logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 28 Desember 2006 BUDAYA
Line

Berbahasa Indonesia, Kehilangan Nges

"JANGAN revolusi dong. Itu berbahaya,'' ujar Semar ketika Bima menawarkan jalan revolusi untuk mengatasi kisruh di Amarta. Pementasan wayang menggunakan kata "revolusi"? Tak perlu heran. Sebab, wayang berlakon Semar, Semar, Semar di halaman RRI Semarang, Sabtu (23/12) malam, itu berbahasa Indonesia.

Maka, tak hanya kata "revolusi" yang muncul. Ada juga integritas, korupsi, pornografi, dan bahkan ungkapan yang lebih lu-gue, seperti "oke deh".

Tiga dalang yang memainkan, yakni Ki Enthus Susmono, Ki Warseno Slenk, dan Ki Joko ''Edan'' Hadiwijoyo, memakai bahasa nasional untuk menghormati Ketua Umum DPP Partai Golkar HM Jusuf Kalla yang menonton pakeliran itu.

Semar, Semar, Semar mengisahkan huru-hara di Amarta. Gejolak itu terjadi akibat ulah Semar gadungan, jelmaan para musuh Pandawa. Pada pengujung kisah, kisruh terredam oleh kebijaksanaan Semar asli, jelmaan Batara Ismaya, yang merupakan representasi rakyat.

Lewat wayang berbahasa Indonesia itu, ketiga dalang leluasa menyampaikan kritik kontekstual. Maka, seperti tak bisa dibendung, meluncurlah sindiran tentang pejabat korup, anggota DPR sibuk dengan urusan kelamin, hingga saling sikut berebut kuasa antarpolitikus.

''Bagaimana bisa berharap pada anggota dewan jika sehari-hari mengurusi masalah rohani, tetapi malah asyik menjadi pelaku pornografi,'' sindir Enthus, yang kontan disambut tepuk tangan penonton.

Dia melontarkan sindiran yang mengacu ke kasus rekaman mesum YZ-ME itu pada khalayak yang tepat. Ya, mereka sebagian besar adalah politikus. Misalnya, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono dan Muladi.

Gampang Dicerna

Kolaborasi tiga dalang itu mengingatkan pada wayang berbahasa Indonesia yang dipentaskan secara rutin di Taman Mini Indonesia Indah sekitar dua dekade lalu. Pementasan berbahasa Indonesia membuat wayang kulit lebih gampang dicerna.

Bahasa yang biasanya jadi kendala bagi penonton wayang untuk memahami lakon, tak menjadi persoalan lagi. Jusuf Kalla yang asli Sulawesi Selatan pun bisa terpingkal-pingkal ketika ketiga dalang melontarkan guyonan.

Namun jika dimat-matke, terasa ada yang hilang dari pementasan itu. Ya, pementasan itu kehilangan rasa nges. Aksi ketiga dalang itu terasa kurang gandem karena antawacana dan suluk dialihbahasakan.

Kenakalan clemongan ''kasar'' khas Ki Enthus, Ki Warseno, atau guyonan asosiatif Ki Joko Edan jadi terdistorsi. Boleh jadi, kepatuhan cukup ketat pada naskah membuat keliaran mereka tak meluncur secara leluasa.

Pada sesi suluk, mereka acap terdengar seperti sekadar membaca. Kali lain, mereka seperti tiga penyair sedang mendeklamasikan puisi.

Baru, ketika Jusuf Kalla meninggalkan tempat dan antawacana berpindah ke bahasa Jawa, keliaran mereka muncul kembali. (Achiar M Permana-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA