logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Desember 2006 NASIONAL
Line

Anggota DPR Cap Jempol Darah

  • Perajin Jamu Akan Dipertemukan Charles

SM/Khoerudin Islam CAP JEMPOL: Sejumlah buruh dan pengusaha jamu Gentasari, Kroya, Cilacap membubuhkan cap jempol darah, Selasa (26/12). (57)

CILACAP-Anggota Komisi IX DPR RI M Djunaedi mengejutkan buruh dan pengusaha jamu tradisional Cilacap, kemarin. Dia menyatakan akan melakukan cap jempol darah untuk mendukung kelangsungan hidup buruh dan industri jamu itu.

Djunaedi bersama Max Sopacua menghadiri apel akbar dengan terbuka bersama ribuan buruh dan pengusaha jamu tradisional di lapangan Desa Gentasari, Kroya, Cilacap. Kegiatan itu dihadiri Badan POM Pusat, Balai POM Jateng dan sejumlah anggota DPRD Cilacap.

Atraksi spontan anggota Fraksi PAN itu muncul ketika diberi kesempatan untuk berbicara di atas panggung kehormatan. Tiba-tiba Djunaedi berteriak, ''Bawa spanduk putih itu ke sini, saya akan bersama-sama dengan kalian melakukan cap jempol darah,''katanya yang disambut tepuk tangan riuh para buruh.

Dia melanjutkan kata-katanya, ''Saya akan tetap berada di belakang kalian dari tekanan dan intimidasi para kapitalis. Kalian para buruh harus dilindungi, saya akan selalu berada di belakang saudara,'' tegasnya.

Keberanian Djunaedi melakukan cap jempol darah kemudian diikuti para pengusaha jamu seperti Tridianto dan Kholipan serta sejumlah anggota DPRD Cilacap. Max Sopacua yang diminta untuk ikut melakukan aksi cap jempol darah tidak memberikan reaksi.

Max mengatakan, tidak ada yang bisa menekan buruh dan pengusaha jamu Cilacap. ''Orang yang namanya Charles Saerang juga tidak boleh menekan kalian. Industri jamu terbukti memberikan lapangan pekerjaan, keberadaan kalian harus didukung,''jelasnya.

Untuk kelangsungan hidup industri jamu tradisional ini, menurut Max dia dan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional Ditjen POM Ruslan Apan sepakat untuk melakukan pembinaan berlanjut terhadap pengusaha jamu Cilacap.

Kampanye negatif terhadap industri jamu Cilacap memang harus dihentikan. Untuk mempertemuan GP Jamu kelompok Charles Saerang dan pengusaha jamu Cilacap, Max berjanji akan mengundang mereka ke Komisi IX DP RI.

''Charles Saerang dan kalian akan kami pertemukan untuk berbicara dengan kami, akan dikemanakan industri jamu ini,''jelasnya.

Menurut Ruslan Apan tidak benar bila Ditjen POM akan menutup industri jamu Cilacap dan Banyumas. Bila ditemui ada jamu yang tidak sesuai dengan kandungannya dan mengandung obat bahan kimia maka jamu itu diumumkan untuk ditarik dari peredaran.

Tujuan pengumunan jamu berbahan obat kimia itu untuk melindungi masyarakat dan pengusaha jamu itu sendiri. Industri jamu Cilacap sudah lama berkembang dan perlu pembinaan terus menerus agar tetap hidup, di sisi lain konsumen juga harus dilindungi dari jamu yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

Ketua Kopja Aneka Sari Yahya Karomi mengatakan kampanye negatif GP Jamu kelompok Chaerles Saerang terbukti telah mematikan industri jamu Cilacap. Distributor tidak berani mengambil jamu produksi Banyumas dan Cilacap dan ingi sangat merugikan buruh.

Dalam dialog terbuka, seorang buruh jamu bernama Ny Khadiroh mengatakan, perajin jamu yang masih kecil-kecil belakangan ini resah karena sering digrebek polisi saat meracik jamu. ''Setelah digrebeg orangnya dibawa ke kantor polisi dan disuruh menebus jutaan rupiah. Praktik seperti itu sampai saat ini masih terus berlangsung,'' katanya yang disambut riuh teman-temannya.

Buruh ini meminta, bila nanti ada pertemuan di Komisi IX antara Charles Saerang dengan perajin jamu Cilacap harus ada tindak lanjutnya.''Perajin jamu harus boleh berproduksi kembali, kalau perlu dibuat perjanjian di atas materai,''ujarnya.

Meracik jamu, dalam pandangan Ny Khadiroh tak ubahnya seorang wanita yang tengah memasak sayur.''Jika sayur itu tidak diberi micin penyedap rasa, maka sayuran itu tidak akan enak,''ungkapnya.

Dialog terbuka yang dilakukan di lapangan Desa Gentasari Kecamatan Kroya itu diikuti sekitar sepuluh ribu masyarakat jamu. Mereka membawa puluhan poster yang mencela tindakan Charles Saerang, yang dinilai melakukan kampanye busuk terhadap jamu tradisional Cilacap.(in,P16-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA