| Sabtu, 30 Desember 2006 | BANYUMAS |
Laporan Akhir Tahun (Habis)Bertekad Rebut Juara Umum Porda 2009KABUPATENBanyumas memang menjadi juara umum Porda Jateng 2005, tetapi gagal menjadi tuan rumah pada event yang sama tahun 2009. Kegagalan itu, setelah kalah voting dengan Surakarta yang meraih 39 suara, sedangkan Banyumas hanya memperoleh 36 suara, pada rapat paripurna daerah (Raparda) KONI Jateng, beberapa waktu lalu. Kegagalan itu, menurut analisa Ketua Harian KONI Banyumas Sukardi, karena kurangnya sarana dan prasarana olahraga di daerahnya. Fasilitas yang ditawarkan Banyumas memadai, tetapi sebagian masih tahap perencanaan. Sedangkan Surakarta memiliki fasilitas yang memadai dan sudah siap secara fisik. Walau kecewa, kata dia, namun tak mengendurkan semangat untuk kembali merebut juara umum. Mulai awal tahun, KONI bersama pengurus cabang olahraga, pelatih, atlet akan bekerja keras lagi. Berbagai program kini telah disusun. Di antaranya, pemberian insentif atlet dan pelatih, serta mengadakan pekan olahraga kabupaten (Porkab). Makin Berat Sukardi mengatakan tantangan yang dihadapi semakin berat, karena ada daerah yang berambisi menjadi juara umum, yakni Semarang dan Surakarta. Untuk itu, KONI menyusun analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Kekuatannya adalah memiliki atlet berprestasi nasional dan internasional. Yaitu 29 atlet PON, enam atlet Sea Games, satu atlet dan satu pelatih Asian Games, serta 80 atlet dan 25 pelatih insentif sejak 2005. Kelemahan, beberapa pengurus cabang olahraga tak dapat mencetak atlet. Keterbatasan mengakses iptek, kelangkaan daya dukung laboratorium, kepustakaan dan keterbatasan sarana dan prasarana. Meningkat Ancamannya, petugas pertandingan tak konsisten dan diskriminatif, wasit juri menjadi musuh kedua di cabang olahraga tak terukur, masalah jual beli atlet dan larangan atlet Sea Games tak boleh dimainkan di Porda. Peluang yang dimiliki Banyumas adalah sejak 1991 sampai 2005 perolehan medali meningkat terus. Pada 1991memperoleh 34 medali emas, 1995 (42 emas), 2001 (63 emas) dan 2005 (72 emas). Komposisi pengurus KONI, yang merupakan gabungan unsur politis dan teknis, juga merupakan kekuatan tersendiri. Ketua Umum Aris Setiono adalah bupati, memiliki kekuatan politik. Di jajaran pengurus terdapat lima sarjana olahraga dan beberapa sarjana bidang lain, sebagian besar dosen Unsoed. Keberadaan mereka membuat KONI mampu menyusun program pembinaan yang terarah dan ilmiah. Salah satu buktinya, pada periode tertentu semua atlet yang dibina secara intensif wajib mengikuti tes kebugaran. Untuk 2006, tes itu dilaksanakan di GOR Satria, Jumat (29/12). Selain itu, ada penataran pelatih dalam menyusun program latihan. (Budi Hartono-55). |