| Sabtu, 30 Desember 2006 | INTERNASIONAL |
PM Somalia Berkonvoi Masuki MogadishuMOGADISHU - Perdana Menteri Somalia Ali Mohamad Gedi memasuki Mogadishu Jumat kemarin diiringi konvoi bersenjata. Kerumunan warga berbaris di pinggir jalan saat perdana menteri pemerintahan interim itu memasuki ibu kota bersama rombongan 22 mobil. Enam truk dalam konvoi itu bermuatan senjata berat. Dia langsung menuju bandara internasional Mogadishu dan kemudian menuju pelabuhan baru kota itu. Para prajurit pemerintah Somalia berjaga-jaga di jalan-jalan sekitar lokasi. Tidak kurang dari enam truk militer ditempatkan di dalam wilayah pelabuhan. Tentara pemerintah Somalia dan sekutu Etiopia sehari sebelumnya berhasil merebut kembali ibu kota dari pendudukan milisi. Tentara segera menguasai bekas gedung kedutaan Amerika Serikat di Mogadishu barat, dan memperkuat posisi mereka di ibu kota. Warga kota mulai berani keluar rumah karena tembakan-tembakan sporadis sudah mereda. Tidak ada lagi penjarahan seperti terjadi Kamis lalu. ''Tentara pemerintah dengan dukungan pasukan Etiopia telah bermarkas di kompleks bekas kedutaan AS. Saya melihat lebih dari 30 truk militer buatan Rusia,'' kata Abdi Hassan, salah seorang warga yang ikut berkumpul di luar gedung itu. Kompleks kedutaan itu sudah ditinggalkan sejak sepuluh tahun lalu setelah pasukan AS dipaksa hengkang dari Somalia menyusul kegagalan misi militer. Kekalahan memalukan militer AS itu dikisahkan dalam film Black Hawk Down. Pasukan pemerintah berhasil menguasai sepenuhnya Mogadishu pada Kamis lalu setelah melancarkan serangan selama 10 hari lamanya dengan dukungan pasukan Etiopia. Ibu kota itu di bawah kekuasaan Dewan Mahkamah Islam Somalia sejak Juni lalu. Sidang Parlemen Gedi mengatakan. parlemen akan bersidang untuk memutuskan undang-undang darurat militer guna menjaga kendali atas negeri itu. Sebab, sejak tergulingnya diktator pada 1991 Somalia praktis tanpa pemerintahan pusat yang bekerja efektif. Gerakan islamis menjadi titik balik dramatis di negari Tanduk Afrika itu. Mereka menyebar ke selatan dan memberlakukan syariat yang keras serta mendesak mundur pemerintahan interim ke Kota Baidoa. Menurut para pakar, dukungan pasukan Etiopia dan serangan-serangan udara merupakan faktor penting kemenangan merebut ibu kota. Namun, masih banyak persoalan tersisa ketika Addis Ababa akhirnya menarik mundur pasukannya. Eritrea dituduh mendukung kubu islamis. Banyak pihak khawatir konflik itu akan mencengkeram seluruh wilayah Tanduk Afrika. Etiopia, seperti halnya Amerika Serikat, menyatakan kelompok militan itu didukung oleh Al Qaedah. Kubu militan dipandang sebagai ancaman langsung oleh Addis Ababa. Washington sendiri Kamis lalu mendukung keterlibatan Etiopia, dengan alasan pemerintahan Etiopia pimpinan Perdana Menteri Meles Zenawi berkepentingan terhadap situasi keamanan. Wakil Perdana Menteri Mohamed Hussein Aidid, salah satu dari beberapa gembong perang tangguh di Mogadishu mengatakan, ''Ini adalah hari kemenangan dan hari kembalinya hukum dan ketertiban,'' kata Aidid. Meski demikian, banyak warga tak sejalan dengan optimismenya karena mereka khawatir keadaan kembali tak terkendali setelah enam bulan suasana tenang di bawah naungan syariat Islam. (rtr-gn-25) |