| Sabtu, 30 Desember 2006 | SEMARANG |
Normalisasi Sungai BeringinPembebasan Lahan Terbentur HargaSEMARANG- Rencana normalisasi Sungai Beringin disambut dingin oleh sebagian warga Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu. Pasalnya, selama harga pembebasan tanah yang pernah ditawarkan Pemkot belum cocok, mereka tetap memaksakan diri tinggal di tepi atau bantaran sungai tersebut. Sukiran, warga RT 2 RW 5 Mangkang Wetan mengatakan, harga tanah yang selama ini ditawarkan Pemkot, sangat rendah. Padahal rumah di kampung itu, termasuk tanahnya rata-rata bersertifikat. Karena itu, harga pembebasan lahan diminta harus sebanding dengan nilai jual tanah yang berlaku umum. ''Saya tidak menolak adanya normalisasi. Tetapi harga yang ditawarkan Pemkot harus sebanding dengan harga tanah yang sudah bersertifikat. Bukan lantas lebih murah dari harga tanah umumnya,'' katanya, Jumat (29/12). Sukiran sendiri meminta bila dilakukan normalisasi maka Pemkot harus mencarikan tanah dan bangunan pengganti. ''Kalau saya, cukup dicarikan tanah dan bangunan pengganti seluas yang saya miliki dan bersertifikat da-ripada harus membeli setiap meternya,'' lanjut dia. Sementara itu, Ketua RT 2 RW 5 Mangkang Wetan, Bramono mengakui rencana normalisasi Sungai Beringin berhenti karena belum ada kesepakatan harga antara Pemkot dan warga. Pemkot, kata dia, pernah menawarkan harga pembebasan tanah dari Rp 5.000 per meter2 sampai terakhir Rp 7.000 per meter2. ''Namun harga itu ditolak warga karena sangat rendah. Setelah itu, masalah normalisasi Sungai Beringin tidak pernah lagi digulirkan. Beberapa hari lalu, Wali Kota saat meninjau Mangkang Wetan kembali menggulirkan rencana normalisasi sungai tersebut. Namun untuk pembebasan lahan, harga tanah per meter 2 dinaikkan menjadi Rp 10.000 per meter2,'' katanya. Untuk harga baru itu, Bramono mengaku belum membicarakan dengan warganya. Dipastikan dalam beberapa pekan ini, dia akan pertemukan seluruh warga guna membicarakan masalah normalisasi Sungai Beringin. ''Kalau harganya tidak sampai rendah, sebenarnya warga menyetujui. Tetapi karena harganya murah, warga terpaksa tidak menginginkan lagi masalah normalisasi,'' katanya. Kemarin, warga Mangkang Wetan bergotong-royong memasang trucuk bambu dan bantalan karung pasir di titik tanggul yang jebol. Bahkan di tanggul sepanjang 500 meter turut dikuati dengan trucuk bambu agar tidak jebol lagi. ''Kekuatan trucuk bambu ini sejauh mana, kita lihat arus Sungai Beringin,'' lanjut dia. (dky-56) |