| Sabtu, 30 Desember 2006 | INTERNASIONAL |
Thailand Selatan MencekamYALA - Situasi di Thailand selatan kembali mencekam Jumat kemarin. Kelompok separatis diduga menembak mati dua guru dari komunitas Buddha dan kemudian membakar jenazah mereka. Peristiwa memilukan itu makin menambah panjang deretan konflik perlawanan yang sudah berlangsung tiga tahun ini dan menewaskan lebih dari 1.800 orang. Kedua guru itu itu disergap saat menumpang truk di lokasi yang berjarak hanya 300 meter dari sekolah tempat mereka mengajar di Provinsi Yala. Pasukan keamanan saat ini sedang menghadapi gelombang baru serangan-serangan terhadap gedung-gedung pemerintah, para pegawai pemerintah dan warga sipil. Menurut polisi, serangan itu tampaknya untuk memperingati ulang tahun ketiga gerakan gerilyawan yang jatuh pada 4 Januari. ''Kami tahu mereka akan melakukan serangan itu, tetapi kami tidak tahu siapa sasaran mereka,'' kata Kolonel Polisi Pumipetch Pipatpetchpoom. ''Petugas di pos-pos penjagaan telah memblokir gerakan gerilyawan supaya tidak memasuki kota, jadi mereka menyerang sasaran di desa,'' tambahnya. Belum ada pihak yang mengklaim sebagai pelaku serangan tersebut. Hampir setiap hari terjadi serangan bom dan tembakan di tiga provinsi muslim di Thailand selatan yang berbatasan dengan Malaysia. Pemerintahan militer Thailand menggalakkan lagi upaya perdamaian di kawasan yang mayoritas penduduknya berbahasa Melayu itu, Wilayah muslim itu dulunya adalah kesultanan yang kemudian dianeksasi pemerintahan Bangkok sekitar seabad lalu. Namun, serangan-serangan separatis tak kunjung berhenti. Kementerian Pendidikan menyatakan, sebanyak 110 gedung sekolah diserang dan 71 guru dan staf sekolah tewas dalam berbagai serangan sejak Januari 2004.(rtr-gn-25) |