| Sabtu, 30 Desember 2006 | EKONOMI |
Penurunan Suku Bunga Dorong KreditSEMARANG- Penurunan suku bunga domestik yang agresif menjelang penutupan tahun 2006 dipastikan akan mendorong penyaluran kredit perbankan, baik kredit usaha maupun konsumsi tahun 2007. Angka kisaran pertumbuhannya diperkirakan mencapai 15-18%. Hal itu didukung pula kebijakan moneter yang semakin longgar, sehingga prospek usaha bank di Jateng akan lebih baik. Pemimpin Bank Indonesia Semarang, Amril Arief, mengatakan kredit perbankan di Jateng telah tumbuh hingga 9,83% sampai posisi November 2006. Sementara posisi pertumbuhan kredit hingga akhir tahun nanti diperkirakan menyentuh kisaran 10-12%. Angka tersebut menunjukkan perkembangan positif, apabila dibandingkan dengan pertumbuhan kredit selama paruh pertama 2006. Pertumbuhan saat itu sampai 5,73% dibanding akhir tahun 2005. Oleh karenanya dalam waktu 4 bulan terakhir terdapat pertumbuhan realisasi kredit hingga 4%. ''Meski menunjukkan tren peningkatan ekspansi kredit, target pengucurannya pada tahun ini sebesar 18-20% sulit direalisasikan. Penyebab utamanya adalah sektor dunia usaha yang menurun serta suku bunga yang masih tinggi,'' katanya, kemarin. Amril menjelaskan lemahnya pengucuran kredit tahun 2006 itu terlihat pada loan to deposit ratio (LDR) yang berada di bawah 80%, setelah sejak Juni 2005. Posisi LDR November 2006 sebesar 79,95%, turun dari 81,63% di akhir tahun 2005. Tren penurunan juga terlihat pada kualitas kredit, yang ditandai dengan peningkatan rasio non performing loans (NPLs) dari 4,46% menjadi 6,17%. Perkembangan kredit menurut jenis penggunaan didominasi oleh kredit modal kerja Rp 29,2 triliun, dengan share 57,19%. Sedangkan pertumbuhan kredit tertinggi dialami oleh kredit konsumsi Rp 17,24 triliun, dan diikuti kredit investasi sebesar 8,00%. Berdasarkan sektor ekonomi, share terbesar adalah kredit perbankan disalurkan kepada sektor perdagangan sebesar Rp 16,5 triliun (32,30%), disusul sektor industri Rp 9,6 triliun (18,78%). Selain itu, tren pengucuran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapatkan porsi besar oleh perbankan. Persentasenya mencapai Rp 40,8 triliun atau 79,87% dari total kredit perbankan, dengan pertumbuhannya yang mencapai 15,8%. ''Kami juga mengupayakan pembentukan lembaga penjamin kredit bekerjasama dengan Pemda. Hal ini sebagai upaya mendongkrak kredit UMKM yang kesulitan dari sisi jaminan,'' katanya. (H22-59) |