| Rabu, 27 Desember 2006 | NASIONAL |
kisah Kedatangan Zaenal Ma'arif ke Kantor Istri Pertama"Biar Bapak yang Jelaskan ke Teman-teman"
Wakil Ketua DPR RI Zaenal Ma'arif kemarin menemui istri pertamanya di Solo, tepatnya di kantor Bappeda. Apa yang dilakukan Zaenal di sana setelah pernikahan keduanya dengan, RA Yenni Natalia Lodewijk? Berikut laporannya. MESKI berusaha untuk selalu tersenyum, Siti Rohanah SH MM, istri pertama Wakil Ketua DPR RI Zaenal Ma'arif terlihat tak bisa menahan kekecewaannya. Lihatlah ketika dia dimintai komentar tentang istri kedua pria yang telah memberikan tiga putra itu. ''Sampai sekarang dia belum berani bertemu dengan saya. Mungkin belum berani, atau apalah saya tidak tahu,'' kata dia seusai menemui wali kota di Balai Kota Surakarta, kemarin. Saat mengungkapkan pernyataan itu, perempuan yang menjadi Kabid Penyusunan Program Bappeda Surakarta itu juga didampingi ketiga putranya, masing-masing Iqbal Al Banna, Ahmad Faisal dan Haki Pasarela serta Zaenal tentunya. ''Saya yang meminta Bapak datang sendiri ke kantor, biar beliau sendiri yang menjelaskan pernikahannya kepada teman-teman saya. Saya sudah capek kalau harus terus menjawab satu persatu pertanyaan yang datang ke saya,'' kata dia. Begitu datang sekitar pukul 09.00 kemarin, politikus dari PBR itu langsung menuju kantor Bappeda. Didampingi ketiga anaknya, yang masing-masing masih belajar di FH Undip Semarang, FT UGM Yogyakarta dan SMA N 1 Surakarta itu, dia langsung beramah tamah dengan PNS di sana. Sayang pintu kantor langsung ditutup, sehingga tidak bisa diketahui apa saja yang terjadi di dalam. Istri kedua yang baru dinikahinya Jumat (22/12) lalu, RA Yenni Natalia Lodewijk tidak diajak serta. Seperti diwartakan harian ini, semula wanita blasteran Sunda - Belanda itu akan diajak serta. Sementara itu Imron Rosyid, membantah sebagai juru bicara Zaenal. Dia hanya menginformasikan rencana kedatangan pengajar UMS itu ke Solo untuk menemui istri tuanya. (SM, Selasa 26/12) Apakah Rohanah sudah bisa menerima pernikahan sang suami? ''Ini bukan masalah ikhlas atau tidak. Saya memandangnya sebagai satu fase kehidupan yang harus saya lalui. Semuanya saya pasrahkan pada Allah SWT. Barangkali dengan ini Allah akan mengangkat derajat kami.'' Dia juga menyatakan, masih banyak urusan yang lebih besar yang harus diselesaikan, selain tugas kantor. ''Selain anak-anak saya, masih ada 40 anak yatim yang harus saya urus.'' Komentar Anak Lalu bagaimana dengan ketiga anaknya? Saat dimintai komentar, ketiganya hanya diam. Namun saat diminta sang ayah, salah seorang anaknya, Ahmad Faisal akhirnya menjawab,'' Kalau Mama sudah ikhlas, kenapa kami harus tidak ikhlas? Tentunya kami akan terus mendukung Mama,'' katanya, seolah memberikan kekuatan tersendiri bagi sang ibu. Pernikahan kedua Zaenal, diakui sangat mengagetkannya. Sebab dari guyonan yang acap disampaikan, ayahnya tidak pernah menyebut nama perempuan usia 45 tahun yang kini dinikahi untuk kali kedua itu. ''Saya juga kaget, kok justru nama yang tidak pernah disebutnya. Memang sebelumnya Bapak pernah bercanda masalah poligami. Tapi saya tidak melihat ada keseriusan di balik itu.'' Kali pertama Rohanah mengetahui pernikahan kedua suaminya, justru dari teman-teman sekantornya, Jumat (22/12) lalu ketika memimpin rapat stafnya. Usai rapat, perempuan usia 44 tahun itu kaget saat dipeluk teman-teman putri sambil mengungkapkan perasaan simpati. Kepada wartawan, Rohanah hanya meminta untuk menjaga perasaan sang ibu yang kini tinggal di Jepara. ''Saya hanya minta agar berita ini tidak membuat ibu saya bersedih.'' Menurut rencana, Zaenal akan meneruskan silaturahmi ke UMS, tempatnya mengajar sebelum terjun ke dunia politik. Setelah itu, dia akan menuju Jepara, kediaman orang tua istri pertama. Sementara setelah dari Bappeda, Zaenal bersama istri dan ketiga anaknya bersilaturahmi dengan Wali Kota Joko Widodo. Lalu kapan akan mempertemukan istri pertama dengan istri kedua? ''Kami punya keluarga, anak-anak kami masing-masing. Perlu ada pemahaman terlebih dahulu sebelum bertemu,'' kata Rohanah. Dia mengaku menerima banyak simpati atas kejadian yang menimpanya, meski terkadang nasihat yang diberikan sempat membuatnya merinding. ''Ada teman saya bilang begini, kalau untuk menenangkan hati, kamu bisa pergi ke luar negeri. Kalau masalah seks, kamu bisa cari gigolo. Astaghfirullah, kalau itu jelas perbuatan maksiat tidak akan kami lakukan.'' Zaenal menyesalkan penilaian sebagian kalangan yang seolah-olah menyamakan poligami dengan gerakan PKI atau terorisme. Apalagi kemudian mengaitkannya dengan isu politik seperti recall. ''Saya heran, seolah-olah orang yang poligami itu seperti teroris. Padahal tidak dibenarkan mengharamkan sesuatu yang halal, atau sebaliknya, menghalalkan sesuatu yang haram. Kalau saya salah, saya tahu diri. Dan ini konsekuensi sebagai seorang politikus.'' (Anie R Rosyidah-41) | ||||