| Sabtu, 30 Desember 2006 | BUDAYA |
Kemenangan ''Ekskul'' Tuai Ancaman BoikotJAKARTA - Kemenangan Ekskul sebagai film terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2006 berbuntut panjang. Kemenangan film yang juga menghantarkan Nayato Fio Nuala sebagai sutradara terbaik itu mengundang kekecewaaan beberapa insan film. Bahkan para pekerja, pegiat, dan sutradara film itu berniat memboikot penyelenggaraan FFI 2007 di Pekanbaru. Hanung Bramantyo, misalnya, langsung walk out begitu Ekskul yang berdasar sekenario Eka D Sitorus diumumkan sebagai film terbaik. ''Sejak awal penjurian kontroversial. Dewan juri, misalnya, tak memasukkan Berbagi Suami dan Opera Jawa sebagai unggulan film terbaik,'' ujar sutradara film Lenterta Merah itu. Padahal, ujar dia, Ekskul tidak orisinal. Sebab, mengambil terlalu banyak musik dari film-film Hollywood. Temanya pun mengingatkan pada film kontroversial Elephant (2003) arahan Gus Van Sant. Namun Noorca M Massardi, anggota Dewan Juri Film Bioskop bersama Eddy D Iskandar, WS Rendra, Remy Sylado, dan Rima Melati, mengemukakan ada pesan yang dekat dan sampai dalam Ekskul yang tak begitu kuat dalam film-film unggulan lain. Selain itu, kata dia, apa yang disampaikan lewat film produksi Indika Entertainment itu dekat dengan keseharian masyarakat. Namun dia juga mengakui film Denias: Senandung di Atas Awan arahan John De Rantau juga memuat pesan mulia: betapa penting dunia pendidikan. Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Ketua Penyelenggara FFI 2006 Djonny Syafruddin menyayangkan sikap para pekerja film itu. ''Di mana pun dewan juri pasti mempunyai kriteria penilaian sendiri. Kita harus menghormati keputusan mereka.'' Dia juga menyayangkan sikap insan film yang cenderung ogah diajak bicara tentang penyelenggaraan FFI. Namun mereka uring-uringan jika tidak menang. Slamet Rahardjo Djarot menegaskan dewan juri mempunyai kekuasaan mutlak. ''Meski, dewan juri juga bukan dewa.'' Karena itu, ujar aktor senior itu, seyogianya dewan juri tak menilai film cuma di ruang gelap. Namun Slamet menyatakan ketidakpuasan sebagian insan film itu adalah wujud kedinamisan FFI. Sementara itu, Ary Sihasale, produser dan salah satu pelakon dalam Denias, menyatakan penjurian FFI secara umum berjalan baik. ''Namun, bagi saya, Denias tetap film terbaik.'' Apakah ancaman dan cercaan atas penjuriaan FFI 2006 benar-benar bakal diikuti pemboikotan terhadap FFI 2007? ''Jika itu terjadi, yang rugi para pekerja dan insan film sendiri,'' ujar Djonny. Bagi dia, lebih ideal semua insan film duduk semeja untuk membicarakan permasalahan tersebut demi kemajuan perfilman nasional. (G20-53) |