logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Desember 2006 INTERNASIONAL
Line

Militer China Terus Dimodernisasi

BEIJING - China terus modernisasi militernya. Upaya kali ini dipusatkan pada peningkatan pasukan Angkatan Laut dan Udara. Pasalnya, negara tersebut kini menghadapi ancaman mulai dari sengketa perbatasan, pertikaian sejarah, dan Taiwan yang memiliki pemerintah sendiri, demikian menurut dokumen pertahanan yang disiarkan, Jumat.

Namun China tidak akan pernah terlibat dalam perlombaan senjata atau mengancam negara lain, kata dokumen kebijakan itu. Peningkatan anggaran pertahanan dan pembangunan militer China tersebut menjadi sumber perselisihan dengan Amerika Serikat.

''Angkatan Laut secara bertahap meningkatkan kemampuan tempur marinirnya dan kontra serangan nuklir,'' katanya.

''Angkatan Udara ingin mempercepat transisinya dari pertahanan udara teritorial ke operasi ofensif dan defensif, dan meningkatkan kemampuannya dalam bidang serangan udara, pertahanan udara dan rudal, peringatan dini, pengintaian dan proyeksi strategis.'' Presiden Hu Jintao pekan ini mendesak pembangunan satu Angkatan Laut China yang siap ''pada setiap saat'' bagi aksi militer.

Laporan itu juga membela pengeluaran militer China yang meningkat, dengan menegaskan anggaran itu lebih sedikit dibandingkan pendapatan per kapita AS, Inggris, Prancis, atau Rusia.

Ancaman Serius

''Berdasarkan pembangunan ekonominya yang terus dilakukan, China meningkatkan modernisasi pertahanan dan militernya, sesuai dengan kecenderungan militer di dunia, dan menjamin keamanan dan pembangunan nasional.''

''China tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata dengan negara lain dan tidak menimbulkan ancaman militer terhadap negara mana pun.''

Menurut dokumen itu, situasi keamanan China secara umum baik. Dokumen setebal 83 halaman itu juga menyebutkan Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya merupakan satu ancaman serius bagi stabilitas kawasan itu.

Dokumen tersebut juga menyatakan China menghadapi ancaman tidak hanya dari Taiwan tapi juga negara-negara lain, negara tetangga yang tidak disebutkan namanya.

''Masalah pertikaian perbatasan dan persoalan sejarah yang peka masih memiliki dampak pada lingkungan keamanan China,'' jelas laporan itu.

China di masa lalu pernah terlibat perang perbatasan dengan India, Vietnam, dan eks Uni Soviet. Saat ini, Beijing masih terlibat sengketa kepemilikan kepulauan di Laut China Selatan dengan Vietnam, Taiwan, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.

China juga tetap bertikai dengan Jepang, yang menduduki beberapa daerah negara itu antara 1931 dan 1945. Awal tahun ini, Tokyo menyerukan Beijing untuk lebih terbuka tentang militernya.

Namun laporan itu - dokumen pertahanan kelima China sejak 1998 - mengkhususkan musuh bebuyutan, Taiwan, bagi kecamannya.

''Perjuangan untuk menentang dan menguasai kekuatan pemisahan diri Taiwan dan kegiatan-kegiatan mereka adalah rumit dan suram.''

Upaya-upaya pemerintah Taiwan untuk mengubah konstitusi merupakan satu langkah ke arah mensahkan kemerdekaan pulau itu dan ini tidak dapat disetujui, tambah laporan itu. (rtr-ant-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA