| Sabtu, 30 Desember 2006 | SEMARANG |
Menuju Metropolitan Semarang (3-Habis)Perbaikan Infrastruktur dan Mimpi Pesona AsiaHARAPAN masa depan Kota Semarang yang cerah, seakan tergambar pada ''wajah'' kota: Jalan Raya Kaligawe. Sejak sebulan terakhir, Dinas Bina Marga Jateng telah selesai mengerjakan peninggian dan perbaikan ruas jalan yang menjadi pintu masuk ke ibukota Jateng dari arah timur tersebut. Walhasil, rampungnya pekerjaan itu menepis wajah ruas jalan pantura, yang selama ini lekat dengan gambaran rusak, banjir, dan berlubang-lubang seperti ''papan dakon''. Kalau proyek normalisasi saluran Gebangsari dan Kali Tenggang, yang selama ini menyumbangkan banjir untuk kawasan Kaligawe selesai, wajah kota jelas lebih sumringah. Saat ini, kenyamanan menggunakan jalan raya yang mulus itu masih dibayangi kemungkinan banjir, lantaran air tidak memiliki tempat mengalir. Hal itu terjadi karena normalisasi dua saluran primer di kawasan Kaligawe yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang tidak bisa selesai tepat waktu, dan harus diluncurkan pada tahun anggaran 2007. Selain Jalan Raya Kaligawe yang mulus, sejumlah infrastruktur penunjang menuju ''Kota Metropolitan yang Religius Berbasis Perdagangan dan Jasa'' tengah dikebut. Perluasan Bandara A Yani, meski bukan milik Pemkot, merupakan salah satu langkah maju untuk mencapai itu. Kabar baiknya, di penghujung tahun 2006 ini, DPRD Kota Semarang telah mengesahkan Perda Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) bandara internasional tersebut. Dengan begitu, satu pintu masuk lagi telah siap untuk ditata lebih baik. Pintu masuk lainnya dari arah barat, Terminal Mangkang, kini juga dalam proses pembangunan. Pekerjaan yang dilaksanakan, pembangunan building dan emplacement untuk penyiapan terminal tipe A, menggantikan terminal tipe C yang sekarang operasional. Bangunan berlantai tiga itu dipersiapkan sebagai ruang tunggu penumpang, perkantoran, serta pusat belanja. Sayangnya, pembangunan infrastruktur yang terkait dengan drainase, selama 2006 masih terlihat tertatih-tatih. Sejumlah proyek normalisasi saluran belum bisa terselesaikan. Bahkan, ada yang belum bisa dimulai sama sekali karena terkendala proses pembebasan lahan. Akibatnya, terbit kekhawatiran pada sejumlah kalangan, rob dan banjir yang identik dengan kota yang pada 2007 berusia 460 tahun ini masih belum sirna. ''Pemkot harus menyiapkan skenario untuk mengatasi banjir karena sejumlah proyek normalisasi saluran tidak bisa selesai tahun ini,'' kata anggota Komisi C DPRD Kota Agung Budi Margono. Pembebasan lahan Waduk Jatibarang yang dikonsep untuk mengendalikan banjir, hingga kini masih berputar-putar pada lingkaran sosialisasi. Padahal, pembangunan waduk berbiaya Rp 1,4 triliun yang bersumber dari biaya pinjaman Japan Bank International for Cooperation (JBIC) itu direncanakan dimulai 2007. Kalau pembebasan lahan molor dari rencana, hampir bisa dipastikan pelaksanaan megaproyek itu juga akan mundur sekian langkah. ''Sosialisasi telah dimulai beberapa bulan lalu, pada warga Gunungpati dan Mijen, yang langsung terkena dampak pembangunan proyek tersebut. Namun, hingga saat ini sosialisasi berjalan lancar, namun soal ganti rugi belum tercapai kata sepakat dengan warga,'' kata Asisten Tatapraja Soemargono. Kota Pelayanan Wali Kota Sukawi Sutarip mengatakan, pelaksanaan pekerjaan infrastruktur pada sejumlah titik itu, tidak terlepas dari upaya menjadikan Kota Semarang sebagai kota pelayanan. Infrastruktur yang representatif diharapkan akan menjadikan pelayanan publik semakin membaik, dan pada gilirannya akan menarik investor untuk menanamkan modal di kota ini. ''Para investor mengakui, kondisi sosial politik dan keamanan yang relatif kondusif merupakan salah satu keunggulan kompetitif Kota Semarang. Kalau itu ditunjang dengan infrastruktur yang bagus, perizinan yang mudah, cepat, dan murah, serta didukung sepenuhnya oleh masyarakat, maka keunggulan itu akan berbuah pada kemajuan Kota Semarang,'' katanya. Tak tanggung-tanggung, pada 2007, Wali Kota berencana memformulasikan konsep kota pelayanan dalam wujud Semarang Pesona Asia (The Beauty of Asia). Dikatakannya, dalam jangka pendek hal itu diwujudkan dalam bentuk pameran perdagangan dan kebudayaan, yang menghadirkan perwakilan dari negara-negara di Asia. Kalau tak ada aral, kegiatan itu akan dilaksanakan pada pertengahan atau akhir 2007. Gagasan yang dilontarkan Wali Kota seusai mengikuti eksibisi di Nanning, China, akhir Oktober hingga awal November lalu bersambut dengan pro-kontra. Banyak yang menilai slogan itu terlampau ngayawara, lantaran tidak didahului studi yang komprehensif dan mengabaikan aspirasi stakeholders kota. Selain itu, slogan ''Semarang The Beauty of Asia'' terasa tidak membumi, tidak sinambung dengan realitas wajah Kota Lunpia. (Achiar M Permana, Renjani PS, Hartono-43) |