logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Desember 2006 PANTURA
Line

Petani Sulit Peroleh Pupuk Urea

SLAWI- Memasuki musim tanam, petani di Kabupaten Tegal mulai kesulitan memperoleh pupuk urea. Padahal, mereka sangat membutuhkannya. Jika kelangkaan itu tidak segera diatasi, dikhawatirkan berdampak pada produksi padi.

Petani juga mengeluhkan harga pupuk yang melebihi harga eceran tertinggi (HET), Rp 1.200/kg. Rata-rata mereka membeli Rp 1.300/kg-Rp 2.000/kg.

"Untuk mendapatkan pupuk saya harus memesan hingga empat kali. Kali pertama pesan pada pertengahan November dan baru dapat Minggu (24/12) lalu. Sekarang pupuk sulit didapat. Harganya juga mahal," kata Ruminah (45), petani di Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru.

Dia membeli urea Rp 67.000/sak yang berisi sekitar 50 kg. Ruminah membelinya dengan cara berutang pupuk pada kelompok tani. Dia mengaku tidak mampu membeli secara kontan. Sebab, harganya jauh lebih mahal jika dibanding berutang. "Pupuk baru saya bayar setelah panen. Kalau membeli kontan di toko-toko harganya mencapai Rp 70.000/sak, sedangkan ecerannya Rp 2.000/kg," ujar dia.

Keluhan serupa disampaikan Taswadi, petani asal Dukuhwaru. Untuk memupuk satu hektare padi, ia membutuhkan 7 kantong urea.

"Biaya perawatan padi cukup mahal. Karena itu saya tidak setuju pemerintah mengimpor beras. Sebab, dikhawatirkan saat panen harga beras anjlok, sehingga petani makin terpuruk," tuturnya.

Operasi Pasar

Kabid Pertanian dan Ketahanan Pangan Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan (Distanhutbun) Kabupaten Tegal Ir Toto Subandriyo mengatakan, harga pupuk di pasaran memang cukup tinggi, antara Rp 1.300/kg hingga Rp 1.600/kg.

Hal itu terjadi di daerah yang sulit dijangkau dengan kendaraan, seperti Kecamatan Bumijawa, Bojong, dan Jatinegara. Menurutnya, kenaikan harga disebabkan beberapa faktor, seperti kurangnya alokasi urea.

Kebutuhan Kabupaten Tegal 23.000 ton/tahun, namun alokasinya hanya 20.000 ton/tahun. Dengan demikian, masih kekurangan 3.000 ton/tahun.

"Kemungkinan lain akibat dampak rencana kenaikan harga pupuk," terangnya.

Untuk itu, perlu segera dilakukan operasi pasar (OP). Pihaknya akan berkoordinasi dengan PT Pusri dan Pemprov Jateng, meminta penambahan jatah pupuk untuk operasi pasar. (H3-65)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA