logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Desember 2006 PANTURA
Line

Usaha Tenun ATBM Lesu

PEKALONGAN- Usaha kerajinan tenun alat tenun bukan mesin (ATBM) di Medono, Pekalongan, lesu. Kondisi tersebut dialami pengusaha, terutama golongan kecil, sejak tahun 2004.

Zakaria (43), pengusaha tenun "KP2" di Medono mengatakan, stok produknya masih menumpuk akibat tidak adanya permintaan dari pelanggan.

Karena permintaan sepi, dia pun menghentikan produksi. Dia menduga, kemacetan produksi itu akibat persaingan harga yang kurang sehat yang dilakukan oleh sesama pengusaha. "Yang punya modal banyak menjual dengan harga lebih murah. Pengusaha dengan modal terbatas tidak dapat mengimbangi persaingan itu," ujar dia.

Pengusaha lain, Khudhori (40), pemilik usaha tenun "Lufitex" merasakan kondisi yang sama. Namun, sampai sekarang dia masih memproduksi, meski dengan kapasitas yang dikurangi.

"Dulu, omzet bisa mencapai Rp 60 juta per bulan. Puncaknya tahun 2000 hingga 2003. Sejak 2004, omzet paling-paling Rp 25 juta per bulan," tuturnya.

Ditambahkannya, kini di kompleks tersebut terdapat sedikitnya 100 pengusaha tenun dengan kondisi yang sama. Paguyuban "Mandiri" yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan itu, lanjut Khudhori, pada kenyataannya tidak dapat mengondisikan penyeragaman harga dan pemasaran yang menjadi kendala utama.

"Usaha kami seperti hidup segan mati tak mau. Kami memerlukan modal hibah atau dengan bunga ringan. Selama ini, kami mendapatkan pinjaman dari sejumlah bank dengan bunga yang cukup memberatkan," ungkap dia.

Pameran

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, Dra Retno Hastuti Susilo Hatmanti mengatakan, pihaknya akan terus mengupayakan pemasaran produk unggulan Kota Batik itu. Misalnya, melalui penyelenggaraan pameran atau mengajak para pejabat dan relasi dari daerah lain mengunjungi Medono sebagai sentra tenun ATBM. Namun demikian, dia juga berharap pengusaha ikut aktif mencari pelanggan.

Mengenai permodalan, pihaknya juga siap membantu pengusaha mendapatkan kredit dengan bunga yang cukup ringan, yakni sekitar 6 persen per tahun dari sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) seperti PT Telkom, PLN, Jasa Marga, dan lainnya. (H26-65)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA