logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Desember 2006 NASIONAL
Line

Transmigran Asal Jateng (2-Habis)

Mampu Biayai Sekolah Anak sampai Sarjana

Daerah transmigrasi, ternyata tidak seseram apa yang dibayangkan. Lokasi itu tidak identik dengan hutan belantara, tanah rawa, semak belukar dan binatang buas. Bila Anda berkunjung ke Kalimantan Selatan, coba saja melihat ke Desa Karangindah, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala.

Desa yang dihuni transmigran, yang sebagian berasal dari Kabupaten Sragen itu, kini telah menjadi Desa Agropolitan atau kota pertanian. Tak heran bila banyak pejabat daerah setempat maupun pusat kerap mengunjungi desa itu dalam kurun waktu tertentu. Desa itu kini gemah ripah loh jinawi, jauh dari kesan angker yang serba menakutkan.

Itu semua tidak lepas dari sentuhan tangan-tangan terampil dan keuletan para transmigran asal Jateng. Hampir semua sawah dan ladang mereka yang semula masam dan tidak subur, menjadi lahan produktif. Kesejahteraan mereka pun terangkat.

''Warga di sini rata-rata makmur, setiap keluarga mempunyai dua motor. Bahkan ada yang sudah punya mobil. Itu semua dari hasil pertanian,'' tutur Samidi (33), carik desa setempat yang merupakan putra transmigran.

Menurut Samidi, 46 keluarga transmigran asal Sragen ditempatkan di Desa Karangindah sejak 1983. Hingga kini, jumlah mereka menjadi lebih dari 80 keluarga.

Mulanya, lokasi penempatan yang didiami masih liar. Sebagian besar lahan dipenuhi pepohonan galam dan semak belukar. ''Kami menggunakan alat seadanya untuk menebangi pepohonan di hutan. Untuk mencabuti rerumputan liar mengakar di tanah rawa, kami menggunakan tajak (sabit tradisional suku Banjar berbentuk sabit dengan tangkai yang panjang-Red),'' kata Samidi, berkisah.

Untuk mempersiapkan lahan menjadi siap olah, mereka membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Waktu dua bulan hanya untuk menggarap lahan satu orang yang luasnya sekitar 1 hektare. Setelah itu, tanah diolah menggunakan kapur dan pupuk kandang agar subur. Untuk menjadikan lahan siap olah menjadi siap tanam, membutuhkan waktu 5 tahun.

Menikmati Hidup

Ratno Winarso (58), transmigran asal Sragen lainnya, merupakan salah satu petani berhasil di Kalimantan Selatan. Berkat kerja kerasnya dia pernah mewakili provinsi itu mengikuti lomba petani teladan. Hasil panennya jauh lebih banyak ketimbang teman-teman seangkatannya yakni Rp 48 juta tiap panen raya.

''Padi dan jeruk kami sekarang sudah panen beberapa kali. Dalam panen raya setiap tahunnya, keuntungan kotor kami rata-rata mencapai Rp 48 juta. Kalau bersih kira-kira Rp 35 jutaan,'' kata dia. Mantan lurah itu mengaku, berkat kerja kerasnya, dia mampu mengantarkan anak bungsunya menjadi sarjana dan anak sulungnya menjadi seorang guru di Banjarmasin.

Kasi Informasi Disnakertrans Provinsi Jateng, Ir Agus Triyono MM merasa puas terhadap prestasi transmigran asal Jateng yang sukses. Mengantisipasi kegagalan transmigran, dia berencana menerapkan mekanisme yang ketat dalam rekrutmen. Bila perlu, dia akan memprogramkan bagi transmigran baru berkunjung ke transmigran lama yang berhasil. (Karyadi-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA