| Kamis, 28 Desember 2006 | EKONOMI |
Klinik MarketingEntertain LeadershipPertanyaan : Saya pernah mendengar istilah personal branding, yaitu membangun merek individu seseorang, sehingga laku di pasaran. Terkait hal itu, saya ingin menanyakan persoalan pribadi sebagai seorang manager di sebuah perusahaan biro jasa perjalanan di Semarang. Jujur saja, saya sebenarnya sangat antusias untuk mendedikasikan seluruh kemampuan untuk kemajuan perusahaan. Setiap pagi saya selalu membrief dan memotivasi anak buah untuk meningkatkan kinerja. Saya cukup keras mengawasi aktivitas mereka, sayangnya manakala saya off sebentar, mereka kembali letoy. Untuk mengkonsistenkan semangat, saya sebenarnya cukup keras memberlakukan program reward & punishment. Jadi saya menunjukkan obyektivitas, siapa yang berprestasi dia akan mendapatkan penghargaan (bonus, hadiah khusus, dan lainnya). Sayangnya semua tetap lesu. Terimakasih. Mucharom. DT Semarang Jawab: Pertanyaan anda bisa masuk ke dua disiplin ilmu. Pertama, masuk ranah HRD, yaitu bagaimana menggerakan semangat karyawan yang letoy dan cenderung menolak setiap program yang dianjurkan. Kedua masuk ranah marketing, yaitu masalah personal branding. Bagaimana membuat merek individu, sehingga konsumen benar-benar loyal dan menghargai. Saya jadi tertarik menggabungkan kedua ranah ini dengan memberi judul klinik ini entertain leadership. Secara sederhana, kita bisa menarik benang merahnya, Leadership adalah aspek kepemimpinan yang oleh kalangan HRD selalu dibicarakan di berbagai forum. Sementara Entertainment adalah aspek yang sangat dekat dengan orang-orang marketing. Selintas soal brand personal, kita tidak bisa lepas dengan beberapa elemennya, seperti positioning dan targeting. Positioning, artinya anda ingin dianggap apa oleh konsumen. Selintas tanpa disengaja, sebenarnya anda sudah menanamkan posisi sebagai pimpinan yang disiplin dan kerja keras. Tapi ada satu lagi yang ikut di positioning anda, yaitu kaku. Leadership Dalam ranah leadership, aspek disiplin dan wibawa memang perlu, tapi kalau kemudian diikuti dengan kaku, tidak mau menerima saran, usulan, dan masukan dari bawahan, biasanya mereka hanya menjadi bawahan yang patuh, tapi tidak memiliki komitmen. Kondisi inilah yang nampaknya terjadi di lingkungan kerja anda. Saat ini yang perlu diperbaiki, yakni masalah fleksibilitas, kelenturan untuk menerima masukan atau usulan dari orang lain. Ini memang bukan masalah gampang. Lihatlah bagaimana calon pejabat yang kampanye menyatakan dirinya terbuka menerima kritik, namun setelah terpilih bahasa tubuhnya saja sudah berubah total, apalagi dalam menerima kritik. Purwantono, GM hotel Horizon Semarang secara bercanda pernah mengemukakan istilah entertain leadership, yaitu kepemimpinan yang memiliki kecerdasan memberikan entertainment kepada orang yang dipimpinnya. Ambil contoh Ary Ginanjar (ESQ), dan Hermawan Kartajaya (MarkPlus. Ary Ginanjar memiliki kecerdasan di bidang entertain, sehingga produknya ESQ menjadi sangat dihormati pesertanya. Begitu pula Hermawan Kartajaya, ditangannya marketing menjadi sangat populer, karena beliau memiliki kemampuan meng-entertain karyawan dan konsumennya dengan baik. Kedua memiliki brand personal yang sangat kuat, sehingga pasarnya sangat loyal. Saya hanya ingin menekankan, dengan entertain, karyawan tidak tersiksa oleh target-target yang anda suarakan setiap pagi. Kelihatannya, karyawan anda merasa tergusur "kenyamanannya" oleh slogan yang anda lempar terus menerus. Memberi semangat perlu, tapi bagaimana mengemasnya menjadi su atu pesan yang merangsang emosi, bukanlah pekerjaan mudah. Anda lihat saja sekarang pemuka-pemuka agama mulai menjadikan entertain sebagai pembungkus pesan rohaninya. Entertain bukan barang tabu sebagai pembungkus yang tidak menghilangkan isinya. Jadi saat ini, kalau ingin membangun brand personal, mesti mereposisi merek anda di hadapan bawahan, dari Mucharom - Disiplin, Kaku, menjadi Mucharom Disiplin, Humanis. Reposisi masih bisa dilakukan, asal anda mulai mampu beradaptasi dengan gaya bicara, gaya canda, dan pola pikir karyawan. Saya yakin anda bisa memasukkan nilai-nilai idealis anda. Ingat entertain leadership. Anda harus meng-entertain bawahan, karena mereka sebenarnya juga customer anda. Tapi jangan lupa, entertain ini hanya bungkusnya, jadi isinya jangan sampai hilang. Nah mas Mucharom, kalau anda ingin berlatih membangun ketrampilan meng-entertain anak buah, silakan hubungi SWAConsult phone : 024 3557275. Salam Pemasaran ! (33) |