logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 28 Desember 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Penipuan Atasnamakan Kantor Pelayanan Pajak

Sehubungan sering terjadi penipuan yang mengatasnamakan kepala Kantor Pelayanan Pajak Semarang Selatan Drs Yudi Sutiana Garda yudia Ak MM, kami mohon masyarakat berhati - hati baik lewat surat, telepon dan sebagainya yang tidak jelas sumbernya.

Bila mengetahui hal tersebut agar hubungi kantor Pelayanan Pajak Semarang Selatan di (024) 7475106. Dengan kerjasama masyarakat, tindak kejahatan yang mengatasnamakan pejabat atau instansi dapat diminimalkan.

Drs Yudi Sutiana Gardayudia Ak MM

***

Tanda Tali Asih

Alangkah bahagianya para pensiunan PNS/TNI/Polri/Veteran dan janda pensiunan, bila ada fraksi di DPR-RI yang memprakarsai usulan kepada Menpan, Menko Kesejahteraan Rakyat, Menkeu dan Presiden agar para pensiunan tersebut diberi dana kesejahteraan hari tua sebesar Rp 300,000/bulan sebagai tanda tali asih atas pengabdiannya kepada NKRl,

Soengkowo Hs.

Jl Kanoman 131 Bancar, Purbalingga

***

Mengatasi AIDS

Tanggal 1 Desember lalu peringatan Hari AIDS sedunia. AIDS penyakit yang disebabkan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang ditemukan kali pertama tahun 1981 di Amerika dan terus menyebar ke-150 negara termasuk Indonesia. Berdasarkan data PBB, saat ini ada 6.8 juta penderitanya.

Indonesia hingga September 2006 terdata, pengidap HIV positif mencapai 4.617 orang dan AIDS 6.987 orang. Penyakit ini terus meningkat bagai gunung es jika tidak segera ada upaya mencegah dan mengatasi. Hal yang harus dilakukan, mencegah dan menghilangkan akar penyebabnya.

Semua tahu penyebab utama penularan virus ini seks bebas, pelacuran, homoseks, lesbianisme, di samping ada cara penularan lain seperti pengguna narkotika dan jarum suntik.

Hal itulah yang harus ditiadakan/diharamkan. Penggunaan narkoba, perzinahan dan perbuatan yang mengantarkan pada perzinahan harus dilarang, bukan dilegalkan.

Langkah yang dilakukan Pemerintah dengan kampanye penggunaan kondom (kodomisasi), pendidikan seks dan kesehatan reproduksi bagi remaja agar mampu melakukan hubungan seks secara sehat dan tidak berisiko hanya melegalkan perzinahan dan tidak mampu mencegah penularan penyakit ini.

Di AS saja menunjukkan kondomisasi gagal untuk mencegah AIDS. Terbukti, pori-pori lateks bahan pembuat kondom berdiameter 1/60 mikron, sementara virus HIV berukuran 1/250 mikron. Jadi, pori-pori kondom empat kali lebih besar daripada virus. Ini ibarat tikus masuk jendela rumah, langsung bablas.

Jadi, kondom bukanlah solusinya. Selama penyebab utama penyebaran virus itu yakni seks bebas, pelacuran, homoseks, lesbianisme tetap dibiarkan, bukan mencegah malah menyebarkan AIDS.

Agustin Lisafitri

Jl Tmn Sri Rejeki Tmr II/9 Semarang

***

Pengait Tiang Listrik

Beberapa tahun lalu tanah pekarangan saya dipasang tiang Listrik dan skur pengait oleh PLN UPJ Randudongkal, Pemalang tanpa permisi pemilik tanah. Karena tanah tersebut akan saya bangun rumah maka tiang listrik, minimal skurnya harus dilepas atau digeser.

Namun setelah disampaikan ke PLN, dengan alasannya untuk pemindahan dan lain-lain saya dikenai biaya sebanyak Rp. 2.723:000 yang jumlah itu di luar jangkauan saya. Jadi dalam kasus ini ibarat "seseorang yang menaruh barang tanpa permisi pemiliknya,kemudian saat disuruh geser malah yang punya tanah harus mengeluarkan uang". Barangkali ada pihak yang dapat membantu saya sebagai rakyat kecil atau meberi solusi.

Thoif Taswadi

Karangmoncol Rt 1/Rw 1

Randudongkal, Pemalang

***

Belanja di Ramayana

Awal Desember 2006 saya membeli celana pendek dari keranjang diskon di Ramayana Dept Store (Mall Ciputra) Semarang. Di keranjang pertama berisi kemeja dan celana pendek merk Benhill tertulis diskon 70%. Keranjang satunya lagi berisi celana jeans (dan sejenisnya) dengan diskon 50%. Saya memilih 2 celana pendek yang tertulis diskon 70% tapi oleh kasir ternyata hanya didiskon 50%.

Pramuria yang dipanggil menjelaskan, diskon 70% hanya berlaku untuk kemeja. Meski agak ragu akhirnya saya menerima karena terlanjur membayar. Saya kembali ke area keranjang untuk memastikan dan pada keranjang celana pendek jelas tertulis diskon 70%.

Memang dalam satu keranjang ada celana pendek dan kemeja. Tapi tak diberi keterangan mana yang diskon 50% dan yang 70% agar konsumen tahu diskon hanya berlaku untuk barang tertentu saja. Sepengetahuan saya, diskon yang tertera pada lokasi penempatan barang, berlaku untuk barang tersebut.

Jika ada perbedaan merupakan hak dari konsumen untuk mendapat penjelasan dari counter atau pramuniaga. Pertanyaan saya, siapakah penata display produk, kebijakan manajemen atau yang memproduksi (Benhill). Jika penataannya seperti yang saya alami, bukankah mengecoh (bahkan cenderung merugikan ) konsumen.

Apakah benar diskon hanya berlaku untuk item tertentu saja, walau beberapa item yang berbeda ditempatkan pada satu keranjang sama. Mohon manajemen memberi tanggapan dan yang memahami hak konsumen bisa memberikan pengetahuannya.

Ika Wilasari

Gaharu Utara VII/92, Semarang

***

Penggandaan Flexi

Saya pelanggan Flexi Home 024-70779801 sejak 2 tahun lalu. Selama ini tidak ada masalah namun bulan November 2006, tagihan membengkak menjadi Rp 652.197 dari biasanya sekitar Rp 80.000/bulan. Dari print out Telkom, ternyata banyak nomor telepon dan tujuan baik lokal maupun interlokal yang tak saya kenal.

Yang lebih aneh, setiap 5 menit - 10 menit sekali terjadi pemakaian telepon keluar, yang saya ibaratkan seperti di wartel. Akhirnya 9 November kejadian ini saya sampaikan ke Telkom, dengan permintaan pemblokiran sementara. Menurut pihak Telkom ada kemungkinan terjadi penggandaan nomor telepon.

Atas laporan tersebut maka dijanjikan sekitar 2 minggu permasalahan ditanggapi. Namun sampai saat ini Telkom belum pernah menghubungi/membantu menyelesaikan. Yang disayangkan, bagaimana mungkin Telkom di tengah persaingan operator lain, tidak dapat melindungi pelanggannya.

Apakah tidak ada sistem yang dapat mencegah penggandaan nomor telepon, misal mengecekan berkala untuk mengetahui apakah ada yang digandakan. Jangan sampai setelah pelanggan dirugikan, pihak Telkom baru bertindak. Yang jelas uang pelanggan yang terlanjur dibayarkan tak dapat ditarik kembali.

Saya imbau masyarakat lebih berhati-hati memilih operator telepon, karena nama besar belum tentu dapat menjamin kepuasan pelanggan. Untuk pihak Telkom saya tunggu tanggapannya.

Budhi Wahyudi ST

Jl Jatiluhur 18 Ngesrep, Semarang

Topik di Media Massa

Ada dua topik menarik yang menghiasi media masa akhir-akhir ini yaitu poligami dan perselingkuhan. Begitu menariknya sehingga mengundang polemik dan wacana di masyarakat. Ada kiai berpoligami, bukan hal baru. Di sisi lain ada seorang pejabat publik berselingkuh juga bukan hal baru.

Yang pertama panutan umat, yang kedua panutan rakyat (minimal pemilihnya). Yang pertama melakukan sebagai ibadah, sah secara hukum, terang-terangan, seizin istri dan anak. Sedang yang kedua melakukan atas dasar nafsu, melanggar hukum, sembunyi-sembunyi, mengkhianati anak dan istri.

Yang pertama menjaga kesucian dan kehormatan, sedang yang kedua mengumbar syahwat. Pertanyaan, mengapa yang pertama banyak dihujat, sedang terhadap yang kedua reaksi masyarakat sepertinya datar-datar saja. Ada apa dengan masyarakat. Menyimak pernyataan anggota DPR Permadi, bahwa kasus kedua yaitu Yahya Zaini hanya kebetulan orang yang sial alias apes.

Ini berarti perselingkuhan dan perzinahan merupaka hal "biasa" di kalangan mereka. Saya pernah membaca artikel MH Ainun Najib berjudul "Perempuan di Atas Piring". Perempuan merupakan "suguhan" paling mengundang selera, mentradisi bagi para pejabat yang datang ke daerah.

Perempuan tidak pernah lepas dari politik dan bisnis sehingga menjadi "menu" utama pada jamuan lobi tingkat tinggi. "Perempuan" dilibatkan bukan karena derajat 'ke-perempuan-nya' tetapi lebih karena 'ke-empukan-nya'. Rupanya keadaan sekarang lebih parah lagi, bahwa "suguhan" itu bukan hanya didapati di daerah, tapi justru siap saji di kamar anggota dewan yang terhormat.

Tulisan ini bukanlah pembelaan terhadap tindakan Aa Gym berpoligami, tapi sekadar mengajak, semestinya apresiasi dilakukan secara wajar dan proporsional. Untuk Teh Ninih, salut atas ketegarannya. Surga telah menantimu.

Sukirman

Kedungbanteng Rt 5/Rw 2, Purwokerto


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA