| Sabtu, 30 Desember 2006 | BUDAYA |
Darah Tertumpah dalam KebengisanIntrik, dendam, dan asmara seolah-olah tak terpisahkan dalam jejaring kekuasaan. Darah yang tertumpah dalam penumpasan semua anggota kerajaan, masih tak cukup bagi sultan, raja, atau kaisar merasa nyaman duduk di singgasana. Itulah pesan film terbaru Zhang Yimou, Curse of Golden Flower. Film berjudul asli Man Cheng Jin Dai Huang Jin Jia ini, sebagaimana film besutan Yimou yang jadi box office di dunia, masih mengandalkan Istana Terlarang China sebagai latar dan pusat pengisahan. Cuma, berbeda dari filmnya seperti House of Flying Daggers dan Hero, kemegahan dalam film teranyar ini adalah jualan utama. Dia membesut film ini dengan mengandalkan kekuatan kostum masa Dinasti Tang abad ke-10 dengan berbagai pernik serta melibatkan ribuan figuran sebagai prajurit perang, plus efek adegan pertarungan nan mencengangkan. Kostum film ini menimbulkan kontroversi karena dinilai terlalu seksi. Sampai-sampai judul film ini dipelesetkan menjadi Curse of Golden Corset. Namun inilah karya sinematografi yang gemilang. Yimou yang tersohor sebagai sutradara, produser, penulis skenario, aktor, dan sinematografer juga melibatkan Chow Yun Fat dan Gong Li. Hasilnya, film yang memuncaki box office di dataran China ini menjadi salah satu calon untuk kategori film berbahasa asing terbaik Academy Award ke-79. Bumbu Penyedap Kisah film ini, seperti The Myth yang diperankan Jackie Chan dan Crouching Tiger Hidden Dragon besutan Ang Lee, secara stereotipe berpusat pada perebutan kekuasaan. Kisah asmara, kebencian, kecemburuan, dan dendam adalah bumbu penyedap. Yang berbeda, sekali lagi, adalah penyajian kemegahan Istana Terlarang. Itulah daya tarik utama di antara silang-sengkarut kepentingan dalam perebutan kekuasaan. Adik membunuh kakak. Ayah membunuh anak. Kaisar berkepentingan atas kematian sang permaisuri, bahkan memerintah putra mahkota membunuh sang ibu yang melahirkannya. Akhir cerita pun berdarah-darah. Tak ada belas kasihan. Tak memandang saudara sedarah. Atas nama singgasana, semua yang dianggap mengganggu kesentosaan kerajaan patut dimusnahkan. Ya, dalam kemegahan Istana Terlarang saat festival bunga serunai, darah seolah syarat utama kelanggengan kekuasaan. Dan Yimou secara berterang mengingatkan, betapa tipis batas antara wajah ramah kekuasaan dan kebengisan. (Benny Benke-53) |