logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 27 Desember 2006 KEDU & DIY
Line

Siang Talut Dibangun, Malamnya Ambrol

PURWOREJO-Hujan lebat yang mengguyur Purworejo sejak beberapa hari terakhir ini menyebabkan terjadinya bencana tanah longsor. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, tanah longsor terjadi di wilayah Kecamatan Kaligesing, Bruno, dan Purworejo.

Di Katerban, Donorejo, Kaligesing, akibat longsor, batu berukuran cukup besar menggelinding dan menimpa dapur rumah Yatman (44). Akibatnya bangunan dapur seisinya hancur dengan kerugian sekitar Rp 5 juta. Peristiwa itu terjadi Sabtu malam (23/12).

Peristiwa itu diperkirakan merupakan ekses dari gempa tektonik yang terjadi 27 Mei lalu. Batu yang semula sudah retak lantas terlepas dari tempatnya semula setelah diguyur hujan lebat. Masyarakat Donorejo mengharap pemerintah agar batu besar di puncak bukit Gunung Kelir yang juga sudah retak hendaknya segera ditangani secara serius agar tidak menimpa ratusan warga di bawahnya.

Di Brondong, Kecamatan Bruno, juga terjadi tanah longsor menimpa rumah Muh Basir (50), hingga rumahnya rusak. Di Desa Watuduwur, Bruno, rumah milik Mansur (39) rusak berat akibat tanah longsor. Di Desa Giyombong, Bruno, rumah Sumanto (42) roboh akibat terdorong longsoran tanah.

Menurut kepala Kesbang Linmas, Drs Sunarto, Bupati H Kelik Sumrahadi kemarin memberikan bantuan kepada tiga pemilik rumah yang rusak. Masing-masing berupa uang Rp 750 ribu, 50 kilogram beras, kain sarung, serta selimut. Sementara itu bantuan kepada warga Kaligesing yang rumahnya tertimpa batu belum diserahkan.

Selain beberapa musibah tersebut, talut di dekat jembatan Jambul, Kali Gopit, di RT 2, RW 1, Desa Brenggong, Purworejo, ambrol total, Sabtu malam (23/12). Padahal bangunan senilai Rp 33,2 juta dengan tinggi sekitar 4 meter dan panjang sekitar 25 meter itu tergolong masih baru. Menurut Kades setempat, Mulyanto, Sabtu pagi (23/12) bagian dalam talut tersebut diuruk dengan campuran pasir dan batu, ternyata Sabtu malamnya ambrol.

Menurut perkiraan dia, bisa terjadi demikian lantaran bangunan talutnya masih basah langsung dibebani urukan dalam jumlah banyak. Akibatnya seperti terdorong ke arah sungai. Kecuali itu, dalam proposal semula digambar bahwa tinggi bangunan talut hanya dua meter ternyata dibangun sekitar empat meter.

Ketua DPRD Angko Setyarso Widodo yang kemarin meninjau talut yang hancur itu berharap hendaknya masyarakat memanfaatkan anggaran bantuan pemerintah sebaik mungkin. Untuk pembangunan yang berkaitan dengan teknis harus ada petugas teknis.(yon-39)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA