| Kamis, 28 Desember 2006 | BUDAYA |
Slank Menggelar "Slank Fest 23rd Indie"PERJALANAN bermusik Slank yang diawaki Kaka, Bimbim, Ridho, Ivan, dan Abdi telah memasuki tahun ke-23. Tentu bukan perkara mudah mempertahankan grup band yang selalu mendengungkan spirit indie itu. Penggemar fanatik adalah salah satu kunci Slank bisa bertahan di jalur indie label. Dan, sebagai wujud terima kasih kepada Slankers alias penggemar fanatik, Slank bakal menggelar perayaan ulang tahun bertajuk "Slank Fest 23rd Indie". Acara itu diadakan di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta, kemarin pukul 16.00. "Itu adalah wujud apresiasi kami kepada Slankers," ujar Kaka saat syukuran ulang tahun ke-40 Bimbim, ke-35 Ivan, dan ke-23 Slank. Acara sederhana itu diselenggarakan di markas Slank, Gang Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan, pas hari Natal lalu. Apresiasi Slank terhadap Slankers dan grup band jalur indie akan lebih kentara jika dilihat dari tata panggung dengan pilihan konsep "rumah". Itulah lambang indie karena karya mereka umumnya diproduksi di rumah-rumah. Semangat Indie "Konsepnya seperti kami di rumah kedatangan tamu. Jadi ada dua panggung. Pertama, kamar Slank. Kedua, ruang tamu. Indie itu biasa membuat semuanya di kamar, dari home recording, home studio, sampai ide. Tema ultah ke- 23 Slank independen, seperti di rumah sendiri," ucap Bimbim. Untuk merayakan semangat indie, Slank menggamit band indie yang mampu menembus dapur rekaman berskala label mayor. Mereka adalah Sheila on 7, Steven & Coconuttreez, Nidji, Shaggydog, The S.I.G.I.T, White Shoes & The Couple Company, Sore, Suicidalsinatra, Getah, Razzle, Meteor, Flowers, Katabatic, Trio Macan, dan Big Bang. Grup band yang dimanajeri Bunda Ivet itu juga ingin menembus pangsa pasar AS. Dua tahun mereka mencurahkan segenap daya untuk membuat album berbahasa Inggris. Apakah ciri musik mereka berubah? "Slank tetap Slank. Cuma bahasanya bukan bahasa ibu aja. Kami ingin go international, insya Allah dunia. Kami sudah ngumpulin materi selama dua tahun," ujar Bimbim. (kl,gbs-53) |