon, rambu-rambu jalan serta pepohonan yang dirusak oleh vandalisme.Bahkan, Semarang boleh dikata tak lagi memiliki activity support (kegiatan pendukung). Memudarnya kegiatan pendukung yang menjadi ciri khas, seperti tradisi dugderan mulai luntur dari kebudayaan warga kota.

Elemen lainnya, signage (penanda / reklame) juga kurang mendapatkan perhatian. Pemasangan reklame semakin semrawut dan mengabaikan estetika. Simpanglima sebagai pusat kota telah berubah menjadi hutan reklame. Banyak titik-titik reklame baru bermunculan tanpa adanya kejelasan pengaturan tempat dan bentuk, sehingga muncul kesan semrawut.

Yang juga sering diabaikan adalah masalah preservation (konservasi terhadap bangunan bersejarah). Tidak ada upaya pelestarian terhadap bangunan bersejarah. Banyak bangunan kuno peninggalan Belanda yang dibiarkan tidak terawat, terkesan suwung, dan diperparah dengan masalah rob yang sampai sekarang belum dapat diatasi.

Jadi, melihat permasalahan menyangkut delapan elemen urban desain di atas, dapat disimpulkan bahwa belum ada satu pun dari kedelapan elemen tersebut yang dapat memenuhi kriteria elemen perancangan kota. Inilah tanda-tanda matinya arsitektur kota di Semarang.

Adalah tugas semua pihak untuk dapat mengantisipasi hal tersebut. Kalangan birokrat, pemerintah kota, LSM, pengusaha, praktisi dan pakar perancangan kota harus dapat bekerja sama secara aktif untuk mengatasi masalah ini, agar Semarang menemukan kembali identitasnya sebagai kota yang berkarakter. (18)

- Penulis adalah praktisi dan penulis buku-buku arsitektur


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA