| Rabu, 27 Desember 2006 | WACANA |
Surat PembacaRatu Keramik PekojanSaya membeli mirror box cabinets seharga Rp 75 ribu beberapa waktu lalu di Ratu Keramik Jl Pekojan Semarang. Karena warna saya inginkan tidak ada, disuruh menunggu untuk diambilkan dari gudang. Namun uang Rp 75.000 dia minta. Saya setuju, karena saya pikir paling hanya 10 menit. Setelah hampir satu jam barang belum juga datang, saya batalkan pembelian dengan menarik uangnya tapi mereka menolak. Sambil agak emosi saya berujar:"Lebih baik kembalikan Rp 50.000 saja daripada menunggu lama". Tidak terduga "gurauan" tersebut ditanggapi serius. Seorang pegawainya mengejar saya sambil memberikan uang Rp 50.000. Gila, ini benar-benar raja tega. Masak baru satu jam sudah ambil "uang tanda tak jadi" Rp 25.000 (30%). Yang saya persoalkan bukan jumlah uangnya (karena tidak seberapa), namun perlakuan toko sebesar itu masih juga culas. Padahal saya telah belanja keramik padanya lebih dari Rp 15 juta pada dua tahun lalu. Saya kecewa dan berjanji tidak akan belanja lagi ke sana. Drs Saratri Wilonoyudho Jl Dewi Sartika Raya 44, Semarang *** Klarifikasi Erlin Saya Erlin Ernawati Jl Beruang Raya I/40 B Semarang, mengklarifikasi Surat Pembaca 20 Desember 2006 berjudul '' Waitres atau Dancer'' yang dikirim oleh orang yang mengaku Erlin Ernawati dengan nma serta alamat saya. Padahal saya tidak pernah menulis hal tersebut. Saya mengharap pihak Bleu Lounge khususnya serta pihak terkait menerima klarifikasi saya ini dan atas nama pribadi saya minta maaf kepada Blue Lounge karena pencemaran nama baik atas tulisan tersebut. Justru saya adalah korban dari orang yang tak bertanggung jawab yang akan menjatuhkan nama baik. Saya imbau pembaca jangan mudah memberi identitas kepada orang lain karena bisa dipakai untuk tindak kejahatan dan akibatnya kita sendiri yang akan dirugikan. Erlin Ernawati Anisyah Jl Beruang Raya I/40 B, Semarang *** Uang Angsuran Ditilep Teman saya 8 Agustus 2006 mengajukan kredit motor Yamaha Jupiter-Z CW di Mataram Sakti Blora dengan membayar uang muka sekaligus 2 angsuran untuk September dan Oktober. Uang dititipkan ke dealer tapi 16 September 2006 ada debt collector menagih angsuran bulan September. Ternyata setelah ditelusuri uang angsuran ditilep kepala dealernya. Saat ditagih, dia hanya bisa bayar 1 angsuran saja (September 2006), itupun terlambat 10 hari. Masalah ini sudah disampaikan ke Mataram Sakti Semarang tetapi belum ada kelanjutannya. Kalau hal seperti ini dibiarkan, apa tidak merusak citra perusahaan tersebut. Mohon manajemen lebih selektif agar tidak ada lagi konsumen yang dirugikan. Agus Honi Purnomo Jl Cendana 27 Mlangsen, Blora *** Mari Tolong Sesama Sebagai insan yang diberi ilmu untuk menolong sesama khususnya pengidap penyakit berat seperti kanker, stroke, lumpuh, impotensi, juga pecandu narkoba, saya kadang merasa sulit mendapatkan ramuannya. Selama ini saya harus mencari di pedalaman Kalimantan dan daerah lain dengan keterbatasan dana. Untuk itu saya mengetuk dermawan untuk mengamalkan sebagian hartanya baik uang maupun tanah yang akan saya pakai membeli bahan ramuan obat serta membantu yatim piatu dari sebagian hasil pengobatan. Hibah tanah untuk rehabilitasi pecandu narkoba. Saya telah menyembuhkan banyak pasien yang datang atau saat pengobatan massal di berbagai kota termasuk ke Malaysia dan Singapura. Bahkan sering diminta mengisi acara pengobatan jarak jauh di TVRI, TV Borobudur, TV3 Malaysia dan media cetak. Silakan kirim ke rekening Bank Lippo Sultan Agung Semarang a.n Widodo No 661 10 06207 6, Bank Mandiri KCP Semarang Candi Baru a. Widodo No 136 00 0480170 7, Bank Danamon Ungaran Gatsu a.n Dian WK No 594 20711, atau ke Jl Purna Karya IV/5 Perumda Ungaran, 0815 6518 279/024-70771408. Widodo Jl Merpati III/12, Ungaran *** Mengapa Tidak? Poligami masih menjadi pro dan kontra di masyarakat. Sebenarnya apa sih yang dipermasalahkan. Banyak orang berpendapat laki-laki berpoligami adalah "buaya darat" dan wanita yang diduakan adalah yang "mau dibohongi". Apakah begitu? Sebenarnya kita harus meninjau kembali fakta yang ada. Secara logika, jumlah wanita banding laki-laki 1 : 3. Seandainya tidak ada poligami bagaimana nasib 2/3 wanita yang lain dan bagaimana jika kita termasuk yang 2/3 itu. Kita juga harus berpikir mengapa kasus perselingkuhan kian marak, PSK makin bertambah dan aborsi merajalela. Ketika zaman mulai membebaskan manusia (terutama wanita) untuk berpakaian atau tidak, "naluri" laki-laki yang bicara. Perselingkuhan dan "jajan" menjadi alternatif kedua bagi para suarni. Biasanya dampak semua itu jika ingin "cuci tangan" maka wajib hukumnya melakukan mengaborsi. Jika begitu, bukankah poligami lebih baik daripada semua kasus? Bukankah Allah yang menciptakan manasia lebih mengetahui karakteristik ciptaan-Nya ketimbang ciptaan itu sendiri? Jika Allah memperbolehkan poligami bagi yang mampu, mengapa tidak? Depy S. Wulandari Jl Tambra Dlm Utara Rt 7/Rw 9, Semarang *** Melawan Kekerasan Aksi kekerasan yang tampil di layar kaca dan telah menjadi raja di ruang keluarga makin hari makin meremas hati. Ibarat menu makanan aksi kekerasan terhidang dalam berbagai ragam sajian. Ada yang terang-terangan dalam baku hantam penuh ceceran darah, daging tercerai-berai hingga usus pun terburai baik lewat berita aktual maupun kisah sinema. Ada yang teramu dalam gerak animasi dan para komedian yang melecut saraf kelucuan hingga bahak tawa membahana. Tak kalah ganasnya, kekerasan pemaksaan atau infiltrasi paham dan ideologi dalam wajah menawan para pesohor teve. Masak sih kita rela semua itu menjadi sahabat sehari-hari bagi anak-anak?. Masih sempatkah mereka menagih dongeng sebelum tidur setelah penat terpaku berjam-jam menatap layar? Berapa banyak di antara mereka yang secara sukarela memilih membaca buku. Tak perlu ingkar mengakui bahwa akhirnya mereka tumbuh menjadi generasi miskin tata krama, unggah-ungguh dan budi pekerti. Betapa mereka kini berkembang menjadi sosok yang gampang meledak, susah diatur dan mau menang sendiri. Kekerasan yang terekam terus-menerus membuat jiwanya kering dan pasif. Sejatinya anak-anak adalah air jernih yang gampang berubah keruh jika kita membiarkan mereka menelan apa pun yang disodorkan kepadanya. Filter bagi mereka adalah kebijakan para orang tua, mau atau tidak mendampingi sebelum semuanya terlambat. Salah satu tips melawan kekerasan yang hilir-mudik di sekitar mereka adalah dengan kelembutan dan kasih sayang tulus. Mari beri mereka pelukan hangat dalam lingkaran dongeng menawan. Atau fabel yang menggemaskan, cerita rakyat yang memikat, ataupun kisah kepahlawanan yang mengagumkan. Betapa damainya menggandeng tangan mereka menjelajahi belahan dunia ini dengan syair-syair syahdu yang melembutkan hati dan merindangkan sanubari. Indra Ari Bakalrejo Rt 5/Rw I Guntur, Demak *** RUU Kebahasaan Pertanyaan itulah yang sedang hangat dibicarakan oleh para ahli bahasa, dosen bahasa dan para mahasiswa peduli bahasa. Mengapa harus diterbitkan RUU Kebahasaan. Permasalahan yang akan timbul, mungkinkah bisa direalisasikan secepat ini. Siapkah seluruh sivitas menerima RUU tersebut. Mungkin bagi masyarakat awam belum mengenalnya, hanya kelompok tertentu saja yang mengetahui. Saya tanya kepada para pemerhati bahasa bagaimana pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar di media elektronik (teve). Pada acara hiburan, seperti sinetron rencananya akan dibentuk editor bahasa. Menurut saya, semua itu tidak mungkin jika diterapkan dalam acara hiburan. Tujuan utama sinetron untuk menghibur. Mungkinkah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebab apa tidak menjenuhkan. Ini bukan acara formal, jadi pasti kaku, menjenuhkan dan kebosanan penikmat akan tinggi. RUU Kebahasaan haruslah dibenahi terlebih dulu, jika akan disebarluaskan ke kalangan umum. Jangan sampai menjadi sampah yang begitu saja diabaikan. Deni Setiawan Mahasiswa Unnes Semarang |