| Kamis, 28 Desember 2006 | NASIONAL |
Calon Gubernur PKB Ditentukan di MuskitSEMARANG- Calon gubernur yang akan diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akan ditentukan lewat Musyawarah Kebangkitan (Muskit). Mereka yang bakal diusung, diutamakan kader PKB dan Nahdlatul Ulama (NU). Penegasan itu disampaikan Ketua Dewan Tanfidz DPW PKB Abdul Kadir Karding seusai membuka Pelatihan Jurnalistik, Kaderisasi, Kesekretariatan dan Keuangan PKB di LPMP Srondol Semarang, Rabu (27/12). Menurut Kadir, pada pemilihan gubernur nanti PKB mempunyai sistem tersendiri untuk menentukan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung. Pasalnya, partai tersebut berhak mengusung secara mandiri pasangan calon karena memenuhi syarat untuk itu. "Namun soal kecenderungan PKB akan mengusung siapa sampai sekarang belum ditentukan. Kalau sudah ada kecenderungan itu hanya rumor, kami belum punya kecenderungan kepada siapa pun. Sekarang kami masih pada tahap menyerap kecenderungan itu," kata dia. Kiai NU dan PKB PKB, lanjut Kadir, sekarang sedang tahap konsolidasi setelah melalui masa konflik dan recovery. Lagi pula, di PKB ataupun di NU ada tiga hal pokok yang harus diakomodasi untuk penentuan calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung. Mereka yang harus diakomodasi itu yakni para kiai sepuh, NU, dan PKB. "Kalau salah satu masih ada yang berbeda, pencalonan belum bisa dilakukan atau berjalan," kata Kadir yang juga Wakil Ketua DPRD Jateng ini. Di samping mengutamakan kader PKB dan NU, calon gubernur yang ingin diusung PKB adalah mereka yang berpengalaman mengelola eksekutif. "Kalau calon wakil gubernur tidak harus berpengalaman di tubuh eksekutif," tandasnya. Beberapa calon yang selama ini santer beredar di masyarakat, ungkap Kadir, sudah menghubungi PKB seperti HM Tamzil, Bambang Sadono, dan Chaerul Rasjid. "Pak Ali Mufiz secara jujur belum pernah berkomunikasi soal rencana pencalonan pada pilgub nanti dengan kami. Kalau urusan pemerintahan berkali-kali ketemu," kata Kadir. Kadir sendiri ketika ditanya soal keinginannya untuk maju dalam pencalonan mengaku tidak berminat dengan hal tersebut. Dia memilih untuk berkonsentrasi pada pembenahan partai. Sementara itu, Ali Mufiz saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai pencalonannya masih terkesan berfilosofis. Ibarat mengerjakan shalat ashar, Ali Mufiz mengaku, baru menyelesaikan tiga rakaat. "Jadi saya harus menyelesaikan empat rakaat dulu," kata dia saat ditemui di ruang kerjanya Gedung A Kantor Gubernuran Jl Pahlawan, Semarang.(G17-41) |